Ayat Hari Ini:

Thursday, March 1, 2007

Have I Told You Lately that I Love You?

Lagi lihat kembali tulisannya Bernard of Clairvaux (1090-1153), salah seorang tokoh Medieval. Meskipun penekanannya pada 'Virgin Mary' (lihat di sini) tidak bisa saya setujui, tapi tulisannya tentang 'mengasihi Allah' dalam ON LOVING GOD (baca, dengar, download gratis) sangat menarik untuk dibahas. Bernard membagi dalam Empat tahap mengasihi Allah (Saya sering pake juga untuk menggambarkan dalam mengasihi manusia). Tulisan Bernard ini sangat baik untuk mengevaluasi, apakah kita benar-benar mengasihi Allah dan manusia.

37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mat 22:37-39

Bernard menulis keempat tahap ini dalam 3 bab, dari bab 8 sampai bab 10. Saya sedikit mengutip dan menanggapinya.
1. Of the first degree of love: wherein man loves God for self’s sake(Ch. VIII)
"In such wise man, animal and carnal by nature, and loving only himself, begins to love God by reason of that very self-love; since he learns that in God he can accomplish all things that are good, and that without God he can do nothing."
Manusia biasanya mulai mengasihi Allah karena mengasihi dirinya sendiri. Membutuhkan sesuatu dari Tuhan, makanya datang kepada Allah dan mengasihiNya. Anehnya, Allah juga sering memberikan apa yang kita butuhkan dan kita minta. Menurut saya, kebanyakan orang-orang yang sedang berada dalam kesulitan dan membutuhkan Tuhan biasanya memiliki kasih seperti ini. Banyak orang rajin untuk berdoa dan mengatakan mengasihi Allah, padahal sebenarnya hanya mengasihi berkat2 Allah dan butuh itu saja. Ujung-ujungnya sebenarnya mengasihi diri sendiri. Bisa dilihat pada banyak contoh orang yang datang ke Persekutuan Doa. Begitu lagi banyak masalah dan butuh sesuatu, rajin ikut PD dan PA, bahkan kalu bisa acara apapun ikut. Tetapi, begitu sudah dapat jawaban (baik iya maupun tidak jawabannya), maka semangatpun mulai luntur dan lama-kelamaan jarang muncul di PA dan PD. Maaf, ini bukan nuduh semua begitu. Hanya analisa doang dan melihat kenyataan..Bagaimana kalau hidup ini terus-menerus jauh dari berkat-berkat Tuhan yang terus kita inginkan dan kita minta? Masihkah kita mengasihi Allah?

2. The second degree of love: because we have tasted and seen how gracious the Lord is (Ch. IX)
Tahap kedua ini adalah tahap peralihan dari tahap pertama ke tahap ketiga. Itu sebabnya Bernard menulisnya dalam satu bab. Biasanya ini dialami oleh orang-orang yang sudah mengalami betapa baiknya Tuhan. Dasar mengasihi Allah, karena kebaikan-kebaikan dan berkat-berkat yang tiada habis-habisnya. Selalu baru setiap pagi. Great is Thy Faithfulness..Tapi, kasih seperti inipun ada nuansa egois. Bagaimana kalau kita tidak bisa melihat berkat-berkat dan kebaikan Tuhan dalam hidup ini? Tuhan sih akan tetap baik dan terus memberikan berkat, tapi ga tentu kita bisa melihat seperti Tuhan melihatnya. Misalnya, suatu saat kita akan berhadapan dengan hidup yang sulit, penuh dengan masalah, relasi dengan orang2 yang kita kasihi, keluarga, teman, rekan kerja; mengalami bencana alam; kehilangan orang-orang yang kita kasihi; mengalami penyakit yang membuat kita tak berdaya; kehilangan anggota tubuh kita; disiksa dan dianiaya...., dll.. (silahkan isi dan bayangin sendiri). Masihkah kita akan tetap berkata, "Aku mengasihi Engkau, Allahku yang Baik!"
Kalau kita tetap bisa mengasihi Allah, maka kita masuk ke tahap ketiga.

3. The third degree of love is to love God on His own account, solely because He is God. (Ch. IX)
"...Such love is thankworthy, since it is spontaneous; pure, since it is shown not in word nor tongue, but in deed and truth... Whosoever praises God for His essential goodness, and not merely because of the benefits He has bestowed, does really love God for God’s sake, and not selfishly..."
Tahap ketiga ini baru masuk ke dalam tahap kasih yang murni. Kasih yang bukan lagi berpusat pada diri sendiri, tapi berpusat kepada Allah. Kasih yang bukan berpusat pada pengalaman-pengalaman kita yang penafsirannya suka salah, tapi kasih yang berpusat pada kebenaran Firman yang memimpin dan menerangi pengalaman-pengalaman kita. Kasih ini melihat kepada pribadi dan keberadaan Allah dalam firmanNya. Kasih seperti ini tidak dipengaruhi oleh keadaan yang terus-menerus berubah, tapi berdasarkan kepada iman kepada Allah yang tidak berubah seperti yang ada dalam firmanNya yang kekal.
Kalau sudah berada di dalam tahap ini, masih adakah tahap yang lebih tinggi?

4. Of the fourth degree of love: wherein man does not even love self save for God's sake (Ch. X)
"...How blessed is he who reaches the fourth degree of love, wherein one loves himself only in God!...And real happiness will come, not in gratifying our desires or in gaining transient pleasures, but in accomplishing God’s will for us...To reach this state is to become godlike. As a drop of water poured into wine loses itself, and takes the color and savor of wine; or as a bar of iron, heated red-hot, becomes like fire itself, forgetting its own nature; or as the air, radiant with sun-beams, seems not so much to be illuminated as to be light itself; so in the saints all human affections melt away by some unspeakable transmutation into the will of God..."
Kasih seperti ini ditunjukkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Kasih yang sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh manusia, tapi mungkin dengan anugerah Kristus bagi para pengikutNya. Kasih yang bahkan rela berkorban demi untuk mengasihi Allah. Kasih yang betul-betul merindukan kehendak Allah digenapi setiap saat. Kasih yang bukan mengeluarkan kalimat klise "bukan kehendakku tapi kehendakMu yang jadi", yang dikutip oleh orang2 yang tidak tahu kehendak Allah dan kebanyakan sebenarnya tidak mau tahu kehendak Allah, tapi memakai kalimat itu hanya untuk menunjukkan bahwa dia tidak memaksa Allah. Kasih kepada Allah seperti ini, kebanyakan akan dianggap bodoh, aneh dan sulit dimengerti, tapi juga dikagumi. Kasih ini bukan datang dengan tiba-tiba, tapi kasih yang bertumbuh karena pengenalan yang benar terhadap Allah dan kasih yang dianugerahkan dan dipelajari dari Kristus..

Setiap kali, saya baca lagi dan melihat tulisan Bernard ini, membuat saya selalu bertanya, "When will I really love YOU, GOD?". Karena kenyataan dalam hidup ini, meskipun tahu Allah yang harus menjadi pusat, seringkali dalam hidup sehari-hari menjadi berbeda.
Kalau sekali lagi saya mengatakan saya mengasihi Allah, kasih di dalam tahap yang mana yang saya maksudkan? Sebelum saya mati dan bertemu dengan Tuhan, akankah saya mengatakan, 'Have I told You lately that I LOVE YOU'? On which degree of love, my love to God?
What about you, my friend?


Have I told YOU lately that I love YOU
Have I told YOU there's no one else above YOU
Fill my heart with gladness
Take away all my sadness
Ease my troubles that's what YOU do

0 Komentar:

Post a Comment