Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Dosa. Show all posts
Showing posts with label Dosa. Show all posts

Sunday, August 17, 2008

Merdeka! So What?

Indonesia adalah salah satu negara dari beberapa negara Asia yang merayakan kemerdekaan di bulan Agustus ini. Biasanya perayaan kemerdekaan di Indonesia disambut dengan meriah dengan berbagai pertandingan, yang paling favorit tentunya panjat pinang.

Ditengah berbagai perayaan, biasanya ada berbagai pernyataan yang mengatakan bahwa negara ini sebenarnya belum merdeka. Karena kenyataannya dalam berbagai aspek masih terjajah dan belum merdeka. Terlalu banyak pandangan seperti ini yang bisa kita baca dan dengar.
Kita perlu bertanya kembali apa itu kemerdekaan sejati dan untuk apa kita merdeka. Rasul Paulus memberikan pandangannya tentang kemerdekaan.

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Galatia 5:13

Merdeka dari apa?
Biasanya kemerdekaan dimengerti sebagai kebebasan dari penjajahan suatu bangsa kepada bangsa yang lain. Di masa modern ini dikaitkan dengan berbagai aspek. Dalam perdagangan bebas, agak sulit untuk melihat kebebasan ini. Bahkan masih banyak yang terjajah melalui Microsoft, Mac, Intel, Google, Yahoo dan terjajah dengan internet itu sendiri. Seharusnya kemerdekaan itu merdeka dari apa?

Negara-negara Barat yang terlihat sukses dengan kemerdekaan dan bahkan menjajah dengan segala kemapanan dan kemajuannya, ternyata menunjukkan keterikatan dan tidak bisa bebas, meskipun mereka begitu mengagungkan kebebasan dan kemerdekaan itu sendiri. Terlalu banyak aturan-aturan yang mengikat yang harus dibuat untuk menikmati kebebasan. Akhirnya tanpa sadar sedang dijajah dengan cara yang baru. Betulkah mereka lebih bebas dan merdeka? Dalam hal-hal tertentu ya, tapi dalam hal yang lain lebih terikat dan terjajah.

Sebaliknya Indonesia dan beberapa negara Asia memberikan kebebasan dan kemerdekaan yang tidak bisa didapatkan di beberapa negara Barat, seperti bebas buang sampah, bebas melanggar aturan lalu lintas (asal ga ketahuan dan kalo ketahuan bisa nyogok!) dan berbagai macam kebebasan yang lain.

Jadi, kemerdekaan dari apa yang diinginkan manusia?

Kemerdekaan Sejati
Paulus mengatakan orang percaya dipanggil untuk merdeka. Pasti bukan masalah kemerdekaan suatu bangsa yang dimaksudkan, tetapi kemerdekaan dari dosa dan kemerdekaan untuk memuliakan Tuhan. Selama manusia hidup dalam berbagai macam kebebasan, tapi belum dimerdekakan dari dosa, maka sesungguhnya ia sedang hidup dalam penjajahan. Hidup dalam dunia dan negara yang penuh kebebasan, kedamaian dan keamanan, tidak menjamin kemerdekaan dan kebebasan yang sejati.

Sebaliknya, hidup dalam negara yang terjajah dan dalam berbagai aspek yang masih terjajah, hanyalah menjadi sedikit penghalang yang tidak bisa menghambat orang percaya untuk menikmati kemerdekaan sejati yang merupakan anugerah Tuhan.

Tanpa kemerdekaan dari dosa, maka semua kebebasan dan kemerdekaan hanyalah kesia-siaan yang akan membawa kita ke dalam berbagai ikatan dan keterjajahan model baru, tapi anehnya seringkali tidak merasa sedang dijajah.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana mempergunakan kemerdekaan itu!?

Merdeka untuk apa?
Karena sudah dimerdekakan dari dosa, maka seharusnya kemerdekaan tidak diisi dengan berbuat dosa lagi. Jika kita sadar bahwa kemerdekaan adalah anugerah Tuhan, maka seharusnya kita memberikan seluruh hidup yang sudah dibebaskan ini untuk menjadi hamba-Nya. Tapi, banyak orang yang tidak tahu terima kasih. Sudah dapat anugerah kemerdekaan, tapi tidak mempergunakan seluruh kesempatan dalam kebebasan untuk menyatakan kemuliaan sang pemberi, yaitu TUHAN.

Tuhan sebenarnya tidak membutuhkan kita untuk menjadi hamba-Nya. Dia sudah berlimpah dalam segala sesuatu. Tapi Dia ingin memakai kita untuk melayani sesama, orang-orang yang masih terjajah dengan dirinya dan segala keadaannya yang berdosa. Itu sebabnya Paulus mengatakan, layanilah seorang dengan yang lain oleh kasih.

Kemerdekaan seharusnya diisi dengan kebebasan dari diri sendiri dan melayani orang lain dengan kasih. Orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, keluarga dan mimpi-mimpinya sesungguhnya adalah orang-orang yang hidup dalam penjajahan. Orang merdeka adalah orang yang sudah bebas dari dirinya dan mau memuliakan Tuhan dengan melayani sesama.

Sudahkah Anda merdeka? So what?

Tuesday, April 15, 2008

Tau ah Lap

Tau ah lap bukanlah nama orang tapi berasal dari kata 'tidak tahu ah, gelap.' Mungkin termasuk ungkapan yang acuh tak acuh. Mungkin juga menggambarkan bahwa zaman ini adalah zaman yang tidak bisa melihat terang lagi. Yang terlihat semuanya kegelapan. Maka dalam hidup yang makin pesimis, hilang kepedulian terhadap segala sesuatu. Karena semuanya terlihat gelap. Mengapa semua terlihat gelap? Bukankah masih banyak orang percaya di dunia ini?

Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.
1 Yohanes 1:6

Pengakuan di bibir saja
Rasul Yohanes sedang mempertanyakan orang-orang yang mengaku memiliki persekutuan dengan Kristus, tapi ternyata hidup dalam kegelapan. Menurut Yohanes, kalau ada yang seperti itu, artinya sedang berdusta dan tidak melakukan kebenaran. Karena pengakuan dan kenyataan ternyata berbeda.
Melihat berkembangnya kekristenan di Indonesia, sepertinya menjadi sesuatu yang sangat menggembirakan. Kebaktian2 dan persekutuan2 terus bermunculan dan bertahan. Bahkan yang mendirikan bukan hanya orang-orang yang sudah sekolah teologi. Sebagian malah berasal dari orang-orang yang merasa punya beban (dan uang) dengan beraninya juga mencoba membuat persekutan untuk menjangkau ada begitu banyak orang yang belum bisa dijangkau. Semakin banyak orang yang mengaku dirinya Kristen dan bahkan rindu untuk melayani.
Melihat sesaat, membuat kita akan kagum dengan orang-orang yang berani dengan terbuka menunjukkan bahwa mereka memiliki persekutuan dengan Kristus. Pertanyaannya, apa yang menjadi bukti bahwa kita ada persekutuan dengan Kristus? Adakah aktivitas pelayanan dan keberanian mengakui di hadapan umum menunjukkan bahwa kita betul-betul memiliki relasi dengan Kristus? Bagaimana bisa tahu bahwa itu bukan hanya di bibir saja, ataupun untuk menutupi segala kekurangan dan kesalahan, dengan menunjukkan keaktifan dalam hal-hal religius? Kita masing-masing yang bisa menjawab apakah kita betul-betul memiliki persekutuan dengan Kristus. Biasanya, kebenaran akan terlihat waktu menghadapi ujian dan masalah. Selain itu bisa terlihat dari bagaimana kita hidup.

Hidup dalam kegelapan?
Bagi Yohanes pembuktian dari pengakuan memiliki persekutuan dengan Kristus, yaitu dengan bagaimana kita hidup. Adakah kita hidup dalam kegelapan, ataukah kita hidup mengikuti Kristus?
Hidup dalam kegelapan adalah hidup mengikuti standar, jalan dan kegelapan dunia ini, yang mengajarkan hidup hanya bagi diri sendiri, dan berakhir dengan ketersesatan.
Banyak yang mengaku memiliki persekutuan dengan Kristus, tapi dalam hidup sehari-harinya tidak ada Kristus sama sekali. Kecuali, Kristus dijadikan pembantu dan penolong bagi keinginan dan cita-cita dirinya yang mengikuti kegelapan dan standar dunia ini. Artinya, banyak orang yang tanpa sadar sedang mengajak Tuhan untuk ikut berdosa dengan menghalalkan semua keinginannya yang dianggap baik. Ini namanya hidup dalam kegelapan, hidup tanpa sumber Terang, yaitu Sang Terang Dunia.
Seharusnya Tuhan Yesus Kristuslah yang menjadi Sumber, Penuntun dan Tujuan Akhir, yang membukakan apa yang harus kita lakukan dan kerjakan sesuai dengan rencanaNya.

Hidup dalam Kebenaran!
Di zaman dulu, hidup yang sukses biasanya identik dengan hidup dalam kebenaran. Berbeda dengan zaman sekarang ini, kebenaran bukan lagi ukuran bagi kesuksesan. Karena terlalu banyak area dalam hidup kita seolah-olah sudah berubah menjadi abu-abu, dan kita tidak peduli lagi. Yang penting sampai kepada ambisi, cita-cita dan ada pengakuan dari dunia ataupun masyarakat sekeliling kita, bahwa kita sukses.
Bagi orang yang mengaku memiliki persekutuan dengan Kristus, seharusnya memiliki perbedaan. Seluruh aspek dan area hidupnya diterangi oleh Kristus. Membuat tidak ada area hidupnya yang tidak ada keinginan hidup dalam kebenaran. Tentu saja ini proses yang bersifat progresif dan dijalani dengan jatuh-bangun waktu berhadapan dengan dosa. Setidak-tidaknya, pengakuan memiliki persekutuan dengan Kristus, terlihat di dalam keinginan dan pergumulan untuk hidup dalam kebenaran dan bukan dalam kegelapan.
Semoga terang Kristus yang terlalu sulit untuk ditutupi, semakin indah dan terang bersinar di dalam kegelapan hidup kita, membuat bukan kegelapan hidup kita lagi yang terlihat oleh dunia, tetapi Kristus yang begitu mulia yang ditinggikan di dalam hidup kita.

Wednesday, November 14, 2007

Congkak dan Sombong

"Bukan yang congkak, bukan yang sombong,
yang disayangi, handai dan taulan..."

Kalimat di atas ini adalah sepotong lagu di masa kecil yang masih terus terngiang-ngiang. Kenyataannya, dosa membuat kecongkakkan dan kesombongan masih terus mengganggu di dalam hati ini. Semua orang pada dasarnya sombong. Bahkan orang yang kelihatan rendah hatipun sering menyombongkan kerendahan hatinya, meskipun itu dilakukan di dalam hatinya.

Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.
Amsal 21:4

Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
1 Petrus 5:5

Dalam Amsal 21:4, kecongkakkan dan kesomobongan ditunjukkan melalui mata dan hati. Mata seseorang ternyata bisa menunjukkan betapa berdosanya orang itu. Dari cara memandang, entah memandang terlalu tinggi kepada orang-orang tertentu, ataupun merendahkan orang-orang tertentu. Mata kita berbicara, betapa sombong dan congkaknya diri kita. Mata kita mewakili hati kita yang sombong. Itu sebabnya sangat gampang untuk mengenali orang sombong. Seseorang tidak perlu berbicara untuk memperlihatkan kesombongannya. Cara melihat kepada seseorang bisa menunjukkannya. Mata seseorang kadang-kadang bisa kelihatan menipu, tapi kalau diperhatikan lebih jelas dan teliti, maka hati seseorang bisa terlihat, karena mata adalah jendela hati. Itu sebabnya penulis Amsal mengaitkan antara mata dan hati yang sombong.

Yang lebih menarik, waktu penulis Amsal mengaitkan mata yang congkak dengan dosa. Bagi zaman ini, kesomobongan sudah dianggap lumrah. Memang ada yang kurang enak kalau melihat orang yang terlalu sombong. Tapi, kalau kesombongan yang wajar (emang ada?), yang tidak terlalu berlebihan akan kita anggap wajar-wajar saja. Apalagi kalau orang yang menunjukkan kesombongannya dan menunjukkan betapa hebatnya dirinya adalah orang yang memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Bagi kita, mungkin tidak apa-apa kalau orang itu kemudian menceritakan kehebatan dan kemampuannya, dan bahkan mempertontonkan semuanya yang akan membuat kita kagum.
Haruskah seseorang yang mempunyai banyak kelebihan dan kemampuan menunjukkan semua kemampuan dan kelebihannya? Motivasinya apa? Untuk menunjukkan betapa hebatnya dirinya? Ataukah ingin menunjukkan anugerah Tuhan yang harus dipakai memuliakanNya (yang ini jarang ada orang melakukannya)?

Ada perbedaan yang besar yang bisa dilihat dari cerita seseorang tentang kemampuan2 di dalam dirinya. Yang berpusat pada diri, akan menunjukkan semuanya dengan kebanggaan dan banyak menggunakan kata 'saya', bahkan penekanannya kepada usaha dan perjuangannya sendiri. Akibatnya, menjadi kurang menghargai orang-orang yang memiliki kemampuan yang hanya sedikit dan bahkan bisa menghina orang-orang seperti itu.
Sedangkan yang berpusat kepada Tuhan, tidak merasa terlalu perlu untuk menunjukkan kemampuan-kemampuannya yang hebat, kecuali pada saat dibutuhkan. Pada saat menunjukkannya, maka orang itu akan menunjukkan bahwa semuanya berasal dari Tuhan dan dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Ia tidak akan kurang menghargai orang-orang yang kemampuannya kurang, apalagi menghinanya. Ia juga tidak akan iri dengan orang-orang yang melebihi dirinya. Bahkan, kemampuan dan kelebihannya akan dipakai untuk menolong orang yang kurang dan orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih darinya tapi belum menyadari potensi kemampuan dan kelebihannya itu. Hal ini seringkali hanya menjadi mimpi di dunia yang berdosa ini. Karena semua manusia congkak dan sombong.

Penulis-penulis Alkitab bukan hanya mengatakan bahwa kecongkakkan adalah dosa, ternyata Allah sendiri menentang orang-orang congkak. Orang yang congkak dan sombong harus berhadapan dengan Allah. Mengapa? Kenapa dosa yang satu ini menjadi begitu serius? Sebagian besar orang mencoba menghubungkan dengan awal dari dosa yang disebabkan oleh Iblis. Kalau kita memperhatikan pelayanan Tuhan Yesus, maka Ia menerima dan melayani pemungut cukai, orang-orang berdosa dan bahkan para pezinah. Tetapi, ketika berhadapan dengan imam-imam, ahli Taurat dan orang Farisi yang sombong dan congkak, maka perkataan Tuhan Yesus, "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu" (Yoh 8:44).
Begitu juga dengan kesombongan Hawa yang tidak mengikuti perintah Allah dan memakan buah yang dilarang, karena ingin menjadi seperti Allah. Kesombongan yang membuat dosa hadir dan juga masuk ke dunia ini.

Selain itu, kesombongan ada kemiripan dengan penyembahan berhala. Kesombongan manusia menyebabkan manusia menyembah dirinya dan segala kemampuannya, yang sebenarnya adalah anugerah Allah. Pemberian Allah yang seharusnya dipakai untuk memuliakan dan menikmatiNya, ternyata diklaim sebagai milik pribadi, pencarian pribadi, usaha pribadi dan perjuangan pribadi, untuk menyembah diri sendiri dan mencari pujian dan penyembahan dari orang-orang disekelilingnya. Sama persis dengan penyembahan berhala.

Mengapa kita menjadi sombong? Jika yang kita miliki semuanya adalah anugerah Allah, apa yang bisa kita sombongkan? Waktu kita lahir, kita miskin dan belum bisa melihat semua yang sudah Tuhan anugerahkan dan siapkan bagi kita. Waktu kita mati, kita akan kehilangan semua yang sudah kita miliki dan menjadi miskin kembali. Lahir dalam keadaan telanjang, bodoh, miskin dan tidak bisa apa-apa. Matipun membuat kita miskin dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi di dunia. Adakah yang bisa dibanggakan manusia selama hidup di dunia? Ada! Tuhan satu-satunya yang harus dibanggakan, dipuji dan dimuliakan. Karena Ia adalah sumber segala sesuatu.
Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.
Mazmur 20:8

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Rom 11:36