Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Lagu. Show all posts
Showing posts with label Lagu. Show all posts

Saturday, May 10, 2008

I'd Rather Have JESUS

Apa sebenarnya yang paling dibutuhkan oleh dunia yang berdosa ini? Kepuasan, kenikmatan, suami, isteri, anak, orangtua, keluarga, sahabat, uang, rumah, mobil,... dan begitu banyak daftar lain dalam pikiran manusia???
Dalam 'kebutaan dan kelumpuhan' di dalam hidup yang berdosa ini, tentu saja semua manusia menginginkan setiap hal yang menurutnya sendiri bisa memuaskan hidupnya. Tapi, betulkah semuanya itu kebutuhannya yang terutama???

5 Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. 6 Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"
Kisah Para Rasul 3:5-6

Orang yang lumpuh sejak lahir ketika bertemu dengan Petrus dan Yohanes di gerbang Bait Allah hanya berharap kepada belas kasihan dari dua rasul ini. Ia mungkin tidak mengharapkan emas dan perak, hanya mengharapkan sekedar sedekah dari mata uang yang paling kecil. Bagi orang lumpuh ini, uang yang bisa membuatnya membeli makanan dan bertahan hidup sudah cukup. Tapi, betulkah itu kebutuhan utamanya?

Lihatlah!
Petrus menyuruh orang lumpuh itu menatapnya. Tentu saja Petrus juga menatap orang lumpuh itu. Petrus melihat kebutuhan utama dari orang lumpuh itu. Ia membutuhkan kesembuhan baik fisik maupun kesembuhan rohani.

Di tengah dunia yang penuh dengan kesulitan, masalah dan dosa, masih adakah orang-orang yang punya waktu untuk melihat. Ya, melihat dan menatap orang lain. Melihat apa yang menjadi kebutuhan yang terpenting dari orang lain. Tentu saja kebutuhan paling mendasar dari orang-orang berdosa adalah kesembuhan rohani. Adakah orang-orang yang bisa melihat hal ini? Di tengah tertawa yang menyembunyikan kegetiran, ditengah pesta untuk pelarian dari masalah dan ditengah pemuasan kenikmatan untuk mengisi kekosongan, bisakah kita melihat kebutuhan sesungguhnya dari orang-orang berdosa? Ataukah kita hanya tertipu dengan orang yang terlihat tertawa, berpesta dan kelihatan menikmati segala kenikmatan dunia?

Kita butuh anugerah dan iman untuk melihat dengan mata hati kita. Kita terbiasa hanya ingin melihat apa yang ingin kita lihat dan terlalu percaya dengan fenomena. Dunia sedang menipu dengan fenomena kebahagiaan yang palsu dan banyak orang yang percaya bahwa itulah fakta yang harus menjadi tujuan hidup ini.

Petrus bisa melihat fakta, sehingga ia tidak memberikan emas dan perak (yang ia tidak punya) kepada orang lumpuh itu. Yang diberikannya adalah Yesus Kristus dengan kuasa-Nya. Dan itu cukup bagi orang lumpuh itu. Apa gunanya emas dan perak bagi orang lumpuh itu, jikalau ia tetap lumpuh? Apa gunanya bisa berjalan jikalau ia masih dalam dosa?

I'd rather have JESUS
Sebelum kita melihat kebutuhan utama dari dunia yang berdosa ini, adakah kita juga betul-betul sudah memiliki apa yang menjadi kebutuhan utama itu dan kita puas memuliakan dan menikmati-Nya?
Salah satu puisi yang saya sukai, ditulis oleh seorang wanita bernama Rhea F. Miller di tahun 1922. Judulnya, I'd Rather have Jesus.

I’d rather have Jesus than silver or gold;
I’d rather be His than have riches untold;
I’d rather have Jesus than houses or lands,
I’d rather be led by His nail pierced hand.

Than to be a king of a vast domain
Or be held in sin’s dread sway,
I’d rather have Jesus than anything
This world affords today.

I’d rather have Jesus than men’s applause;
I’d rather be faithful to His dear cause;
I’d rather have Jesus than world-wide fame,
I’d rather be true to His holy name.

He’s fairer than lilies of rarest bloom;
He’s sweeter than honey from out of the comb;
He’s all that my hungering spirit needs,
I’d rather have Jesus and let Him lead.

Thursday, May 24, 2007

I Couldn't Ask for More

I Couldn't Ask for More adalah lagu dari Edwin McCain. Saya tertarik dengan lagu ini. Lagu ini sebenarnya adalah lagu cinta, yang kalau diterapkan di seluruh aspek hidup (bukan hanya karena bertemu dengan sang kekasih) akan menggambarkan bagaimana seharusnya respon kita kepada Tuhan dilihat dari sisi tanggung jawab manusia.
Tentu saja ada bagian2 lirik lagu yang perlu diubah untuk menggambarkan keutuhan keindahan dan kebenaran yang sejati.

I Couldn't Ask for More
Edwin McCain

Lying here with you, listening to the rain.
Smiling just to see a smile upon your face.
And these are the moments I'll remember all my life.
I found all I've waited for and I could not ask for more.
Looking in your eyes, seeing all I need.
Girl, I think you are it's everything to me.
These are the moments I know heaven must exist.
These are the moments I know all I need is this.
I have all I've waited for and I could not ask for more.

[Reff:]
I could not ask for more than this time together.
I couldn't ask for more that this time with you.
Every breath has been answered. Every dream that has come through.
Yeah, right here in this moment, it's that we're all meant to be.
(Oh) here with you, here with me.

And these are the moments I thank God that I'm alive.
And these are the moments I'll remember all my life.
I've got all I've waited for and I could not ask for more.

[Repeat Reff]

I could not ask for more than the love you gave me
cos it's all I've waited for.
And I could not ask for more.


Yang membuat saya tertarik dengan lagu ini, karena ada kaitannya antara keindahan cinta dengan adanya surga dan ucapan syukur kepada Tuhan. Dan bahkan bisa bersyukur karena kehidupan. Lebih baik lagi kalau lagu ini dinyanyikan oleh sepasang kekasih yang merayakan ulang tahun perkawinan ke-50.

Seandainya dalam seluruh aspek hidup kita kita bisa melihat Tuhan yang menyertai dan tdak pernah meninggalkan orang-orang pilihanNya, maka kita pasti akan mengatakan Lord, I Couldn't Ask for More. Dan kita akan berusaha lagi untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan segala berkat dan anugerah yang sudah diberikanNya kepada kita.

Wednesday, May 2, 2007

You'll Never Walk Alone

Ini bukan cerita sepakbola. Meskipun judulnya diambil dari lagu wajibnya pendukung Liverpool FC yang tadi pagi mengalahkan Chelsea di UEFA Champions League (Congrats to Liverpool). Tulisan ini juga bukan untuk membahas tentang American Idol. Lagu ini sempat dinyanyikan oleh Jordin Sparks pada American Idol 2007 hari Rabu minggu yang lalu (25 April.
Ini adalah perenungan tentang kesadaran penyertaan Yesus Kristus terhadap umatNya sampai selama-lamanya.

"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Mat 28:20

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Mazmur 23:4

Janji Kristus terhadap umatNya seharusnya tidak diragukan lagi. Tetapi kenapa banyak orang percaya yang masih terus bertanya penyertaan Tuhan dan menuntut bukti penyertaanNya menurut versi masing-masing?

Banyak orang hanya berpusat pada keinginan2nya yang harus dipuaskan Tuhan, dan kepuasan yang Tuhan berikan yang sesuai dengan keinginan2 mereka yang menjadi bukti bahwa ada penyertaan dari Tuhan.
Sementara yang lain hanya berpusat kepada kesulitan2 dan permasalahan2 yang ada dan ingin cepat keluar dari semuanya, tanpa pernah belajar sesuatu dan melihat penyertaan Tuhan di dalam keadaan2 seperti itu. Bukankah kalau kita bisa belajar dan melihat penyertaan Tuhan dalam keadaan seperti itu akan membuat hidup kita akan semakin berlimpah?! Karena penyertaan Tuhan melampaui dari segala keadaan..

Seharusnya waktu menghadapi segala tantangan dan keadaan, kita cukup berjalan terus, angkat kepala dan dengan rendah hati lihatlah kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan serta dengan penuh ucapan syukur sadar bahwa You'll never walk alone.

Tanpa belajar melihat penyertaan Tuhan dalam segala keadaan, kita sudah kehilangan kesempatan menikmati penyertaan Tuhan yang akan sampai selama-lamanya.


When you walk through a storm, hold your head up high
And don't be afraid of the dark.
At the end of the Storm there's a golden sky
And the sweet, silver song of a lark.
Walk on through the wind, walk on through the rain,
Though your dreams be tossed and blown.
Walk on, walk on with hope in your heart,
And you'll never walk alone.
You'll never walk alone.

Thursday, April 26, 2007

Imagine

Imagine adalah lagu yang dirilis pada tahun 1971 oleh John Lennon, menjadi salah satu lagu yang sangat populer dan disukai oleh banyak orang. Menurut Lennon, lagunya sebenarnya adalah anti-religious, anti-nationalistic, anti-conventional, anti-capitalistic, tetapi ternyata tetap bisa terima karena dibuat manis. Diinspirasikan oleh pergumulan Yoko Ono di Jepang yang mengalami Perang Dunia II, tetapi Yoko Ono mengatakan bahwa apa yang ditulis oleh Lennon adalah apa yang dipercayai oleh Lennon, bahwa kita adalah satu negara, satu dunia dan satu umat.
Apakah lirik lagu ini hanya sekedar utopia? Mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan? Ataukah hanya sekedar pemberontakan dari dunia yang semakin rusak dan berdosa? Bagaimana Alkitab melihat utopianya John Lennon?

Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world


Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
Wahyu 7:9

1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. 2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. 3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. 4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Wahyu 21:1-4


Dibandingkan dengan apa yang dinyatakan di dalam Alkitab, ada bagian-bagian yang jelas bertentangan dan hanya mimpi John Lennon yang tidak akan pernah terwujud, tetapi ada juga bagian-bagian dari lagu itu yang akan terjadi. Misalnya: Surga dan Neraka, tidak bisa dibayangkan bagaimana kalau tidak ada Surga dan Neraka, dan manusia hanya hidup utk kesementaraan ini. Sesungguhnya dunia ini akan segera berubah menjadi neraka hanya dalam waktu yang singkat. Itu yang terjadi ketika manusia jatuh dalam dosa. Kitab Kejadian menggambarkannya. Kej 3 menggambarkan bagaimana jatuh dalam dosa, Kej 4 pembunuhan pertama terjadi, Kej 6 puncak dari keberdosaan, karena manusia hanya hidup bagi kesementaraan dan tidak takut akan apa yang akan terjadi sesudahnya, tidak perlu Allah. Sesungguhnya, bukan kedamaian yang akan didapatkan, justru Neraka.

Tetapi, ada bagian-bagian lagu yang sebenarnya akan terwujud. Yaitu, tidak ada pembunuhan, tidak ada peperangan karena ingin merebut tanah (daerah orang lain), tidak ada agama-agama yang berbeda dan berperang, tidak ada yang rakus dan kelaparan, dunia menjadi kumpulan dari satu persaudaraan yang saling mengasihi dan hidup dengan damai. Sayang sekali hal-hal ini tidak akan terjadi di dunia yang berdosa ini, melainkan terjadi di surga/langit dan bumi yang baru (yang ingin dihilangkan oleh Lennon). Ini bukan mimpi, tapi Alkitab sudah mengatakan semuanya sebelum John Lennon bermimpi karena tidak bisa menerima kenyataan dunia yang berdosa.

Sesungguhnya, penyertaan Allah yang bisa membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik. Ketika Allah diam bersama-sama dengan manusia, Ia menjadi Allah kita dan kita menjadi umatNya maka segala kesulitan hidup dalam dosa dan penderitaan tidak akan ada lagi. Dunia ini menjadi rusak, berdosa, penuh dengan penderitaan karena manusia ingin hidup sendiri tanpa Allah. Bahkan orang-orang yang mengaku beragama yang kemudian menanamkan benih-benih permusuhan dan kebencian, sebenarnya adalah orang-orang yang hanya ingin hidup bagi dirinya dan alirannya sendiri. Termasuk para Atheist yang ternyata juga mempunyai kebencian yang sangat besar dan memusuhi orang-orang yang beragama. Beragama dan tidak beragama, ternyata tidak menyelesaikan permasalahan dunia ini. Hanya menambah permasalah, persoalan dan penderitaan dunia ini. Allah yang akan datang kembali dan diam dengan umatNya, satu-satunya yang bisa membereskan semuanya ini. Allah yang menyatakan keadilan, tetapi juga adalah Allah yang mengasihi. Masalahnya, siapa yang percaya kepada Allah seperti ini?

Allah yang dinyatakan dalam Alkitab adalah Allah yang merencanakan, mencipta, memelihara dan menyempurnakan. Apa yang terjadi di dalam dunia ini, tidak pernah terlepas dari kedaulatan Allah. Ia sudah menyiapkan kesempurnaan dari semua ciptaanNya yang saat ini sedang di dalam proses waktu menuju kepada kesempurnaan itu. Kedatangan Yesus Kristus yang pertama kali ke dunia sudah memberikan jaminan bahwa Allah menyertai manusia dan kita sesungguhnya tinggal menunggu kedatangan Kristus yang kedua kali, dimana terjadi kegenapan dari keseluruhan bayang-bayang kesempurnaan di dalam kekekalan yang sudah dinyatakan kepada kita. Langit dan bumi yang baru, bukan lagi hanya suatu utopia, tetapi suatu kepastian. Bumi yang baru dimana tidak ada lagi peperangan, penderitaan, kebencian dan permusuhan, sakit-penyakit akan betul-betul kita alami. Bumi yang penuh dengan cinta kasih, persahabatan, persaudaraan, semuanya berada di dalam satu keluarga bersama-sama hanya memuji dan menyembah satu Allah sampai selama-selamanya...

Bayangkanlah semua itu akan terjadi, bukan di dunia yang berdosa ini, tetapi di bumi yang baru. Kalau begitu, apa artinya bumi yang berdosa ini? Tidak ada artinya sama sekali kita hidup di bumi ini? Memang hidup di bumi yang berdosa ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan hidup di bumi yang baru. Tetapi, kehidupan di bumi yang berdosa dan sementara ini adalah persiapan kepada hidup kekal di bumi yang baru. Artinya, kehidupan yang sementara ini ternyata penting untuk belajar bagaimana bisa menerima perbedaan negara, suku, ras, denominasi dan berbagai macam perbedaan yang lain, untuk bisa saling mengasihi sebagai satu keluarga Allah yang akan bersama-sama hidup dalam satu persekutuan keluarga Allah untuk memuji, menyembah dan menikmati Allah sampai selama-lamanya. Hidup di dalam dunia sementara ini adalah proses yang terus berubah. Tetapi, hidup di bumi yang baru adalah akhir yang akan sampai selama-lamanya. Itu sebabnya, jangan salah membayangkan. Yang terjadi dalam kesementaraan, terimalah sebagai realita yang memang harus dialami, tetapi ada kesempurnaan yang akan terjadi di dalam kekekalan.

Bayangkanlah apa yang bisa terjadi di dalam kesementaraan ini dan apa yang akan terjadi di dalam kekekalan...Ada Alkitab yang memberikan jawabannya. It's easy if you try...

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the (new) earth will be as one


Tuesday, April 24, 2007

Harap Tenang.. Ada Ujian!

Setiap kali ada ujian akhir yang dilakukan oleh murid-murid di sekolah-sekolah, maka biasanya ada tulisan "Harap Tenang, Ada Ujian!" Karena para guru berharap bahwa ketenangan dari keadaan luar akan membantu murid-murid untuk menyelesaikan ujian itu dengan tenang dan tanpa gangguan. Bahkan seringkali seminggu sebelum ujian akhir biasanya diberikan waktu seminggu yang disebut dengan minggu tenang.
Bagaimana dengan hidup dari murid-murid Kristus? Adakah ketenangan menghadapi ujian dan pencobaan? Dari mana sumber ketenangan itu? Apakah keadaan dari luar yang bisa membuat hidup ini tenang menghadapi ujian dan pecobaan yang terus terjadi?

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
1 Korintus 10:13

Ketenangan menghadapi ujian dan pencobaan seringkali menjadi sesuatu yang sangat langka. Karena tidak pernah diajarkan dan dilatih untuk menghadapi semua ujian dan pencobaan. Dari kecil, seorang anak biasanya diberikan perlindungan maksimal dan tidak diharapkan untuk menghadapi keadaan-keadaan yang sulit di dalam hidupnya. Orang tua biasanya mengharapkan anak2nya mendapatkan segala kelancaran dan semuanya baik-baik saja, dan berusaha menjaga agar anak2nya tidak ada yang mengalami kesulitan di dalam hidup ini. Sedikit orang tua yang mendidik anaknya untuk berhadapan dengan kesulitan dan mempersiapkannya menghadapi tantangan dunia yang makin sulit. Itu sebabnya, ketika ada yang sakit, musibah, maka yang terjadi biasanya adalah kepanikan. Karena cara berpikir yang menganggap bahwa hidup ini seharusnya sehat-sehat, baik dan penuh dengan berkat Tuhan. Dan seorang anak dipersiapkan untuk menghadapi hidup yang sehat, baik dan penuh berkat saja. Kenyataannya ternyata berbeda.

Keadaan dunia ini ternyata terus berubah. Kadang kala sepertinya hidup ini bisa dikendalikan. Ada kesehatan, segalanya baik-baik saja dan bahkan hidup di dalam kelimpahan seperti dan bahkan lebih dari pada yang dipikirkan. Tetapi juga seringkali harus diselingi dengan berbagai sakit yang datang tanpa diundang, bahkan seringkali bisa parah dan tidak bisa diobati ataupun terlambat untuk diobati; masalah-masalah yang tidak bisa dikontrol, musibah, bencana alam dan seribu satu kejadian yang tidak pernah terpikirkan terjadi di dalam dunia ini dan hidup ini. Banyak orang yang sudah memiliki kelimpahan dalam hidup mencoba membuat perlindungan terhadap semua yang tidak terduga dengan asuransi, tabungan dan deposito, rumah dan segala proteksi yang bisa dipikirkan. Tetap saja ada kepanikan di negara maju seperti Amerika Serikat ketika seorang mahasiswa bisa membunuh mahasiswa dan dosen yang memiliki asuransi, uang dan banyak hal yang ternyata tidak bisa melindungi hidupnya.

Seharusnya ada perubahan cara pandang terhadap hidup ini. Manusia tidak bisa lagi bermimpi bahwa dunia yang berdosa ini suatu saat akan ada kedamaian dan tanpa masalah sama sekali. Mimpi yang tidak berdasar, karena dunia ini sudah dicemari dosa. Hanya kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali yang bisa mengubah mimpi itu menjadi kenyataan. Tetapi selama hidup di dunia yang berdosa ini, maka seharusnya manusia bersiap menghadapi segala penderitaan, permasalahan, sakit-penyakit, musibah, kebencian dan peperangan. Apakah hidup harus dihadapi hanya dengan sikap pesimis seperti ini?

Tentu saja ada kabar baiknya. Yaitu, pencobaan-pencobaan yang akan kita alami tidak akan pernah melebihi kemampuan kita. Karena ada Tuhan yang setia yang akan menolong dan memberikan jalan keluar serta memampukan kita menanggung beban. Sangat menarik.. Bukan membuang segala kesulitan dan permasalah yang ada, tetapi justru Tuhan memampukan kita untuk menanggungnya. Dengan mengingat janji Tuhan ini, seharusnya ada ketenangan menghadapi semua ujian dan pencobaan. Ketenangan ini bukan karena jaminan yang diberikan oleh keadaan dunia yang selalu berubah, tetapi dari penyertaan Tuhan yang membuat umatNya akan tenang karena bersandar kepadaNya.
Ada ujian? Tidak masalah, harap tenang.

Be still, my soul: the Lord is on thy side;
Bear patiently the cross of grief or pain;
Leave to thy God to order and provide;
In ev'ry change He faithful will remain.
Be still, my soul: thy best, thy heav'nly Friend
Thro' thorny ways leads to a joyful end.


Teks lagu keseluruhan bisa klik disini

Thursday, April 12, 2007

Lagi dalami apa?

Kemarin pergi ke rumah duka. Orangtua dari seorang teman penginjil meninggal dunia. Siangnya ketemu dengan mantan dosen, sekaligus dekan di seminary dulu. Kemudian sang dosen berbicara dengan teman yang lagi berduka. Sesudah basa-basi, tanya mengapa meninggal, sang teman tidak melewatkan kesempatan untuk diskusi teologi dan filsafat. Memang agak lain hidup dari seorang penginjil yang suka belajar. Padahal dua bulan sebelumnya papanya meninggal, kemudian mamanya meninggal. Di tengah kedukaan, dia tidak melewatkan kesempatan untuk belajar dari sang dosen yang memang paling banyak mempengaruhi pemikirannya di awal-awal belajar teologi dan filsafat. Kami duduk berempat di dalam satu lingkaran, dan sang penginjil dan dosen asyik ngobrol tentang beberapa hal dan beberapa nama tokoh2 terkenal disebutkan, sambil sang dosen share bagaimana dia mendalaminya. Sampai kemudian tiba-tiba sang dosen berpaling ke saya dan bertanya, "Ronald, lagi dalami apa?" Saya dengan gampangnya menjawab, "saya yang cetek2 aja yg bisa aplikatif." Ditanggapi sama sang dosen,"Seringkali orang yang sudah berpikir dalam sulit untuk aplikasi!" Saya kemudian mengatakan kepada sang dosen bahwa sedalam apapun yang saya dalami sepertinya tetap cetek dibandingkan dengan kedalaman sang dosen. Dia ketawa dan mungkin melupakan percakapan kita, tapi saya masih terus memikirkannya.

18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Efesus 3:18-19

Ayat ini adalah harapan Rasul Paulus bagi jemaat Efesus bersama-sama dengan semua orang kudus untuk sanggup memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya, serta mengenal yang melampaui segala pengetahuan dan hikmat yaitu Kasih Allah. Paulus berharap kita bisa dipenuhi dengan segala kepenuhan Allah. Maka, meskipun sudah berkali-kali berbicara tentang Kasih Allah, sepertinya masih terlalu jauh dan terlalu cetek untuk bisa melihat kedalamannya. Keinginan sekarang ini masih ingin lebih memahami dan mendalami tentang Kasih Allah di dalam seluruh kepenuhan Allah. Seperti apa itu? Sulit dilukiskan dan dijelaskan, tapi bisa dialami dan dirasakan oleh orang-orang percaya. Saat diselamatkan, dalam kehidupan sehari-hari, di dalam melihat jalan-jalan Tuhan. Sesungguhnya kita bisa merasakan dan mengalami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Allah.
Jadi ingat satu lagu yang berbicara tentang kasih Allah. Ditulis oleh Fred­er­ick M. Leh­man pada tahun 1917.

The love of God is greater far
Than tongue or pen can ever tell;
It goes beyond the highest star,
And reaches to the lowest hell;
The guilty pair, bowed down with care,
God gave His Son to win;
His erring child He reconciled,
And pardoned from his sin.

Refrain
O love of God, how rich and pure!
How measureless and strong!
It shall forevermore endure
The saints’ and angels’ song.

When years of time shall pass away,
And earthly thrones and kingdoms fall,
When men, who here refuse to pray,
On rocks and hills and mountains call,
God’s love so sure, shall still endure,
All measureless and strong;
Redeeming grace to Adam’s race—
The saints’ and angels’ song.

Could we with ink the ocean fill,
And were the skies of parchment made,
Were every stalk on earth a quill,
And every man a scribe by trade,
To write the love of God above,
Would drain the ocean dry.
Nor could the scroll contain the whole,
Though stretched from sky to sky.


Mau denger, nyanyi atau download mp3 lagu ini? KLIK DI SINI

Banyak orang sudah bicara tentang kasih Allah, tapi kasih Allah tidak pernah habis-habisnya dibicarakan, bahkan semakin dibicarakan, semakin dirasakan bahwa semakin perlu dibicarakan kembali. Bahkan cerita tentang kasih Allah yang sederhana bisa mengubah orang-orang yang merasa dirinya sudah besar.
Dwight L. Moody menyelesaikan kebaktian kebangunan rohaninya di Birmingham, England. Waktu orang-orang mengucapkan selamat jalan kepada Moody yang akan kembali ke Amerika, seorang muda dalam jemaat itu ikut memberi ucapan selamat jalan kepada Dwight L. Moody, dan nama anak muda itu adalah Harry Morehouse.
Ia berkata kepada D. L. Moody, “Saya akan datang ke Amerika. Dan ketika saya sampai di sana, saya akan berkhotbah untuk Anda.” Pada umumnya tidak ada orang yang menyodorkan diri sendiri untuk berkhotbah. Biasanya seseorang berkhotbah oleh karena ada yang mengundangnya. Lalu Moody menjawab dengan bijaksana, “Yah, ketika Anda tiba di Amerika, hubungi kami. Kami akan menerima Anda dengan senang hati.”
Kira-kira enam bulan kemudian, ketika D.L. Moody ada di Chicago, ia menerima telepon dari Harry Morehouse yang ada di New York. Harry berkata kepada Moody, “Saya telah tiba di Amerika. Saya ada di New York. Saya ingin berada di Chicago pada hari Rabu dan saya ingin berkhotbah untuk Anda Rabu malam.”
Ketiba Rabu tiba, Moody harus pergi keluar kota, namun ia telah meninggalkan pesan, “Ada anak muda yang akan datang kemari yang bernama Harry Morehouse. Ia berasal dari Birmingham, England. Berilah kesempatan kepadanya untuk berbicara beberapa patah kata saja.”
Apa yang terjadi kemudian? Harry berkhotbah dari Yohanes 3:16. Dan di bagian akhir kebaktian Ia menantang orang-orang untuk percaya kepada Kristus, dan kira-kira ada sepuluh orang diselamatkan. Kemudian para diaken berkata kepada anak muda itu, “Besok malam atau Kamis malam kami ada kebaktian, dan Anda yang akan menyampaikan Firman Tuhan lagi.” Kamis malam anak muda itu kembali menyampaikan Firman Tuhan dari teks yang sama. Dan kira-kira ada lima belas orang diselamatkan. Mereka berkata lagi, “Jum’at malam kami ada kebaktian lagi. Dan Anda yang akan menyampaikan Firman Tuhan kembali.” Anak muda itu menyampaikan Firman Tuhan dari teks yang sama: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.” Kira-kira ada dua puluh orang diselamatkan.
Selesai kebaktian mereka berkata, “Sabtu malam, kami juga ada kebaktian lagi, dan kami minta Anda menyampaikan Firman Tuhan kembali.” Sabtu itu, D.L. Moody kembali ke Chicago. Dan istrinya berkata kepadanya, “Sayang, kita sedang berada di tengah kebangunan rohani yang luar biasa, kebangunan rohani yang ajaib. Banyak orang berubah dan bertobat.” Dan istinya melanjutkan, “Ketika kamu menghadiri kebaktian itu, pasti kami akan bertobat.” Moody menentangnya, dan berkata, “Saya telah berkhotbah lebih dari dua puluh tahun. Dan kamu katakan saya akan bertobat?”
“Ya,” kata isterinya. “Kamu akan melihatnya sendiri.”
Ketika ia datang dalam kebaktian Sabtu malam itu, ia duduk paling depan. Ia duduk di sana dengan sikap meremehkan anak muda itu. Namun ketika anak muda itu menyampaikan khotbahnya, kira-kira ada tiga puluh orang yang bertobat. Anak muda itu secara terus menerus berkhotbah dari ayat yang sama setiap malam di gereja itu selama enam minggu berturut-turut dan kebangunan rohani terjadi.
Ketika pelayanan itu berakhir, Moody berkata, “Istriku benar. Saya telah diubahkannya.” Ia berkata, “Selama ini saya berkhotbah dari sisi Sinai. Berkhotbah tentang Neraka, penghukuman dan api dan kilat dan guntur. Namun,” katanya, “Saya telah berubah. Saya telah bertobat. Saya mulai sekarang akan mengkhotbahkan sisi yang lain, yaitu tentang kasih Allah, dan darah Yesus serta pencurahan kasih Roh Kudus.”

Saya tidak ingin mengikuti Moody, bagi saya dua sisi: keadilan dan kasih Allah harus dikotbahkan. Tetapi harus diakui bahwa keadilan tidak sebanding dengan kasih Allah. Memang kasih Allah lebih bisa dimengerti dengan melihat kepada keadilan Allah. Tanpa keadilan Allah, kasih akan terlihat sebagai kasih murahan. Meskipun demikian, kasih Allah masih terlu dalam dan terlalu ajaib. Banyak orang yang sudah membicarakannya, tapi apa artinya bagi saya secara pribadi? Seberapa dalam pengenalan saya terhadap kasih Allah?
Suatu hari kalau bertemu lagi dengan sang dosen dan kalau pertanyaannya lagi dalami apa? Dengan mantap akan saya jawab, "Kasih Allah"

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Thursday, March 29, 2007

Menjadi Seorang Pelayan

Lagi bongkar-bongkar semua dokumen pribadi, eh ketemu beberapa lagu dan puisi yang pernah saya tulis, ini salah satu di antaranya. Di tulis pada saat melewati pergumulan mempertanyakan apakah Tuhan masih memberikan anugerah kepada hambaNya, karena seprtinya Tuhan meninggalkan hambaNya yang sedang dalam kesulitan dan sangat membutuhkan pertolongan. Dalam pergumulan itu juga mempertanyakan apakah saya betul-betul adalah hambaNya? Karena hidup sepertinya saat itu penuh dengan kesulitan dan penderitaan. Saat memikirkan semua itu, maka muncullah kalimat-kalimat dan menjadi suatu pujian. Notnya masih saya tulis, tapi saya lupa cara menyanyikannya. Seingat saya, lagunya cepat dan gembira.

Menjadi Seorang Pelayan

Ketika masih dalam dosa
Tuhan datang menyelamatkan
Bukan kar'na kita berjasa
Tapi kar'na anug'rah Tuhan

Kita t'lah dis'lamatkan Tuhan
dan juga jadi pelayanNya
Itu semua anug'rah Tuhan
Menurut kasih karuniaNya

Reff:
Kita semua pelayan Tuhan
Pemb'rian kasih karuniaNya
Untuk membawa Injil Tuhan
Kepada semua manusia

Keberanian diberiNya
Untuk membawa Injil Tuhan
Janganlah takut menderita
'Tuk memuliakan nama Tuhan

Musik dan Syair oleh Ronald Arthur
Depok, 26 Juli 1996
15.30 WIB

Tuesday, March 20, 2007

Mujizat masih berlangsung?

Berada di dalam kesulitan yang terus-menerus, selalu ada masalah ataupun tidak ada jalan keluar dalam hidup ini, maka banyak yang melihat bahwa mujizat adalah jalan keluarnya. Mujizat membuat yang tidak mungkin dan menjadi mungkin. Dalam hidup manusia sangat menginginkan terjadi mujizat, khususnya kalau sudah merasa tidak sanggup lagi. Itu sebabnya berbagai tawaran untuk mendapatkan mujizat dalam sakit-penyakit, dalam kerja, dan dalam keseluruhan hidup, menjadi tawaran yang sangat menarik bagi agama dan kepercayaan apapun. Betulkah hanya mujizat yang bisa menjadi jalan keluar dari seluruh kesulitan hidup manusia, khususnya kalau kita melihat apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini? Saya ingin merenungkan pengertian mujizat di atas kayu salib. Adakah mujizat di atas kayu salib?

8 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi". 39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" 40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." 42 Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." 43 Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."
Luk 23:38-43

Lukas menggambarkan bagaimana keadaan awal ketika Yesus Kristus di salib. Doa untuk orang-orang yang membuat diriNya di salib, tetapi kemudian caci-maki, hujatan dan hinaan dari orang-orang yang ada di situ. Di ayat 38, Lukas menyimpulkan hinaan itu dengan menuliskan apa yang ada di atas kepala Yesus Kristus, "Inilah Raja orang Yahudi." Apakah orang-orang yang menyalibkan Tuhan Yesus mengakui bahwa Ia adalah Raja? Tentu saja, tidak! Karena itu hanyalah hinaan.
Tetapi yang menarik, Lukas melanjutkan bahwa ada orang yang mengakui Yesus sebagai Raja. Sebelum membahas akan hal itu, mari kita lihat dulu ayat 39. Di dalam ayat ini, seorang penjahat yang ikut di salib bersama-sama Tuhan Yesus, ikut-ikutan menghina Tuhan Yesus. Kalau kita perhatikan kalimat penjahat itu, maka kita akan kaget. Penjahat itu mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus (yang diurapi), sehingga seharusnya bisa menyelamatkan diriNya sendiri dan tentu saja sang penjahat. Iman dan pengetahuan teologi dari penjahat ini ternyata cukup baik. Apa sih yang jadi permintaan (lebih tepat dalam kesomobongannya memerintah Tuhan Yesus) dari penjahat ini berdasarkan iman dan pengetahuan teologinya? Hanya meminta mujizat di atas kayu salib. Saya membayangkan bahwa yang diminta oleh sang penjahat, paku2 tercabut dari tangan Tuhan Yesus dan dari penjahat2 yang di salib, kemudian mereka terbang dan turun dari salib perlahan-lahan. Sementara para prajurit satu persatu di bunuh. Apakah mujizat itu yang dilakukan oleh Tuhan Yesus? Bukan!
Bukankah Tuhan Yesus sanggup melakukannya dan sang penjahat itupun tahu dan mengakuinya? Tetapi bukan mujizat seperti itu yang akan ditunjukkan di atas kayu salib. Lho, ada mujizat lain? Bagi saya ada! Kalau perhatikan dari ayat 40-42, kita bisa melihatnya. Penjahat yang lain yang sedang berada di atas kayu salib justru menegur sang penjahat itu, kemudian mengakui dan menyadari keberdosaannya serta memberikan pengakuan dan permintaan yang luar biasa, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Ia tidak meminta mujizat, karena ia sudah mengalami mujizat. Seorang penjahat mengakui dosanya, dan menyadari bahwa Tuhan Yesus yang adalah Raja yang akan datang kembali yang bisa menyelamatkannya. I a tidak meminta sang Raja untuk melepaskan dari kesulitannya saat itu, meskipun ia juga beriman bahwa sang Raja pasti mampu melakukannya. Ia tetap menghadapi kesulitan yang harus dihadapi (menurut saya dengan sukacita karena ia sudah mengenal Tuhan Yesus), menjalaninya dengan harapan yang pasti pada kekekalan. Mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di atas kayu salib melebihi dari mujizat-mujizat air menjadi anggur, memberi makan 5.000 ribu orang, menyembuhkan dan membangkitkan orang mati. Karena mujizat di atas kayu salib, mengubah hati seorang penjahat, membangkitkannya dari kematian atas dosa-dosa dan memberikan hidup yang kekal. Wow! Dan sang penjahat beriman bukan karena melihat mujizat atau sang Raja dalam kemegahannya seperti para Kaisar Romawi. Yang dilihat adalah Yesus Kristus yang tersalib, tetapi dengan iman ia bisa melihat apa yang tidak kelihatan dan tidak bisa dilihat orang-orang berdosa (yang menganggapnya sebagai hinaan), yaitu Raja yang akan datang kembali.
Penjahat yang pertama tidak dijawab oleh Tuhan Yesus, tetapi untuk penjahat yang kedua justru mendapat anugerah yang luar biasa. Hari ini juga bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam Firdaus. Anugerah di dalam kekekalan. Sang penjahat bukan berpusat kepada keadaan, tetapi kepada pribadi Kristus dan ia mendapatkan anugerah bersama-sama dengan Kristus di dalam Firdaus. Sebenarnya, apa yang lebih dibutuhkan oleh manusia? Keadaan berubah sesuai dengan keinginannya dan mengorbankan apa saja yang penting kita untung, enak dan baik-baik menikmati segala sesuatu? Ataukah terus berelasi dengan Allah kita yang menjadi sumber dari segala sesuatu? Bersama-sama dengan Kristus akan membuat hidup dalam keadaan apapun tetap menjadi suatu keadaan yang berlimpah dan penuh sukacita. Sementara hidup yang hanya berpusat pada keadaan dan memanfaatkan Tuhan, maka hidup akan menjadi hidup yang sulit dan menyedihkan. Karena keadaan akan terus berubah dan tidak ada satupun dalam hidup ini yang bisa memuaskan hidup manusia. Semuanya, kepuasan sementara dan bukan kepuasan kekal. Maka, mujizat seperti ini yang diperlukan oleh manusia di dunia ini, khususnya di Indonesia. Mujizat yang membuat manusia berpusat kepada pribadi Allah dan bukan pada keadaan.
Indonesia tidak bisa hanya mengharapkan mujizat dari IMF. Bangsa ini tidak bisa bermimpi bahwa program MDGs bisa melepaskan dari kemiskinana dan kesulitan yang terjadi. Bangsa ini sudah berada di dalam jurang yang paling dalam, tetapi masih seperti penjahat yang menyuruh Tuhan segera melepaskan dari kesulitan ini. Tiada hari tanpa berita korupsi (padahal ini hanya gunung es). Kesulitan Lapindo tidak ada jalan keluar. Negara penghasil beras sekarang kekurangan beras (dimana-mana ada demo harga beras). Musibah dan bencana alam sepertinya tidak pernah berhenti, sementara para elite politik sibuk memanfaatkan rakyat dan agama untuk tujuan kekuasaan. Banyak yang sudah menyerukan pertobatan, tetapi bangsa ini tidak mengerti lagi bagaimana harus bertobat. Kita butuh mujizat. Bukan meminta dan menyuruh Tuhan langsung mengubahkan seluruh keadaan dan krisis yang ada. Tetapi, yang perlu diubahkan adalah hati kita. Dari dalam hati kita mengakui bahwa hanya Tuhan Yesus yang bisa memberikan harapan. Dan di dalam ketidakberdayaan, mari kita minta anugerah Tuhan untuk menguatkan kita menghadapi seluruh kesulitan ini dan belajar dari segala kesalahan untuk bekerja keras memuliakan Allah.
Orang-orang yang bisa melihat Yesus sebagai Raja yang akan datang kembali adalah orang-orang yang bisa melihat visi dunia ini, apa yang akan terjadi dengan dunia ini dan bagaimana seharusnya kita menguasai dan menaklukkan dunia ini bukan hanya untuk kenikmatan diri sendiri tanpa memikirkan orang-orang lain dan Tuhan, tetapi justru sebagai bagian untuk memelihara dunia ini dan menggenapkan rencana Allah.
Semoga lebih banyak orang di bangsa ini yang betul-betul mengakui keberdosaan dan keterbatasan dirinya, serta mengakui bahwa sang Raja yang bisa menolong kita untuk menghadapi kesulitan ini, menanggung apa yang harus ditanggung dengan anugerah kekuatan dari Allah, dibukakan visi kepada kekekalan dan mengerjakan segala sesuatu dalam kesementaraan ini untuk menggenapi kehendakNya dan bagi kemuliaanNya.

At the cross, at the cross where I first saw the light,
And the burden of my heart rolled away,
It was there by faith I received my sight,
And now I am happy all the day!


Isaac Watts


Click di sini untuk lihat seluruh syair dan lagunya

Thursday, March 15, 2007

The Opium of Positive Thinking

Beberapa bulan yang lalu, sempat beberapa kali ada kesempatan di hari Rabu-Kamis untuk nonton Audisi American Idol. Ribuan orang di beberapa kota di Amerika datang dengan mimpi-mimpi untuk menjadi seorang idol. Dan, kalau menjadi American Idol menjanjikan kesuksesan yang luar biasa. Kenyataannya lebih banyak yang bermimpi dan sangat kecewa dengan mimpinya yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Banyak peserta audisi yang sudah berlatih dan mempersiapkan diri dengan sangat baik (menurut mereka) dan merasa pasti bisa untuk menjadi seorang American Idol. Minimal dapat tiket ke Hollywood. Sudah memproyeksikan dirinya, percaya dengan banyak hal yang akan terjadi dengan pikirannya yang positif. Tapi, sesungguhnya kalau dilihat dengan akal sehat, sangat jauh dari klaimnya yang merasa akan berhasil. Mengapa banyak orang menipu dirinya sendiri?

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Rom 12:3

Beberapa alasan dari kesulitan dan kegagalan manusia adalah karena manusia terlalu percaya dengan positive thinkingnya. Banyak orang yang memimpikan terlalu jauh dibandingkan dengan yang seharusnya dilakukan di dalam beberapa hal. Sedangkan di dalam beberapa hal yang lain di mana seharusnya memikirkan lebih tinggi, ternyata tidak pernah sampai ke situ. Maka Rasul Paulus mengatakan perlu ukuran iman yang sudah dianugerahkan Allah kepada kita masing-masing. Nah, di sini masalahnya. Ukuran iman ternyata digantikan oleh positive thinking. Banyak orang tidak ingin melihat ukuran iman itu, tetapi lebih ingin melihat apa yang diinginkan untuk melepaskan dirinya secepat mungkin dari segala kesulitannya dan secepatnya bisa menikmati segala kenikmatan yang kelihatannya mungkin untuk dijangkau dengan iman.
Jadi, sebenarnya banyak orang yang merasa sedang memikirkan ukuran imannya, sebenarnya melupakan kata-kata sebelum 'menurut ukuran iman', yaitu kata 'menguasai diri.' Dalam bahasa Yunaninya, Rasul Paulus menggunakan dua kata phronein dan sophronein, yang artinya berpikir dan melatih dalam mengontrol pikiran/diri. Di zaman sekarang ini, banyak orang yang mengatakan bahwa ia beriman bahwa segala sesuatu yang dipikirkan akan terjadi, hanya menunjukkan bahwa ia tidak bisa mengontrol dirinya akan segala keinginan yang diharapkan segera terjadi. Jauh sekali berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus. Positive Thinking sudah membius dan mengikat banyak orang, bagaikan candu, ditengah kesulitan dan pergumulan seolah-olah jalan keluarnya hanyalah dengan berpikir positif yang cenderung menipu dan memanipulasi.
Seharusnya kita berlatih untuk menerima keadaan dan belajar melihat bahwa keadaan sekarang, selama masih ada waktu dan kesempatan serta anugerah dari Tuhan, maka keadaan itu bukan akhir dari segalanya. Jadi belajar menerima keadaan. Yang harus terjadi dan yang harus ditanggung, haruslah ditanggung. Ketika kita harus kehilangan mimpi-mimpi, barang-barang dan bahkan orang-orang yang kita kasihi, kita harus menerima kenyataan itu. Pemikiran kita yang positif tidak akan mengembalikan semuanya.
Seharusnya juga kita melihat masa depan bukan hanya berdasarkan keinginan kita, tetapi menghubungkannya dengan seluruh rencana Allah dan membuka mata melihat sejarah yang sedang berlangsung. Kalau mata kita betul-betul terbuka, maka seharusnya kita makin pesimis dan bukan optimis dengan dunia ini. Karena dosa lebih merajalela, orang yang betul-betul bersaksi semakin sedikit. Bahkan banyak orang Kristen yang hanya hidup untuk dirinya ambisinya, keluarganya, gerejanya dan tidak ingin melihat keseluruhan Kerajaan Allah. Harusnya keadaan ini tidak bisa membuat kita positive thinking. Kecuali kalau kita lari dari kenyataan atau ingin lari dari kenyataan. Tetapi, semuanya belum berakhir, ada rencana Tuhan yang indah bagi umat pillihanNya. Dan seharusnya di dalam kepesimisan yang paling dalam kita tetap bisa melihat anugerah dan pemeliharaan Allah yang terus bekerja. Itu sebabnya dunia ini tidak segera berubah menjadi neraka sesudah manusia jatuh dalam dosa dan makin bertambah jahat.
Maka, bagi saya seharusnya kita belajar untuk mengerjakan apa yang sudah dibukakan oleh Tuhan saat ini, sambil memikirkan apa dampaknya sampai kepada kekekalan. Dan kemudian melakukan lagi apa yang telah kita pikirkan sampai pada kekekalan. Pelajaran ini tidak akan membuat kita tertipu dengan fenomena dan keinginan kita yang begitu mencintai diri sendiri dan hanya menginginkan diri kita sendiri yang bahagia. Tuhan justru akan membuat kita semakin jelas dengan segala hal yang terus dibukakanNya kepada kita, karena Dia sudah mempersiapkan semuanya.
Semoga Allah kita terus menganugerahkan iman kepada kita untuk melihat segala sesuatu di dalam rencanaNya dan kita hidup terus-menerus di dalam pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya.

I don't know about tomorrow,
I just live from day to day.
I don't borrow from it's sunshine,
For it's skies may turn to gray.
I don't worry o'er the future,
For I know what Jesus said,
And today I'll walk beside Him,
For He knows what is ahead.

I don't know about tomorrow,
It may bring me poverty;
But the One Who feeds the sparrow,
Is the One Who stands by me.
And the path that be my portion,
May be through the flame or flood,
But His presence goes before me,
And I'm covered with His blood.

Many things about tomorrow,
I don't seem to understand;
But I know Who holds tomorrow,
And I know Who holds my hand.


Words and Music by Ira Stanphill

Wednesday, March 14, 2007

Too Much Love Will Kill You

Hari ini melihat dua berita yang sudah biasa terjadi di dalam dunia yang berdosa, tetapi sekali lagi menjadi sesuatu yang harus dipikirkan kembali dengan pertanyaan, WHY? Berita pertama, tentang seorang Polisi yang membunuh atasannya dan akhirnya ditembak mati, karena diduga tidak menerima dirinya dipindahkan ke tempat lain (yang mungkin menurutnya kurang baik!?). Berita yang kedua, seorang Ibu membunuh empat anaknya yang masih kecil-kecil dengan mencampur potasium dengan susu, kemudian sang ibu bunuh diri. Alasannya, karena tekanan ekonomi yang begitu berat dan seorang anaknya gagal ginjal, sehingga harus cuci darah setiap minggu. Sebenarnya, masih banyak peristiwa yang terjadi di dalam dunia ini, bahkan lebih buruk dan bervariasi dan tentu saja lebih kejam yang pernah terjadi, sedang dan akan terjadi. Mengapa semua ini terjadi? Tulisan ini tidak akan membahas tentang bunuh diri, tetapi ingin menunjukkan dua hal yang berbeda dalam menyerahkan nyawa kepada Tuhan.

"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34)
“Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaKu” (Luk 23:46)

Ada persamaan dan perbedaan yang signifikan antara peristiwa yang saya sebutkan di atas dengan kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib. Sama-sama melibatkan cinta dan sama-sama menyerahkan nyawa sendiri kepada Allah. Tetapi, ada perbedaannya yang signifikan. Kejadian-kejadian yang berakibat pada bunuh diri didasarkan kepada cinta diri yang berlebihan dan menurut bahasa psikologinya mengakibatkan depresi yang berlebihan. Yang ujung-ujungnya adalah menyerahkan nyawanya. Di atas kayu salib, Tuhan Yesus juga menyerahkan nyawaNya, tetapi bukan untuk cinta diriNya, tetapi justru karena kasihNya kepada Bapa dan untuk membangkitkan banyak orang yang mati dalam dosa untuk hidup penuh harapan.
Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus seringkali disalahmengerti. Sebagian orang berpikir, bahwa yang namanya kasih adalah sekedar kerelaan mengampuni dan menerima apa adanya. Doa Tuhan Yesus yang meminta pengampunan kepada Bapa atas dosa-dosa orang pilihan, sebenarnya melibatkan pengorbanan. Ketika Tuhan Yesus berkata, "Ampunilah mereka" saat itu juga Ia sedang menyerahkan diriNya sebagai gantinya. Jadi, kalimat itu bukan hanya berarti ampuni mereka, tetapi juga berbunyi,"Ini Aku, hukumlah Aku" atau yang keluar dari kalimat terakhir di atas kayu salib, "Ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu" Doa dan perbuatan yang bukan bersumber dari keegoisan yang melihat segala sesuatu hanya untuk diri sendiri dan juga bukan perbuatan yang berusaha untuk menolong orang lain tetapi mengorbankan orang lain (seperti Ibu yang membunuh anaknya sendiri utk melepaskan mereka dari penderitaan). Melainkan perbuatan yang menyerahkan diri untuk membuat manusia sadar akan kematian di dalam dosa-dosanya dan dibangkitkan untuk hidup yang bukan berpusat pada dirinya dan masa depan serta mimpinya yang palsu. Manusia dibangkitkan untuk hidup bagi Allah dan untuk masa depan yang sejati, di dalam kekekalan.
Dalam doaNya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa manusia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Dalam kalimat saya, manusia terlalu sok tahu dengan segala sesuatu. Mengandalkan kemampuannya, kekayaannya, otaknya, teknologi dan segala sesuatu yang sebenarnya adalah anugerah dan kesempatan dari Tuhan; dan dengan sombongnya menantang dunia dan Tuhan sendiri, seolah-olah dirinya sudah sangat hebat dan bisa melakukan segala sesuatu. Sebenarnya, kalau manusia sedikit pinter saja, silahkan belajar sejarah dan lihat apa yang sudah terjadi terhadap orang-orang yang seperti itu. Akh.., tetapi manusia teralu hebat untuk mengerti itu dan mungkin bisa merubah banyak hal dalam sejarah!? Banyak manusia yang hidup di dalam bayang-bayang, mimpi dan keinginan2 yang tidak pernah terwujud. Sampai pada akhir hidupnya, semua orang akan menyadari bahwa apa yang dikejar dalam hidup ini, hampir semuanya sia-sia. Tetapi, di masa muda dan di masa jayanya, manusia merasa tahu apa yang dilakukannya. Doa Tuhan Yesus adalah untuk orang-orang pilihan yang berdosa dan terlalu sok tahu, agar ada pengampunan dan perubahan dalam hidup orang-orang seperti ini. Sesungguhnya, sedikit saja anugerah Tuhan diambil dari orang-orang yang sok tahu, maka kemungkinan besar hidup mereka akan diakhiri dengan depresi dan bunuh diri. Sejarah sudah mencatat banyak kejadian tentang hal ini. Orang-orang yang sangat kaya dan terkenal, politisi, artis, musisi, olahragawan dan berbagai profesi lainnya, mengakhiri hidupnya dengan depresi dan bunuh diri. Mengapa orang-orang yang mendapatkan begitu banyak anugerah dalam hidupnya tidak mengakhiri hidupnya dengan penuh inspirasi kepada banyak orang, membuat orang-orang yang sudah tidak mempunyai harapan memiliki harapan kembali, dan bukan itu saja, tetapi ingin hidup lagi untuk melayani sesama dan memuliakan Allah? Ketika manusia yang terlalu sok tahu, sangat mencintai diri sendirinya menemukan bahwa apa yang dimimpikannya jauh dari harapan dan keinginannya dan bahkan mempermalukan dan menyakitkan dirinya, maka hidup seolah-olah sudah berakhir. Meminjam judul lagunya Queen, Too much love will kill you...
Karena doa dan pengorbanan dari Tuhan Yesus, seharusnya membuat orang-orang pilihan tidak kehilangan harapan selama hidup di dunia ini. Justru membangkitkan harapan di dalam segala keadaan dan berusaha untuk terus memuliakan dan menikmati Allah dalam segala keadaan dengan melayani sesama. Pasti juga ingin mati, bukan karena ingin lari dari dunia ini dan tidak tahan menanggung segala kesulitan dan penderitaan, tetapi keinginan untuk mati itu ada karena hidup yang kekal, bertemu dengan Tuhan Yesus dan ingin mempersembahkan segala hal yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia. Apa yang akan dipersembahkan kepada Allah oleh seseorang yang akhirnya bunuh diri karena tidak percaya lagi bahwa dalam keadaannya yang begitu sulit, Tuhanpun tidak bisa menolong dirinya dan tidak bisa memberikan berkat dan jalan keluar baginya? Di mana kuasa kebangkitan Tuhan Yesus?
Seandainya semua manusia bisa memandang kepada apa yang sudah dilakukan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib, maka tidak ada lagi bunuh diri. Maut sudah dikalahkan dengan kematian (dan kebangkitan) Tuhan Yesus. Dan manusia harusnya belajar, bahwa cinta kita yang berlebihan terhadap diri kita sudah membunuh Tuhan Yesus. Haruskah membunuh orang lain lagi dan diri kita sendiri? Tidak perlu lagi. Seharusnya kasih yang keluar dari hidup kita. Seperti yang keluar dari perkataan Tuhan Yesus yang pertama di atas kayu salib, "Ya Bapa, Ampunilah mereka" dan seharusnya hidup yang lebih berserah kepada Allah dan mempercayakan seluruh hidup yang penuh perjuangan dan penderitaan ini kepada pemeliharaan Allah yang terus-menerus menghidupkan kita. Kalu tidak, akan lebih banyak lagi yang sedang menuju ke bunuh diri. Karena hidup sepertinya tidak ada harapan dan kepastian. Padahal kematian tidak membereskan dan membuat kita meninggalkan segala kesulitan dan permasalahan kita. Tetapi, seharusnya kematian membuat segala hal yang sudah kita lakukan di dunia ini mencapai puncaknya dan disempurnakan oleh Allah.

O soul are you weary and troubled?
No light in the darkness you see?
There's light for a look at the Saviour,
And life more abundant and free.

Turn your eyes upon Jesus,
Look full in His wonderful face,
And the things of earth will grow strangely dim,
In the light of His Glory and Grace.

Helen H. Lemmel (1922)

Pengen denger lagu ini atau lihat keseluruhan syairnya?
Klik disini

Tuesday, March 6, 2007

Fly me to the Moon

Fly me to the moon
And let me play among the stars
Let me see what spring is like
On Jupiter and Mars


Saya tidak ingin membahas lagu ini, kalimat pertama dalam lagu ini, membuat saya berkeinginan untuk melihat bumi ini dari sudut yang berbeda. Khususnya setelah mendengar lagi berita tentang bencana2 alam. Jadi mungkin diganti dengan Fly me to the moon to see what happen on the earth. Mengapa? Bumi ini sepertinya semakin banyak bencana alam dan musibah. Nonton berita di TV, ga ada habis-habisnya dengan bencana. Apalagi di Indonesia. Selain bencana alam, melibatkan juga kecerobohan manusia. Mungkin karena seperti lirik lagu Fly me to the Moon, manusia lebih banyak memuja manusia sendiri, dan hanya mempergunakan ciptaan Tuhan dan Tuhan sendiri bagi keuntungan manusia semata.

Apa gunanya segala bencana alam dan musibah yang terjadi di dalam hidup ini? Di Indonesia, terjadi tsunami dan gempa bumi. Dan sampai sekarang, gempa-gempa susulan terus terjadi di seluruh dunia. Sangat sesuai dengan musik zaman sekarang, yagn terus bergoyang. Maka bumi inipun seperti ingin mengikuti dan menyesuaikan dengan musik dan selera zaman ini!? Dimana-mana terjadi badai, di Indonesia angin puting beliung terjadi di mana-mana. Padahal baru saja selesai banjir di beberapa propinsi. Belum lagi dengan berbagai kecelakaan pesawat dan kapal laut. Apa maksudnya semuanya ini? Haruskah manusia pindah dari bumi ini? Bumi ini sudah terlalu tua dan sakit? Waktunya kiamat sudah dekat? Bisakah kita lari ke bulan? Fly me to the moon!

Sebenarnya, bencana-bencana dan musibah yang terus terjadi dalam hidup ini mengingatkan kita bahwa manusia sebenarnya lemah dan tidak berdaya. Sepintar apapun, manusia tidak bisa mengendalikan berbagai bencana alam dalam hidup ini. Sekalipun dengan kepintaran dan kecanggihan teknologi, manusia bisa mendeteksi beberapa bencana alam, tetapi manusia ternyata tetap tidak sanggup untuk menghadapinya. Hanya bisa pasrah dan meminimalisir kerusakan yang terjadi. Padahal sebagian bencana alama, karena ulah dan kepintaran manusia yang mengembangkan teknologi tanpa memelihara alam. Kesimpulannya, bencana mengajarkan manusia untuk rendah hati.

Selain itu, setelah menyadari kelemahannya, maka manusia biasanya mengakui bahwa hanya Tuhanlah tempat perteduhan, tempat perlindungan, batau karang yang tergoyahkan, kota benteng, dan banyak lagi istilah masing-masing tergantung konteks dan kebutuhan manusia. Bencana-bencana alam yang terjadi di Indonesia, sebenarnya memberikan kesempatan untuk terbukanya berbagai kesempatan untuk berkomunikasi, menolong dan menyatakan cinta kasih dan bahkan memberitakan Injil kepada begitu banyak orang yang dulu begitu sombong, menutup diri dan merasa mampu. Ketika orang-orang percaya melupakan kesaksian dan hanya sibuk memuja dan memperhatikan diri dan gereja sendiri,
maka Tuhan memakai caraNya untuk mengingatkan orang percaya akan tugas dan panggilanNya. Kita yang tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bersaksi, akhir-akhir ini justru diberi kesempatan yang begitu besar dengan berbagai macam bencana.

Kesaksian bukan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai materi yang berlimpah, tapi juga oleh orang-orang yang mengalami musibah itu, dengan tetap bersukacita dan bergantung kepada Tuhan dan bahkan bisa menyaksikan cinta Tuhan dalam keadaan yang sulit seperti itu. Sama seprti Ayub, pada waktu kehilangan seluruh harta dan anak2nya, justru berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21).

Ataupun seperti Habakuk dalam Hab 3:17-18, yang berkata,"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku."
Maka, siapapun dan dalam keadaan apapun bisa bersaksi. Karena kesaksian yang terbaik bukan tentang berkat-berkat, bukan tentang diri kita (meskipun kita bisa juga menceritakan berkat2 dan pembentukan diri kita oleh Tuhan), tetapi kesaksian tentang Tuhan yang menjadi sumber dari berkat2, dunia ini dan diri kita. Kecuali seseorang kehilangan Tuhan, maka dia tidak bisa bersaksi lagi.
Jadi, mari kita melihat sudut lain dari segala musibah dan bencana alam yang akan terus-menerus terjadi. Mari kita menyadari keberadaan kita yang tidak berdaya sama sekali, tapi ada harta yang berharga di dalam kita, yang bisa kita saksikan. Mari kita berdoa agar Tuhan membukakan mata kita dan bukan hanya melihat segala sesuatu dari fenomena yang ada, tapi bisa melihat dari rencana Tuhan yang kekal.

Fly me to the moon
Let me play among those stars
Let me see what spring is like
On Jupiter and Mars

Fill my heart with song
Let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore


Lirik yang lengkap bisa dilihat di sini. Mau denger atau download lagu Fly Me to the Moon? (Click Here).

Saturday, March 3, 2007

Tears of Joy

Hari ini harusnya ultah Mammi yang ke 61. Tapi, Mammi sudah meninggal tanggal 10 Juni 2006. Jadi, tahun ini tidak ada lagi ultah, yang ada hanyalah kenangan. Kenangan yang mengingatkan pelajaran berharga untuk hidup. Ada dua moment di dalam waktu yang jauh berbeda, saya menangis untuk kematian Mammi. Dan dua tangisan itu adalah tangisan dengan arti yang juga berbeda. Tangisan yang pertama, terjadi di tahun 1991. Waktu itu mimpi kalau Pappi dan Mammi meninggal dunia. Bangun dari tidur, langsung nangis, tangisan kesedihan. Hari itu baru sadar, mungkin tidak akan pernah ketemu lagi dengan kedua orangtuaku. Karena saat itu, saya sudah pergi jauh dari rumah selama 1 tahun, dan mungkin tidak akan pernah pulang lagi ke rumah.
Sedangkan tangisan yang kedua, adalah tangisan pada tanggal 12 Juni 2006. Hari itu, saya harus mewakili keluarga untuk memberikan ucapan terima kasih pada saat penguburan Mammi. Tangisan itu adalah tangisan sukacita, karena mengingat iman Mammi yang tetap mengingat Tuhan saat bergumul dengan penyakit kanker payudaranya, bahkan bisa tetap bersyukur dan pada hari kematiannya kelihatan bersukacita. Jadi ingat saat-saat di rumah sakit, waktu kankernya sudah menjalar sampai ke paru-paru, ada satu lagu yang Mammi seneng dan suka nyanyiin bareng Elvis Presley dari notebook saya. Lagu itu karangan dari Ira F. Stanphill, Mansion Over The Hilltop (Click di sini untuk denger lagunya dan seluruh teksnya), chorusnya:

I've got a mansion just over the hilltop,
In that bright land where we'll never grow old;
And someday yonder we will never more wander,
But walk the streets that are purest gold.

Mengingat semua itu dan kebahagiaan yang dialami oleh Mammi yang membuat saya menangis dengan sukacita di hari penguburan Mammi.
Akhir-akhir ini kembali saya memikirkan tentang perbedaan menangis dan tertawa. Kotbah ke berbagai tempat (khususnya persekutuan2 doa), pemimpin pujian/MC, biasanya berusaha membuat jemaat untuk bisa tertawa dan dianggap itu sebagai sukacita. Apa betul tertawa itu identik dengan sukacita? Ada yang bilang bahwa tertawa itu baik untuk kesehatan, tertawa bisa menyembuhkan, bahkan ada terapi tertawa. Tetapi, apakah tertawa itu pasti sukacita? Saya coba memperhatikan orang yang tertawa. Beberapa di antara mereka adalah orang gila. Sebagian lagi, adalah orang-orang yang mengambil keuntungan dari orang lain, berhasil menipu orang lain dan mereka tertawa. Sebagian lagi yang disebut dengan humor dan lucu adalah kejadian2 yang membuat orang lain kelihatan bodoh, melakukan kesalahan, jadi obyek penderitaan. Jadi, tertawa karena orang lain menderita. Itulah humor yang lucu. Jarang sekali, humor yang mempergunakan logika dan membuat orang tertawa. Dan mungkin ada sebagian kecil yang tertawa karena sukacita!? Dan anehnya, dalam kehidupan Tuhan Yesus, tidak pernah disebutkan bahwa Tuhan Yesus tertawa. Bahkan Tuhan Yesus pernah berkata dalam Lukas 6:25, "Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis." Apakah Tuhan Yesus tidak ada sukacita selama hidup di dunia?
Sejujurnya, saya suka sekali ketawa. Bahkan karena satu sekolah teologi melarang untuk ketawa berlebihan, maka saya memutuskan untuk tidak masuk sekolah teologi itu. Saya memiliki kemampuan untuk mentertawakan diri sendiri, mentertawakan orang lain dan dunia, serta membuat orang lain tertawa. Tapi, apakah waktu melakukan semuanya itu saya bersukacita, jawabannya: Tidak tentu!
Bagaimana dengan menangis? Biasanya menangis identik dengan kesedihan, kehilangan, musibah, dan semua yang berhubungan dengan hal itu. Tetapi, biasanya orang melupakan satu hal tentang menangis. Malam ini, mimpin KKR di salah satu gereja. Waktu altar call, beberapa dari yang maju ke depan menangis terus dan tidak ada satupun yang tertawa. Apakah mereka sedih dan tidak ada sukacita karena menyerahkan hidup kepada Tuhan? Faktanya, semua orang yang betul-betul mengalami sukacita yang dalam justru menangis dan bukan tertawa. Bahkan orang yang tertawa terbahak-bahak justru sering diakhiri dengan air mata.. Sehingga menangis justru menjadi satu elemen yang lebih penting dibandingkan dengan tertawa. Pertanyaannya, hal-hal apa yang membuat seseorang menangis dengan sukacita? Apakah itu karena hal-hal yang sementara ataukah hal-hal yang bernilai kekal?
Ada banyak tangisan dan air mata kita seharusnya disimpan untuk hal-hal yang bernilai kekal, dan bukan hanya air mata buaya yang selalu datang begitu saja dalam kesulitan dan penderitaan. Justru kita seharusnya terus memiliki tangisan untuk jiwa-jiwa orang pilihan yang masih hidup dalam dosa, tangisan sukacita waktu melihat mereka kembali kepada Bapa, tangisan untuk kehendak Allah yang belum digenapi dan tangisan untuk sukacita orang-orang percaya yang hidup menurut jalan-jalan Tuhan, dan masih banyak-banyak lagi tangisan-tangisan yang penuh sukacita dalam kehendak Tuhan yang akan dianugerahkan Tuhan. I'm waiting for it? What about you?

2 In my Father's house are many mansions: if it were not so, I would have told you. I go to prepare a place for you.
3 And if I go and prepare a place for you, I will come again, and receive you unto myself; that where I am, there ye may be also.
John 14:2,3

Thursday, March 1, 2007

Have I Told You Lately that I Love You?

Lagi lihat kembali tulisannya Bernard of Clairvaux (1090-1153), salah seorang tokoh Medieval. Meskipun penekanannya pada 'Virgin Mary' (lihat di sini) tidak bisa saya setujui, tapi tulisannya tentang 'mengasihi Allah' dalam ON LOVING GOD (baca, dengar, download gratis) sangat menarik untuk dibahas. Bernard membagi dalam Empat tahap mengasihi Allah (Saya sering pake juga untuk menggambarkan dalam mengasihi manusia). Tulisan Bernard ini sangat baik untuk mengevaluasi, apakah kita benar-benar mengasihi Allah dan manusia.

37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mat 22:37-39

Bernard menulis keempat tahap ini dalam 3 bab, dari bab 8 sampai bab 10. Saya sedikit mengutip dan menanggapinya.
1. Of the first degree of love: wherein man loves God for self’s sake(Ch. VIII)
"In such wise man, animal and carnal by nature, and loving only himself, begins to love God by reason of that very self-love; since he learns that in God he can accomplish all things that are good, and that without God he can do nothing."
Manusia biasanya mulai mengasihi Allah karena mengasihi dirinya sendiri. Membutuhkan sesuatu dari Tuhan, makanya datang kepada Allah dan mengasihiNya. Anehnya, Allah juga sering memberikan apa yang kita butuhkan dan kita minta. Menurut saya, kebanyakan orang-orang yang sedang berada dalam kesulitan dan membutuhkan Tuhan biasanya memiliki kasih seperti ini. Banyak orang rajin untuk berdoa dan mengatakan mengasihi Allah, padahal sebenarnya hanya mengasihi berkat2 Allah dan butuh itu saja. Ujung-ujungnya sebenarnya mengasihi diri sendiri. Bisa dilihat pada banyak contoh orang yang datang ke Persekutuan Doa. Begitu lagi banyak masalah dan butuh sesuatu, rajin ikut PD dan PA, bahkan kalu bisa acara apapun ikut. Tetapi, begitu sudah dapat jawaban (baik iya maupun tidak jawabannya), maka semangatpun mulai luntur dan lama-kelamaan jarang muncul di PA dan PD. Maaf, ini bukan nuduh semua begitu. Hanya analisa doang dan melihat kenyataan..Bagaimana kalau hidup ini terus-menerus jauh dari berkat-berkat Tuhan yang terus kita inginkan dan kita minta? Masihkah kita mengasihi Allah?

2. The second degree of love: because we have tasted and seen how gracious the Lord is (Ch. IX)
Tahap kedua ini adalah tahap peralihan dari tahap pertama ke tahap ketiga. Itu sebabnya Bernard menulisnya dalam satu bab. Biasanya ini dialami oleh orang-orang yang sudah mengalami betapa baiknya Tuhan. Dasar mengasihi Allah, karena kebaikan-kebaikan dan berkat-berkat yang tiada habis-habisnya. Selalu baru setiap pagi. Great is Thy Faithfulness..Tapi, kasih seperti inipun ada nuansa egois. Bagaimana kalau kita tidak bisa melihat berkat-berkat dan kebaikan Tuhan dalam hidup ini? Tuhan sih akan tetap baik dan terus memberikan berkat, tapi ga tentu kita bisa melihat seperti Tuhan melihatnya. Misalnya, suatu saat kita akan berhadapan dengan hidup yang sulit, penuh dengan masalah, relasi dengan orang2 yang kita kasihi, keluarga, teman, rekan kerja; mengalami bencana alam; kehilangan orang-orang yang kita kasihi; mengalami penyakit yang membuat kita tak berdaya; kehilangan anggota tubuh kita; disiksa dan dianiaya...., dll.. (silahkan isi dan bayangin sendiri). Masihkah kita akan tetap berkata, "Aku mengasihi Engkau, Allahku yang Baik!"
Kalau kita tetap bisa mengasihi Allah, maka kita masuk ke tahap ketiga.

3. The third degree of love is to love God on His own account, solely because He is God. (Ch. IX)
"...Such love is thankworthy, since it is spontaneous; pure, since it is shown not in word nor tongue, but in deed and truth... Whosoever praises God for His essential goodness, and not merely because of the benefits He has bestowed, does really love God for God’s sake, and not selfishly..."
Tahap ketiga ini baru masuk ke dalam tahap kasih yang murni. Kasih yang bukan lagi berpusat pada diri sendiri, tapi berpusat kepada Allah. Kasih yang bukan berpusat pada pengalaman-pengalaman kita yang penafsirannya suka salah, tapi kasih yang berpusat pada kebenaran Firman yang memimpin dan menerangi pengalaman-pengalaman kita. Kasih ini melihat kepada pribadi dan keberadaan Allah dalam firmanNya. Kasih seperti ini tidak dipengaruhi oleh keadaan yang terus-menerus berubah, tapi berdasarkan kepada iman kepada Allah yang tidak berubah seperti yang ada dalam firmanNya yang kekal.
Kalau sudah berada di dalam tahap ini, masih adakah tahap yang lebih tinggi?

4. Of the fourth degree of love: wherein man does not even love self save for God's sake (Ch. X)
"...How blessed is he who reaches the fourth degree of love, wherein one loves himself only in God!...And real happiness will come, not in gratifying our desires or in gaining transient pleasures, but in accomplishing God’s will for us...To reach this state is to become godlike. As a drop of water poured into wine loses itself, and takes the color and savor of wine; or as a bar of iron, heated red-hot, becomes like fire itself, forgetting its own nature; or as the air, radiant with sun-beams, seems not so much to be illuminated as to be light itself; so in the saints all human affections melt away by some unspeakable transmutation into the will of God..."
Kasih seperti ini ditunjukkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Kasih yang sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh manusia, tapi mungkin dengan anugerah Kristus bagi para pengikutNya. Kasih yang bahkan rela berkorban demi untuk mengasihi Allah. Kasih yang betul-betul merindukan kehendak Allah digenapi setiap saat. Kasih yang bukan mengeluarkan kalimat klise "bukan kehendakku tapi kehendakMu yang jadi", yang dikutip oleh orang2 yang tidak tahu kehendak Allah dan kebanyakan sebenarnya tidak mau tahu kehendak Allah, tapi memakai kalimat itu hanya untuk menunjukkan bahwa dia tidak memaksa Allah. Kasih kepada Allah seperti ini, kebanyakan akan dianggap bodoh, aneh dan sulit dimengerti, tapi juga dikagumi. Kasih ini bukan datang dengan tiba-tiba, tapi kasih yang bertumbuh karena pengenalan yang benar terhadap Allah dan kasih yang dianugerahkan dan dipelajari dari Kristus..

Setiap kali, saya baca lagi dan melihat tulisan Bernard ini, membuat saya selalu bertanya, "When will I really love YOU, GOD?". Karena kenyataan dalam hidup ini, meskipun tahu Allah yang harus menjadi pusat, seringkali dalam hidup sehari-hari menjadi berbeda.
Kalau sekali lagi saya mengatakan saya mengasihi Allah, kasih di dalam tahap yang mana yang saya maksudkan? Sebelum saya mati dan bertemu dengan Tuhan, akankah saya mengatakan, 'Have I told You lately that I LOVE YOU'? On which degree of love, my love to God?
What about you, my friend?


Have I told YOU lately that I love YOU
Have I told YOU there's no one else above YOU
Fill my heart with gladness
Take away all my sadness
Ease my troubles that's what YOU do

Wednesday, February 28, 2007

My First Song: Aku Percaya pada Tuhan

Sebenarnya ada beberapa puisi dan lagu yang pernah saya tulis dan compose. Tapi, karena ga pernah disimpan dan diarsip, sama ga pernah dinyanyiin, maka yang bisa diingat cuma yang satu ini. Semua puisi dan lagu itu dicompose di dalam latar belakang yang sama. Balik kembali ke 11 tahun yang lalu, waktu itu ada kesempatan untuk puasa selama satu minggu. Lagu ini ditulis pada saat sudah tiga hari puasa, dan mulai bertanya di mana pertolongan Tuhan. Mengapa Tuhan tidak menolong saya yang sedang dalam kesulitan? Sampai kemudian membaca kitab Ratapan dan mendapatkan kekuatan. Sesudah itu, mulai menulis lagu ini. Sengaja ditulis dalam bentuk a-b-a-b.

AKU PERCAYA PADA TUHAN

Ada saat tak percaya,
Apakah Tuhan kan menolong?
Hatiku terus bertanya,
Bagaimana pertolongan datang?

Kucari dalam firmanNya,
Apakah Tuhan kan menolong?
Hatiku terus bertanya,
Bagaimana pertolongan datang?

Reff:
Aku Percaya pada Tuhan
Dan firmanNya aku percaya
Tuhan t'lah b'ri keslamatan
Mengapa tak percaya?

Pertolongan belum datang,
Tapi aku tetap percaya,
Waktu Tuhan pasti datang,
Karna Tuhan selalu setia.


Belajar teologinya masih sedikit, maka imannya cuma melihat kepada keselamatan yang sudah Tuhan kerjakan. Beberapa hari kemudian Tuhan mengirimkan seseorang yang sudah lama tidak ketemu untuk menolong saya dalam kesulitan. My GOD is Real. Allah bukan hanya konsep, tapi betul-betul nyata dan bertindak dalam hidup sehari-hari..Ini salah satu momen yang tidak pernah bisa dilupakan. Sesungguhnya yang paling berharga, bukan pertolongan sesudah melewati puasa itu, tetapi bisa dapat anugerah Tuhan untuk makin mengenal Tuhan dan tetap percaya kepadaNya dalam kesulitan yang besar. Itu anugerah yang sangat-sangat berharga.

Wednesday, February 14, 2007

How DEEP is your LOVE?

Love... love... and love.. What's the important of love? Should we always talk, sing, think and dream about love? But, love is God's gift.. So, just enjoy it. The question is, do we really know the deep of God's love and how deep our love to God and to others? Do we really know the true meaning of love? How deep is your love? I must quote one of Bee Gees song, How Deep is your love..

I know your eyes in the morning sun
I feel you touch me in the pouring rain
And the moment that you wander far from me
I wanna feel you in my arms again

And you come to me on a summer breeze
Keep me warm in your love and then softly leave
And it's me you need to show ....

How deep is your love
I really mean to learn
'Cause we're living in a world of fools
Breaking us down
When they all should let us be
We belong to you and me

I believe in you
You know the door to my very soul
You're the light in my deepest darkest hour
You're my savior when I fall
And you may not think
I care for you
When you know down inside
That I really do
And it's me you need to show ....
How deep is your love


Sebagian lagu ini harusnya adalah pemujaan bagi Allah, pernyataan betapa dalamnya dan berharganya cinta Allah kepada kita. Sebagian kalimatnya memang tidak tepat, kalau ditujukan kepada Allah. Yang menjadi pertanyaan, jika Allah menyatakan cintaNya yang begitu lebar, panjang dan dalam, mampukah kita memahaminya?

Menurut saya, siapapun tidak akan mampu memahami kasih Allah, kalau hanya mengandalkan segala pengalaman dan cerita dalam sejarah dunia ini. Banyak orang sudah membaca buku2 yang berbicara tentang cinta kasih yang begitu mengharukan, menguras air mata, membuat kita terkagum-kagum dan mengubah hidup banyak orang yang membacanya, tapi itu belum menggambarkan keseluruhan kasih Allah. Kita juga mungkin sudah melihat kisah-kisah cinta yang begitu hebat dan mengharukan dari orang-orang Kristen, akibat perubahan yang Tuhan lakukan dalam hidup orang-orang Kristen. Tapi itupun, tidak sanggup menyatakan betapa dalamnya kasih Allah. Anehnya, orang-orang lebih tertarik melihat dan membaca kisah-kisah itu dibandingkan dengan kasih Allah yang begitu dalam, ajaib dan dahsyat yang diceritakan dalam Alkitab.

Alkitab berbicara dengan cara yang berbeda. Cinta Tuhan kepada manusia adalah cinta yang menyediakan segala sesuatu sampai ke pada masa depan yang sejati, yaitu kekekalan. Cinta yang kekal, cinta yang tidak dapat dipisahkan oleh apapun. Cinta ini dimulai dari pemilihan dalam kekekalan. Sesudah itu dalam penciptaan dengan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk kenikmatan dan kebaikan. Tetapi juga cinta yang menguji manusia untuk mengajarkan kesetiaan. Cinta yang terus-menerus menerima manusia yang jatuh dalam dosa dan berzinah meninggalkan Allahnya dan terus-menerus berlari menjauhi Allah, kecuali waktu membutuhkan sesuatu dan tidak berdaya, maka manusia berteriak dan meminta pertolongan Allah. Anehnya, Allah tetap memberikan pertolongan, meskipun Allahpun menyatakan murkanya kepada umat pilihanNya, dengan memberikan kutuk dan penghakiman yang dibalik semuanya adalah cinta yang ingin mendidik dan mengubah umat pilihanNya. Dan puncaknya, Bapa mengirimkan AnakNya yang Tunggal, Tuhan kita, Yesus Kristus untuk mengajarkan cinta yang berkorban untuk umat pilihanNya yang selayaknya dimurkai. Dan cinta yang diajarkan di atas kayu salib, adalah cinta yang tidak bisa dilepaskan dari murka dan keadilan Allah.

Ketidak mengertian akan kasih dan murka Allah, membuat banyak permasalahan yang terjadi dalam hubungan manusia dengan Allah dan dengan sesama.
Kalau Allah benar-benar mencintai umatNya, mengapa harus ada penderitaan, masalah, bencana dan segala macam penyakit? Apakah kalau Allah mencintai kita, maka Ia tidak boleh menghukum akan dosa-dosa kita, yang sudah tidak bergantung lagi kepada Dia, meskipun kelihatan kita beragama dan beribadah? Apakah bencana dan segala kesulitan membuat kita tidak bisa merasakan kasih Allah dan tidak bisa mengasihiNya? Kalau begitu, kita lebih mengasihi Allah ataukah kita lebih mengasihi pemberianNya? Waktu kita dapat segala kelimpahan pemberianNya, kita melupakan Pemberinya. Kalaupun tetap mengingatNya, kita tetap menghargai pemberianNya lebih besar dari pemberiNya. Itu sebabnya kita lebih menghargai orang kaya daripada orang miskin yang betul2 mengasihi Allah; orang pintar dibandingkan orang sederhana yang mengashi Allah. Padahal akibat kekayaan, kesomobongan, jabatan dan kepintaran mereka yang membuat Allah harus menghukum dunia ini, dan kita yang berada di sekitar mereka ikut merasakan dan bahkan yang menjadi korban.

Begitu juga dengan relasi dengan sesama manusia. Kita sangat menghargai orang-orang yang baik, mau memamahi dan menerima kita apa adanya. Kalau ada orang yang mengkritik kita dengan tajam, menyatakan kesalahan, dan bahkan menjelek-jelekan kita, maka kita sulit untuk menerima orang seperti itu. Kita merasa orang itu tanpa cinta kasih. Begitu juga kalau orang yang kita kasihi dan mengasihi kita menjadi berubah, suka mengkritik karena semakin bisa melihat kelemahan2 kita, maka kita akan menganggapnya berubah menjadi orang yang tidak mengasihi kita lagi, dan menjadi orang yang membenci kita. Meskipun sebagian memang betul-betul membenci. 'Benci' yang benar adalah bagian dari cinta yang sejati. Tetapi, kita sulit untuk menerima benci, karena lebih banyak benci dicemari oleh dosa. Padahal benci harusnya benar-benar cinta.

Cinta di antara sesama manusia, biasanya hanya berada di ujung dari paradoks kasih yang berkorban ataupun kasih dengan didikan. Sebagian melihat kasih sebagai pengorbanan yang terus-menerus tanpa batas, selama masih bisa mengasihi. Sebagian lagi melihatnya sebagai kasih yang terus-menerus mendidik. Kasih yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita adalah kasih yang penuh didikan dan murka, tetapi juga kasih yang berkorban.

Tapi yang lebih aneh lagi, sekalipun Tuhan Yesus sudah sudah berkorban bagi kita, Dia tidak pernah memaksa kita untuk melayaniNya.. Kasihnya bukan yang menuntut dan memaksa kita untuk membalasnya, karena memang kita tidak bisa membalas semuanya. Tetapi, Ia membawa kita untuk melihat segala kelimpahan cinta kasihNya yang kekal dan begitu mulia. Dan membawa kita bisa menikmati semuanya.

Apakah kasih seperti ini yang kita berikan kepada banyak orang? Kita tidak akan sanggup, kecuali anugerah dan kasih Tuhan yang bekerja di dalam kita.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.
Efesus 3:18-19a

Tuesday, December 26, 2006

The LORD is my shepherd, I shall not want (1)

Dalam post ini saya akan membahas tiga bait berikutnya dari lagu Be Thou My Vision. Intinya akan berbicara tentang dua pergumulan besar dengan TUHAN: peperangan melawan Iblis dan pergumulan dengan harta dan pujian.
Bagian ini juga adalah pengantar dari pembahasan salah satu perikop yang paling sering saya kotbahkan, Maz 23. Itu sebabnya saya memberikan judul post ini dengan judul dari Maz 23.


Be THOU my battle shield, sword for the fight
Be THOU my Dignity, THOU my Delight
THOU my soul's shelter, THOU my High Tower
Raise THOU me heavenward, O Power of my Power


Dalam bagian ini berbicara tentang pergumulan dalam hidup untuk memuliakan Allah. Hidup adalah peperangan. Peperangan yang tidak pernah habis2nya. Peperangannya bukan melawan darah dan daging, tetapi melawan Iblis dan pengikut2nya (karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Efesus 6:13).
Dan siapa yang berperang? Sebenarnya yang berperang adalah TUHAN. Dan TUHAN sudah mengalahkan Iblis melalui kedatangan Kristus ke dunia, mati dan bangkit. Kalau begitu, buat apa kita berperang? Peperangan kita hanya untuk membuktikan bahwa kemenangan yang dimulai oleh Kristus akan terus digenapi. Already but not yet. Maksudnya peperangan kita, TUHAN tetap yang berperang dan kita 'hanya' ikutan dibelakangNYA. Itu sebabnya TUHAN-lah yang menjadi perisai, pelindung dan juga yang menjadi pemimpin yg menyerang dalam pertempuran kita. Maka peperangan bukan lagi menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Selama ada TUHAN, kita akan bisa menikmati. Menikmati peperangan? Bukan! Menikmati TUHAN yang memimpin kita, menikmati strategiNYYA dan jalan2NYA. Dan kita akan merasakan ada kemuliaan dan 'kebanggaan' ikut dalam peperangan. Siapa kita yang tidak memiliki kemampuan apa2, yg tidak bisa berperang, yang tidak mengerti strategi melawan Iblis, tapi bisa diajak untuk ikut dalam peperangan dan MENANG..Wow!
Waktu kita ingin berperang sendiri dan kelihatannya akan kalah, maka TUHAN jugalah tempat perlindungan kita. Begitulah kita manusia. Sesudah tidak sanggup melakukan segala sesuatu, sudah tidak berdaya, maka kita baru mencari TUHAN, berlindung padaNYA dan menginginkan DIA untuk berperang dan melindungi kita. Dan baru kita mengakui bahwa kita tidak berdaya dan DIA-lah sumber segala kuasa. It's not FAIR.
Semoga kita bisa melihat hal ini dalam seluruh hidup kita...

Pergumulan selanjutnya yang berat dan sulit, adalah pergumulan dengan HARTA dan PUJIAN.
Riches I heed not, nor men's empty praise
THOU my inheritance, now and always
THOU and THOU only, first in my heart
HIGH KING of Heaven, my treasure THOU art

HIGH KING of Heaven, my victory won,
May I reach heaven's joys, O bright heaven's Sun!
Heart of my own heart, whatever befall,
Still be my Vision, O Ruler of all.


UANG menjadi salah satu pembuat masalah terbesar dalam hidup manusia. Kalau sampai TUHAN Yesus pernah mengatakan dalam Mat 6:24, "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Itu artinya ada satu masalah yg sangat besar. Ko bisa (?), Allah dibandingkan dengan Mamon, dan sama2 kita bisa diperbudak. Kenapa Pencipta yang hidup disamakan dengan ciptaan yang mati? Bukankah uang tidak ada dalam ciptaan yang pertama? Uang baru ada, karena manusia menciptakannya, merasa memerlukan alat tukar-menukar. Tetapi uang kemudian menjadi illah yang baru, dikejar manusia, selalu dipikirkan manusia, menjadi kesenangan, kenikmatan, bahkan sumber kebahagiaan manusia dan disembah manusia. Manusia mencipta, tp kemudian manusia menyembahnya. Penyembahan berhala. Maka kalau ditanya apa tujuan hidup dan cita2 manusia? Kita bisa menjawab semua cita2 kita, tapi kalau dilihat akhirnya, sebenarnya berpusat pada UUD, Ujung-Ujungnya Duit...
Begitu juga dengan pujian. Manusia ingin sekali diagungkan dan dipuji. Siapa yang tidak mau dipuji? Termasuk yang bilang sudah mati terhadap pujianpun, masih sangat menginginkan pujian..Saya ingin bertanya pertanyaan kebalikannya, Siapa yg mau dihina? Padahal dalam keberdosaan kita, siapapun orang di dalam dunia ini pantas untuk dihina karena keberdosaan kita. Segala kemuliaan Allah dalam hidup kita tertutup dengan dosa-dosa kita. Yg kelihatan hanyalah kehinaan. Maka kita pantas untuk dihina, meskipun kita jangan menghina Gambar Allah..Kalau manusia mencari pujian dari sesama manusia, bukan karena kualitas kemuliaannya sebagai Gambar Allah, maka dia sedang menipu dirinya sendiri. Tetapi, kalau kita mendapatkan pujian karena kemuliaan Allah yang bersinar dalam diri kita, kekudusan, kebenaran-keadilan dan pengetahuan dalam kebenaran, maka pujian it sebenarnya ditujukan kepada Allah yang mencipta kita sebagai Gambar Allah, memberi kemuliaan kepada kita sehingga kita bisa memuliakan DIA. Kalau kita mengambil pujian itu untuk diri kita, maka kita mengambil milik TUHAN.

Jadi, sebaiknya bagaimana?
Dalam lagu di atas, memberikan jalan keluar untuk melihat dengan benar. Mengapa kita hanya melihat berkat2 dan berpusat kepada berkat2 itu? Kenapa bukan kepada sumber berkatnya? Ya, mengapa kita tidak melihat kepada TUHAN yang jadi sumber segala sesuatu, sumber segala harta, pujian kemenangan, kebanggaan dan segala hal yg paling mulia, paling agung, paling puncak,...? Kalau kita memiliki harta dan mendapatkan pujian, mengapa kita tidak pakai itu semua dalam rangka memuliakan dan menikmati TUHAN yang jadi sumber dari semuanya? Dan kalaupun kita kehilangan semuanya, bukankah kita masih punya sumber segala berkat yang tidak akan pernah hilang sama sekali???

HIGH KING of Heaven, my victory won,
May I reach heaven's joys, O bright heaven's Sun!
Heart of my own heart, whatever befall,
Still be my Vision, O Ruler of all.


Monday, December 25, 2006

My SAVIOR and my LORD

Be THOU my Vision, O LORD of my heart
Naught be all else to me save that THOU art
THOU my best thought, by day or by night
Waking or sleeping, THY presence my light

Be THOU my Wisdom, and THOU my true Word
I ever with THEE and THOU with me LORD
THOU my GREAT FATHER, I THY true son
THOU in me dwelling, and I with THEE one


ALLAH Tritunggal adalah penyelamatku (yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. 1 Pet 1:2)
He is one and only GOD for me. Allah Bapa yang memilih sebelum dunia dijadikan di dalam Allah Anak (Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya Efesus 1:4).
Allah Anak, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang datang ke dunia, Firman menjadi manusia (Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yoh 1:1,14) untuk mewakili saya, menderita, menanggung dosa2 saya dengan mati di kayu salib dan bangkit hari ketiga untuk menebus dosa2 saya.
Kemudian, saya bisa menjadi percaya kepada Kristus karena ada pekerjaan Roh Kudus yang melahirbarukan melalui Firman (Di dalam Dia kamu juga karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Efesus 1:13). Allah Roh Kudus yang menerapkan karya penebusan Yesus Kristus di hati saya. Naught be all else to me save that THOU art...
Itulah sebabnya hanya ALLAH Tritunggal yang menjadi Visi Hidupku. Memuliakan ALLAH dan menikmatiNYA sampai selama-lamanya..
Karena saya sudah diadopsi menjadi anak2 ALLAH, maka menjadi suatu kebahagiaan dan kenikmatan kalau bisa bersekutu dengan ALLAH. Salah satunya dengan membaca dan merenungkan Firman (Maz 1:2). Merenungkan Firman membuat saya makin mengenal Tuhan dan Juruselamatku. Sekaligus juga makin mengenal siapa diriku dihadapan Tuhan.

Be Thou My Vision

Banyak orang memulai blognya dengan memperkenalkan siapa dirinya. Saya melihat sedikit berbeda. Saya tidak berarti, tidak berharga tanpa keberadaan TUHAN. So, I decide to introduce my LORD first. Then, I will introduce myself in the presence of my LORD, I hope so.

Saya sengaja memilih lagu ini, BE THOU MY VISION. Karena selain bentuknya yg puitis, terdapat kedalaman pengertian tentang TUHAN, diri kita di hadapan TUHAN dan pergumulan hidup orang percaya di hadapan TUHAN sampai selama-lamanya. It's wonderful, isn't it? Just enjoy the song. In the next post, I will expose this song. Tentu saja berdasarkan penafsiran dan pergumulan pribadi. Mudah2an ga sesat dan jauh dr keinginan penulis lagu ini:)


Be THOU my Vision, O LORD of my heart
Naught be all else to me save that THOU art
THOU my best thought, by day or by night
Waking or sleeping, THY presence my light

Be THOU my Wisdom, and THOU my true Word
I ever with THEE and THOU with me LORD
THOU my GREAT FATHER, I THY true son
THOU in me dwelling, and I with THEE one

Be THOU my battle shield, sword for the fight
Be THOU my Dignity, THOU my Delight
THOU my soul's shelter, THOU my High Tower
Raise THOU me heavenward, O Power of my Power

Riches I heed not, nor men's empty praise
THOU my inheritance, now and always
THOU and THOU only, first in my heart
HIGH KING of Heaven, my treasure THOU art

HIGH KING of Heaven, my victory won,
May I reach heaven's joys, O bright heaven's Sun!
Heart of my own heart, whatever befall,
Still be my Vision, O Ruler of all.


Words: Dal­lan For­gaill, 8th Cen­tu­ry (Rob tu mo bhoile, a Com­di cri­de);
trans­lat­ed from an­cient Ir­ish to Eng­lish by Ma­ry E. Byrne, in “Eriú,” Jour­nal of the School of Ir­ish Learn­ing, 1905, and versed by El­ea­nor H. Hull, 1912.
Music: SLANE, An Irish Folk


Taken from The Cyber Hymnal. Thou­sands of Christ­ian hymns & Gos­pel songs from ma­ny de­nom­in­a­tions—lyr­ics, MI­DI files, scores, pic­tures, his­to­ry & more. Search­a­ble, ad­vanced Au­to­play fea­ture, free down­loads. New en­tries ev­ery week. Us­er friend­ly. Big­gest site of its kind on the In­ternet. Two thumbs up!