Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Gereja. Show all posts
Showing posts with label Gereja. Show all posts

Wednesday, July 9, 2008

Terperangkap dalam Merangkap

Di Indonesia sekarang ini banyak pejabat yang sekarang ini disorot karena merangkap jabatan. Karena ternyata ketidakefektifan dalam pekerjaan dan pelayanan salah satunya disebabkan oleh hal ini.

Masalah ini ternyata bukan hanya terjadi di dalam pemerintahan negara ini, tetapi juga dalam gereja. Meskipun alasan terjadinya itu berbeda, tetapi akibatnya sedikit mirip, tidak bisa mengerjakan keseluruhan tugas dengan baik dan efektif.
Mengapa sampai terperangkap dalam merangkap jabatan? Bagaimana seharusnya?

11 Dan Ialah yang meberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,
Efesus 4:11

Pelajaran dari Perjanjian Lama
Sebenarnya sejak manusia diciptakan, Adam harus merangkap tiga jabatan: Nabi , Imam dan Raja. Tapi, Adam gagal dan tidak bisa melakukannya. Begitu juga dengan keturunan Adam. Sehingga akhirnya ditentukan Nabi untuk memimpin Israel, diikuti dengan Imam, dan yang terakhir adalah Raja.

Musa ketika harus memimpin Israel harus merangkap sebagi Nabi dan fungsi Raja/Hakim (meskipun Raja sesungguhnya adalah Tuhan). Dan Musa tidak sanggup melakukannya. Maka Tuhan memakai mertuanya, Yitro, untuk menasehati Musa, sehingga diangkatlah pemimpin-pemimpin yang bisa mengerjakan tugasnya. MUsa tetap merangkap fungsi Raja, tetapi harus tahu diri dengan tugas-tugas lain yang tidak bisa dikerjakannya.

Di zaman Samuel, Raja pertama kali diurapi dan Samuel mengurapi dua Raja yang pertama. Samuel merasa Israel menolak dirinya sehingga meminta Raja, tetapi mereka sebenarnya menolak Tuhan sebagai Raja. Tetapi, 1 Samuel 8 menjelaskan, karena ketidakpuasan terhadap Samuel dan anak2nya dalam melaksanakan fungsi Raja/Hakim. Dan sejak ada Raja, tidak ada lagi yang merangkap jabatan.

Pelajaran dari Kisah Para Rasul
Pada masa gereja mula-mula, para Rasul harus merangkap ketiga fungsi. Mereka harus menjadi pemberita Inji, gembala maupun pengajar. Awalnya mereka bisa melakukan dengan baik. Tetapi, tidak lama kemudian timbullah sungut-sungut karena janda-janda diabaikan. Sehingga mereka memilih 7 orang lain yang bisa melayani dan bahkan bisa memberitakan firman dan muijizat, seperti Stefanus. Sementara rasul-rasul memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Hasilnya dikatakan dalam Kis 6:7, Firman Allah makin tersebar, jumlah murid makin bertambah banyak dan sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. Para rasul tidak terperangkap dalam merangkap jabatan.

Tiga Jabatan
Ketika jumlah orang percaya makin bertambah banyak, maka ditetapkanlah tiga jabatan berikutnya dalam gereja. Pemberita Injil, Gembala dan Pengajar. Jikalau ada tiga jabatan yang berbeda, haruskah seseorang merangkap ketiga jabatan ini?

Di dalam permulaan pelayanan atau ketika tidak ada orang lain, maka seharusnya seorang pelayan bisa merangkap ketiga jabatan ini, sekaligus melihat dimana panggilan pelayanannya yang utama dan yang menjadi fokus. Tetapi, hampir tidak ada yang bisa fokus kepada ketiga jabatan ini dan mengerjakan semuanya dengan sangat baik.

Seorang pemberita Injil ketika memberitakan Injil di tempat yang tidak ada gereja, maka ia harus bertanggung jawab dalam menggembalakan dan mengajar orang-orang yang diinjilinya. Tetapi fokus utamanya adalah pemberitaan Injil dan bisa memotivasi dan mengajarkan jemaatnya untuk memberitakan Injil dengan baik. Ketika sudah ada orang lain yang bisa menggembalakan dan mengajar, maka ia seharusnya menyerahkan jabatan dan tugas itu kepada orang lain, sekalipun ia tetap bisa membantu dalam penggembalaan dan mengajar. Kebanyakan pelayan yang tetap merasa mengerjakan ketiganya dan merasa bisa fokus pada ketiganya karena merasa sudah biasa dan terperangkap dalam merangkap ketiga jabatan itu. Tetapi, jemaat dan orang-orang lain pasti bisa melihat pelayanan yang kurang efektif.

Seorang yang dipanggil menjadi gembala, seharusnya juga melakukan pemberitaan Injil dan bisa juga mengajarkan firman kepada jemaatnya.
Dan seorang pengajar seharusnya menjadi pengkhotbah Injil dan mengajar di gereja dan sekolah Teologi serta menggembalakan murid-muridnya.

Mengapa gereja sering kekurangan orang-orang untuk melaksanakan ketiga jabatan ini? Umumnya karena kesalahan dari gembala jemaat yang mendominasi ketiga jabatan ini dan menunjukkan seolah-olah dia berhasil melakukan ketiganya. Akhirnya ia sulit memberikan kesempatan kepada orang lain dan juga mendidik pelayan lain mengerjakan panggilannya. Dan membuat jemaat merasa semuanya sudah bisa dilakukan sendiri.
Selain itu, ada orang-orang yang tidak seharusnya menjadi gembala, tapi bertahan untuk mengerjakan tugas itu. Akibatnya, orang-orang yang dipanggil menjadi tidak tertarik untuk mengerjakan panggilan itu karena melihat sang gembala jemaat. Kesalahan yang lain, seorang pemberita Injil biasanya hanya berfokus untuk menjadikan pemberita-pemberita Injil dan menganggap itu adalah tugas yang paling mulia dibandingkan dengan dua jabatan yang lain. Akibatnya, terjadi kekurangan di dalam dua jabatan yang lain; atau orang-orang hanya melihat tugas pemberita Injil sangat sulit, lebih enak menjadi gembala dan pengajar dengan segala fasilitasnya.

Berbahagialah orang yang mengerti dan hidup dalam panggilannya. Karena orang itu bisa mengerjakan tugasnya dengan baik dan memuliakan Tuhan. Dan berbahagialah jika ia tidak hanya meninggikan panggilannya dan merendahkan yang lain, tetapi mengajak orang-orang melihat panggilannya, menghargai panggilan Tuhan dan memuliakan-Nya.

Tuesday, May 6, 2008

Belajar Menggembala

Sudah 14 tahun dapat kesempatan untuk berkhotbah dan pernah menjadi gembala di salah satu gereja, tapi soal menggembalakan, masih perlu banyak belajar.
Dari tanggal 31 April sampai 4 Mei, dapat kesempatan melayani di salah satu gereja Medan. Tahun ini, yang kedua kali ke gereja di Medan. Ada yang tidak saya sukai kalau ke gereja itu, gembala sidangnya suka mengajak kunjungan ke beberapa jemaat yang bermasalah atau sakit berat. Kenapa saya tidak menyukai? Ada dua alasan. Yang pertama, saya tidak terlalu suka dengan berbagai kunjungan yang tidak biasa dilakukan dan seringkali menyita waktu untuk persiapan kotbah. Yang kedua, kalau di Medan semuanya bicara bahasa Hokkian, dan sering tidak diterjemahkan, membuat saya cuma bisa menebak-nebak apa sebenarnya yang terjadi.
Selain kotbah beberapa kali, kali ini harus ikut menghadapi konseling suami-isteri yang mau cerai, mengunjungi orang yg lumpuh dan tidak bisa bicara lagi, dan mengunjungi seorang ibu yang sakit kanker. Jadi dapat kesempatan untuk belajar menggembalakan dan memikirkan kembali tentang penggembalaan.

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.
1 Pet 5:2

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu
Pemimpin-pemimpin gereja harus memikirkan kembali kalimat dari Rasul Petrus untuk menggembalakan kawanan domba Allah. Karena kebanyakan hanya berfokus untuk mendapatkan orang baru sehingga jumlah jemaat bertambah banyak. Bahkan ibadah dibuat sedemikian rupa demi untuk orang-orang baru merasa nyaman. Ketika penekanan kepada orang-orang baru, biasanya penggembalaan orang-orang lama yang lain diabaikan. Padahal penggembalaan adalah proses seumur hidup. Bahkan para gembalapun masih perlu digembalakan!
Menggembalakan bisa berarti memberi makan, membuat bertumbuh, melindungi dari musuh dan bahkan berkorban demi kawanan domba. Memberi makan adalah dengan memberikan firman. Banyak yang menafsirkannya hanya dengan berkotbah dan pemahaman Alkitab maka sudah melaksanakan tugas dari seorang gembala. Padahal memberikan firman juga melibatkan pengawasan, dorongan dan contoh bagaimana bergumul dengan firman dan menghidupi firman itu. Tidak segampang dan sesederhana hanya dengan berkotbah dan memimpin Pemahaman Alkitab. Karena domba biasanya sangat bodoh dan gampang tersesat. Perlu bimbingan dan teladan untuk menikmati padang rumput yang hijau dan air yang tenang. Begitu pula di dalam kesulitan, perlu gembala untuk menghiburnya. Apalagi ketika berhadapan dengan musuh. Kehadiran sang gembala akan memberi kekuatan dan penghiburan.
Memang kita sudah memiliki sang Gembala Agung, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang akan terus menyertai dan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Tapi, juga sang Gembala Agung menunjuk gembala2 di dunia untuk memimpin kawanan domba-Nya.
Para gembala harus memandang kepada sang Gembala Agung dan mendapatkan anugerah-Nya untuk melaksanakan tugas yang sangat berat sebagai gembala.

Kerelaan vs Keharusan
Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus, "Apakah engkau mengasihi-Ku?" sebelum meminta Petrus menggembalakan umat-Nya. Tanpa kasih kepada Kristus, tidak akan ada kerelaan. Menjadi gembala yang baik sangat berat dan sulit. Kalau hanya melihatnya sebagai keharusan, maka suatu saat pasti hanya akan menjadi beban yang berat.
Pengalaman sebagai gembala karena keharusan betul-betul tidak pernah akan saya lupakan. Padahal menjadi gembala adalah anugerah Allah yang seharusnya sangat disyukuri dan bisa melihat Kristus sebagai Gembala Agung membimbing umat-Nya melalui diri saya.
Tapi bukan berarti setiap orang yang mau dan rela bisa mengerjakannya. Karena kerelaan ini adalah kerelaan yang sesuai dengan kehendak Allah. Jadi, bergantung kepada kehendak Allah. Jikalau kita mengasihi Allah, maka kita dengan rela ingin menggenapi kehendak-Nya.

Melayani vs Mencari Keuntungan
Zaman sekarang ini tidak ada yang mau rugi. Bahkan yang mau terlibat dalam pelayananpun banyak yang mencari keuntungan. Hal ini bisa terlihat pada apa yang dilakukan oleh seorang gembala. Apakah ia ingin terus memberikan firman, perhatian dan dirinya kepada jemaat dengan sukacita tanpa mengharapkan sesuatu, ataukah ia terlihat hanya bergembira ketika mendapatkan sesuatu dari jemaatnya.
Ada gembala-gembala yang ketika melakukan pelayanannya terlihat seperti orang-orang yang sudah melakukan pekerjaan yang terlalu besar, terlalu berat dan menderita, bahkan sampai tidak ada sukacita sama sekali. Tapi hidupnya terlihat berbeda ketika mendapatkan sesuatu yang menurutnya adalah balasan yang setimpal. Bukankah bisa melayani itu sudah menjadi anugerah yang luar biasa dari Tuhan??? Bisa terus memberi tiada habis-habisnya menunjukkan hidup kita adalah hidup yang berlimpah. Sebaliknya, keinginan untuk terus mendapatkan dan diberi, menunjukkan hidup yang tidak berisi dan selalu kekurangan.

Di zaman sekarang ini, masih adakah gembala-gembala yang betu-betul memberi makan, memperhatikan pertumbuhan, menjaga dan mau berkorban bagi umat gembalaannya? Masih adakah gembala-gembala yang bukan melihat tugasnya sebagai keharusan, tapi sebagai kerelaan untuk menggenapi kehendak Allah karena kasih kepada Kristus? Kalau masih ada, tentunya bisa melayanipun sudah dianggap sebagai anugerah dan bahkan kesempatan yang begitu berharga dari sang Gembala Agung, yang sesungguhnya sedang menggembalakan umat-Nya.

Thursday, April 10, 2008

Sekarang melayani siapa?

Setiap kali mendengar orang mengatakan "melayani Tuhan" selalu muncul dalam pikiran saya, betulkah manusia bisa melayani Tuhan? Adakah yang kurang dari Tuhan sehingga Ia perlu dilayani? Apa yang dipunyai oleh manusia sehingga bisa membantu dan melayani Tuhan? Terlalu banyak pertanyaan di dalam pergumulan pribadi ketika ingin mengevaluasi kembali pekerjaan pelayanan setelah 14 tahun menjadi pengkhotbah. Benarkah saya melayani Tuhan?

5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
Efesus 6:5-7


Dari Efesus 6:5-7, saya mendapatkan pengertian dari melayani Tuhan. Yang melayani Tuhan bukan sedang melihat Tuhan dan melakukan sesuatu untuk membantu Dia seolah-olah Ia tidak bisa melakukannya. Tuhan punya segala sesuatu, lebih dari cukup dan Ia tidak perlu dilayani. Kalau begitu apa maksudnya melayani Tuhan?

1. Mengerjakan segala sesuatu bagi orang lain di dalam ketaatan kepada Kristus (5)
Di ayat 5, melayani Tuhan adalah melakukan segala sesuatu kepada manusia. Dalam konteks Efesus, budak taat dan melayani tuannya. Waktu sang budak melakukannya di dalam ketaatan kepada Kristus, maka ia sedang melayani Tuhan.
Sama seperti di dalam Maz 119:91, pemazmur mengatakan segala sesuatu melayani Tuhan. Aplikasinya dalam hidup ini, melayani Tuhan meliputi seluruh aspek hidup kita. Apakah pekerjaan yang kita kerjakan, ataupun segala sesuatu yang kita lakukan (kelihatannya bagi manusia), kita lakukan di dalam ketaatan dan tunduk kepada Kristus? Jikalau ya, maka hidup kita adalah hidup yang melayani Tuhan. Kita menjadi orang yang munafik, ketika di gereja atau persekutuan kita kelihatan tunduk dan taat kepada Kristus bahkan terlibat dalam pelayanan gerejawi, tapi dalam kehidupan sehari-hari aspek hidup kita yang lain tidak pernah tunduk dan taat kepada Kristus dan tidak pernah dipakai untuk membantu orang lain.
Agak mirip tapi berbeda konteks, bandingkan dengan Mat 25:42-45, Tuhan Yesus mengatakan melayani diriNya adalah pada waktu melayani manusia yang terhilang. Ini tidak sama dengan aksi sosial atau pelayanan kesaksian yang suka didengung-dengungkan gereja. Tapi ini berbicara tentang kebiasaan sehari-hari yang dilakukan untuk memuliakan Allah. Kita menjadi orang yang munafik jika kita rajin mengikuti kegiatan aksi sosial, tapi dalam kehidupan sehari-hari kita tidak menghargai orang-orang yang terhilang. Hanya menghargainya dan terharu ketika aksi sosial.
Refleksi pribadi: (Diajarin P'Sen untuk membuat refleksi pribadi, Thanks a lot!)
Orang-orang yang harus saya layani bagi kemuliaan Kristus adalah.....................

2. Menggenapi kehendak Allah (6)
Di ayat 6, Paulus mengatakan bukan hanya pada saat dilihat ataupun untuk menyenangkan hati orang tapi segenap hati melakukan kehendak Allah. Saya membayangkan budak-budak yang bekerja keras bagi tuan2 mereka waktu itu. Mereka yang sudah menjadi orang Kristen mungkin bertanya, "Kapan kami bisa terlibat dalam pelayanan?" Paulus menjawab mereka bahwa pekerjaan mereka sehari-hari adalah pelayanan mereka kepada Tuhan. Apa yang mereka lakukan selama ini hanya bagi tuan mereka seharusnya dilihat sebagai penggenapan kehendak Allah.
Apalikasinya bagi saya berupa satu pertanyaan, "Apakah semua yang sudah saya kerjakan selama ini sudah menggenapi kehendak Allah?" Sulit untuk menjawabnya.. Setiap jawaban ya, berarti sudah melayani Tuhan.
Refleksi Pribadi:
Untuk menggenapi kehendak Allah di dalam sisa hidup ini, hal-hal yang akan segera saya lakukan ...................................................................................

3. Eunoia: rela, senang hati, segenap hati (7)
Jikalau mendapatkan kesempatan mengerjakan hal-hal yang besar dan luar biasa, maka setiap orang bisa dengan sangat rela dan senang hati melakukannya, meskipun dengan kegentaran. Tapi, jikalau membayangkan budak-budak di Efesus yang melakukan pekerjaan sehari-harinya bagi tuan2 mereka yang tidak tentu baik, sebagian dari mereka adalah tuan yang kejam, bisakah mereka melakukannya dengan rela, segenap hati dan senang hati?
Sama seperti ketika di dalam pekerjaan sehari-hari yang situasinya tidak enak, memberatkan dan boss yang nyebelin, bisakah kita tetap dengan senang hati melakukannya karena sedang melayani Tuhan dan bukan si boss? Menarik sekali, karena inilah yang dimaksudkan oleh Paulus dengan melayani Tuhan dan bukan melayani manusia.
Jikalau dalam pekerjaan sehari-hari kita lakukan di dalam ketaatan kepada Kristus dan menggenapi kehendakNya, bukankah semua yang kita lakukan akan kita lakukan dengan rela dan senang hati? Karena kita sedang melayani Tuhan, bukan melayani manusia yang sedang kita bantu dan kita hadapi.
Refleksi Pribadi:
Hal-hal dalam kehidupan yang harus saya lakukan dengan rela, senang hati dan segenap hati untuk melayani Tuhan adalah ...........................................

Setiap kali selesai berkotbah di suatu tempat, entah di gereja atau parachurch, pertanyaannya yang selalu ditanyakan kepada saya, "Sekarang pelayanan di mana?"
Dan selalu saya harus menjelaskan bahwa sementara ini saya melayani tanpa gereja dan organisasi. Banyak yang kemudian berusaha meyakinkan bahwa melayani di gereja atau lembaga mereka itu lebih baik dibandingkan dengan pelayanan sendiri. Dan mulai menawarkan segala fasilitas untuk bergabung dengan lembaganya. Seolah-olah kalau saya melayani Tuhan dengan cara sendirian, maka hidup akan berkekurangan dibandingkan dengan melayani dilembaganya. Ada pula yang berusaha membuat saya merasa bersalah kalau pelayanan sendiri dan lebih baik kalau bergabung dengan lembaga mereka. Hmm, suatu saat saya akan bergabung dengan satu gereja atau lembaga jikalau Tuhan memberikan kesempatan untuk menggenapi kehendakNya. Yang pasti, alasannya bukan karena jaminan hidup yang lebih baik. Tuhan yang menjamin hidup ini, dan itu lebih baik dibandingkan jaminan dari lembaga atau gereja manapun!

Tidak ada yang pernah bertanya, "Sekarang melayani siapa?" Padahal pertanyaan ini yang perlu dipertanyakan. Banyak orang yang dalam hidup sehari-hari sudah melayani mimpinya, materi, dirinya, organisasinya, bahkan gerejanya dan semuanya bukan untuk menggenapi kehendak Allah. Celakanya, banyak yang tidak sadar dan terus merasa sedang melayani Tuhan!
Adakah Tuhan yang menjadi sumber, pusat dan kehendakNya yang digenapi dalam hidup ini, entah di dalam pekerjaan sehari-hari, di kantor ataupun di rumah, aksi sosial ataupun pelayanan gerejawi lainnya, sendirian ataupun di dalam satu gereja atau lembaga, adakah Yesus Kristus yang menjadi pusat pelayanan kita? Adakah kita melakukan segala sesuatu bagi Dia dan bukan bagi manusia (termasuk diri kita)???
Soli Deo Gloria.