Ayat Hari Ini:

Monday, February 19, 2007

I did it HIS Way

"And now, as tears subside, I find it all so amusing..."
"To think, I did all that, and may I say, not in a shy way"
"Oh no, oh no not me, I did it my way"


Pernah baca atau denger lagu ini? Ditulis oleh Paul Anka ke dalam bahasa Inggris dari versi aslinya bahasa Perancis Comme d'habitude. Kemudian lagu ini menjadi sangat populer melalui Frank Sinatra. Lagu ini bercerita tentang seorang pria yang sudah mendekati kematian dan mulai evaluasi hidupnya yang diceritakan kepada sahabatnya. Dan dengan bangga dia menceritakan semuanya.. Bagaimana dengan saya? Banggakah saya dengan 'my way' pada saat menjelang kematian? What about you my friend? Are you in the correct way?

8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Yes 55:8-9

11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yeremia 29:11


Siapapun manusia karena kejatuhan dalam dosa membuat kita tidak ingin melibatkan Tuhan dalam rencana, rancangan dan jalan-jalan kita. Kecuali ketika kita melihat rancangan kita sangat sulit untuk terjadi, ataupun hidup kita ini selalu gagal, maka kita biasanya berpaling kepada Tuhan untuk meminta Dia menggenapi rencana kita dan membuat kita berhasil.

Banyak orang mengatakan ingin mencari dan melakukan kehendak Allah. Sebenarnya hanya ingin memanfaatkan Allah untuk melakukan kebaikan baginya. Sangat sedikit orang-orang yang ingin melakukan kehendak Allah apalagi sampai harus mengorbankan dirinya sendiri.. Dalam agama-agama, sebagian orang yang mengorbankan diri sendiri, biasanya motivasinya sangat egois. Seolah-olah ingin berkorban bagi Allah, tapi ada iming2 kenikmatan dan kebahagiaan atau balasan dan upah yg lebih yang bisa didapatkan sesudah berkorban.

Dalam Alkitab, kalau melihat contoh-contoh yang benar, biasanya jauh berbeda dengan praktek-praktek yang sangat egois yang dilakukan oleh sebagian orang Kristen. Alkitab bicara tentang anugerah, semuanya sudah disediakan dan diberikan kepada kita (already), tapi dalam kesementaraan masih harus menunggu kegenapannya (not yet). Kehendak ALlah yang diberikan kepada manusia, semuanya yg diperlukan oleh manusia sudah dibukakan kepada manusia dalam Alkitab. Prinsip-prinsip dan nubuat2 yang pasti akan terjadi pada waktunya. Tapi, banyak orang Kristen tidak/belum bisa melihat hal ini. Lebih banyak menginginkan kehendak Allah yang tersembunyi, yang mungkin tidak akan dibukakan ataupun yang belum waktunya dibukakan.
Maka ketika berdoa dan meminta sesuatu, biasanya memaksakan keinginan dan kehendak, bahkan 'memaksa' Allah untuk melakukan dan memenuhinya. Bukannya berusaha melihat bagaimana cara Allah bekerja, prinsip2Nya dan menunggu apa yang sudah ditetapkan akan digenapi dan hidup dalam rencana yang digenapi. Dengan memaksa kita membawa rancangan2 kita, jalan-jalan kita, yang dalam sepanjang sejarah dan kalau kita membandingkan dengan Alkitab, sebenarnya jelas2 jauh, sangat berbeda dan bahkan bertentangan dengan rancangan dan jalan2 Allah. Sebagian orang Kristen sesudah menyatakan keinginan dan rancangannya, menutupnya dengan doa Tuhan Yesus, "bukan kehendakku, tapi kehendakMulah yang jadi" Kelihatannya sangat rohani, padahal mungkin tidak mengerti maksud doa Tuhan Yesus.
Doa Tuhan Yesus dalam Luk 22:42, bukan dalam pengertian Kristus tidak mengetahui kehendak Bapa. Tuhan Yesus mengetahui kehendak Bapa, tapi Dia tetap menyatakan keinginanNya untuk mengajarkan kepada kita bagaimana keinginan dan kehendak kita seharusnya tunduk kepada kehendak Bapa. Tapi, sebagian orang yang berdoa seperti doa Tuhan Yesus, tidak tahu kehendak Bapa, dan hanya menutup doanya dengan kalimat itu untuk menunjukkan bahwa mereka tidak memaksa kepada Bapa. Sesudah selesai berdoa tetap tidak tahu kehendak Bapa dan tidak ada perubahan dalam kehendaknya apalagi ingin melakukan kehendak Bapa.. Ah.. terlalu jauh dari kebenaran, dan lebih dekat dengan kemunafikan..

Firman Tuhan, rancangan dan jalanNya jauh sekali berbeda dari rencana dan jalan kita. Bukan hanya itu, tapi rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera (syalom), bukan kejahatan dan memberikan hari depan yang penuh harapan.
Maka, kalau hidup kita penuh dengan segala kejahatan, sebagian besar berasal dan akibat dari rancangan2 kita sendiri, di tambah dengan pekerjaan iblis dan pengikutnya dalam dunia yg berdosa ini.

Sebagian orang Kristen menafsirkan Yer 29:11, sebagai janji Tuhan bahwa dibalik segala kesulitan, bencana dan masalah, Tuhan akan memberikan hari depan yg lebih baik. Tapi, ternyata banyak orang Kristen yang tetap hidup dalam kesulitan, bencana dan musibah terus-menerus sampai mati. Kapan masa depannya? Dan mana masa depan yang penuh harapan?
Kata yang dipake dalam bahasa Ibrani untuk masa depan adalah 'achariyth {akh-ar-eeth'}. Kata ini sebenarnya bisa menunjuk kepada akhir zaman ataupun kepada kekekalan. Maka, seharusnya masa depan bukan di dalam bentuk kesementaraan. Karena pada akhirnya, semua yang kita pikir tentang masa depan adalah masa lalu pada saat kita akan mati. Contohnya: dari kecil/muda banyak orang berpikir tentang masa depan. Tetapi sesudah menjadi tua, tahun-tahun yang dipikirkan sebagai masa depan semuanya menjadi masa lalu. Dan kapan masa depan bagi orang-orang tua dan orang yang akan segera mati? Jawabannya pasti bukan dalam kesementaraan ini. masa depan yang sesungguhnya adalah kekekalan. Masa depan yang penuh harapan.
Tuhan sudah merancang semuanya bagi orang-orang pilihanNya, kalau kita mengerti, maka keadaan yang tersulit dalam hidup kita tidak akan mengubah dan menghilangkan damai sejahtera yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Karena mata yang memandang kepada pengharapan kekekalan tidak bisa ditipu oleh fenomena kesementaraan, yang hari ini ada dan berlimpah, tapi besok bisa hilang dan menguap, karena banjir, gempa, tsunami, angin topan (dan bencana alam lainnya). Semasa jaya kita akan dapat semuanya, tapi ada waktunya kita akan kehilangan satu demi satu dan akhirnya kehilangan semuanya. Apapun itu. Orang-orang yang kita kasihi, keluarga, pekerjaan, jabatan dan kedudukan kita, materi dan benda-benda yang kita kasihi, lingkungan kita, apapun yang bisa kita pikirkan, kecuali kasih Tuhan dan Tuhan sendiri tidak akan pernah hilang dalam hidup kita (Rom 8:31-39). Itu sebabnya damai sejahtera tidak akan pernah hilang dalam rancangan Tuhan bagi kita.
Pertanyaannya, are you in His way? Have you done His way?
Kalau ada kesempatan untuk menyanyikan sebuah lagu sebelum mati (tentu saja saya pengen nyanyi banyak lagu:), salah satu yang akan dipilih adalah My Way), maka saya akan menyanyikan lagu ini, dengan sedikit perubahan:

"And now, as tears subside, I find it all so amusing..."
"To think, I did all that, and may I say, not in a shy way"
"Oh no, oh no not me, I did it HIS way"


Kotbah yang berhubungan dengan tema di atas. Download Kotbah

0 Komentar:

Post a Comment