Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Lukas 17. Show all posts
Showing posts with label Lukas 17. Show all posts

Monday, December 1, 2008

Bersyukurlah

Dalam keadaan krisis, biasanya rumah-rumah ibadah akan bertambah dengan orang-orang yang kelihatan lebih bersungguh2 ibadah. Motivasi untuk beribadah sulit untuk ditebak, karena hati manusia siapa yang tahu. Tetapi umumnya orang datang beribadah dan berdoa demi untuk mendapatkan berkat dari Pencipta. Seandainya semua keinginan dan permintaan mereka dikabulkan Tuhan, berapa banyak yang akan kembali dan bersyukur sama seperti waktu berdoa dan meminta?
Sedikit sekali! Kebanyakan akan kembali lagi untuk meminta kebutuhan2 yang lain lagi. Beginikah hidup dari orang beriman?

...15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"....
Luk 17:11-19

Cerita dari Lukas ini sedikit aneh, karena sekali lagi berhubungan dengan orang Samaria yang disembuhkan dari kustanya, yang justru hanya sendirian kembali untuk mengucap syukur. Yang lebih aneh lagi, justru respon dari Tuhan Yesus, "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

Mengapa Tuhan Yesus menuntut 9 orang Yahudi yang disembuhkan dari kustanya untuk bersyukur dan memuliakan Allah? Seberapa pentingkah mengucap syukur dan memuliakan Allah?

Mengapa Kita tidak Bersyukur?
Alkitab tidak menjelaskan kenapa 9 orang Yahudi yang sudah sembuh tidak kembali kepada Yesus untuk bersyukur. Kita bisa menebak ada banyak kemungkinan. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menjawab pertanyaan itu yang diaplikasikan kepada kita. Mengapa kita tidak bersyukur?

Waktu meminta kepada Tuhan, kita biasanya suka berkali2 dan pikiran kita hanya tertuju kepada apa yang menjadi tujuan dan permintaan kita. Begitu mendapatkannya, kita lupa dengan yang Sang Pemberi, karena tujuan kita memang hanya pada pemberian itu. Banyak orang terlalu sibuk dan bahagia(?) dengan pemberian Tuhan dan melupakan Sang Pemberi. Itulah sebabnya hanya sedikit yang betul2 kembali kepada Tuhan dan bersyukur. Orang yang betul2 bersyukur seharusnya memiliki keinginan dan intensitas yang sama seperti waktu meminta dan akan makin mengenal Sang Pemberi.

Selain itu, kebanyakan orang lupa bersyukur karena memiliki keinginan yang lain lagi. Sesudah mendapatkan yang satu, biasanya dalam keserakahan dan ketidakpuasan, manusia menginginkan yang lain lagi dan yang dianggap lebih baik. Itulah sebabnya, sekalipun kembali kepada Tuhan, ternyata bukan untuk mengucap syukur yang menjadi tujuan, tapi justru permohonan dan permintaan yang baru. Kapan Bersyukur?

Mengapa Bersyukur?
Orang yang bisa bersyukur biasanya adalah orang yang merasa tidak layak mendapatkan apa yang diberikan kepadanya. Misalnya orang Samaria yang sakit kusta itu. Sekalipun ia ikut berteriak kepada Yesus, seharusnya ia tahu tidak layak mendapatkan kesembuhan itu. Berbeda dengan orang2 Yahudi yang merasa berhak sebagai bangsa pilihan dan keturunan Abraham.
Jika kita mengerti bahwa hidup seluruhnya adalah anugerah dan pemberian dari Allah yang kita tidak layak menerimanya, maka kita pasti akan bersyukur. Kita layaknya hidup dalam penderitaan, penganiayaan dan mati masuk neraka. Semua kesempatan dan berkat yang kita dapatkan adalah anugerah. Kenapa tidak bersyukur dan memuliakan Allah selama masih hidup?

Apalagi kalau Tuhan sudah memberikan banyak peristiwa luar biasa terjadi dalam hidup kita. Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur lagi?
Biasanya dalam kesulitan2 dan krisis yang besar, ada banyak pekerjaan Tuhan yang luar biasa yang ditunjukkan Tuhan. Itu sebabnya dalam keadaan krisis sekalipun, selain bersyukur atas anugerah keselamatan dan pemeliharaan-Nya, kitapun memiliki kemungkinan untuk lebih bersyukur lagi melihat karya2 Tuhan yang luar biasa dalam sejarah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur...

Selain itu, bersyukur akan membuat kita puas dan memuliakan Allah. Orang yang bersyukur akan melihat Tuhan sebagai Sang Pemberi dan akan belajar mempergunakan semua pemberian untuk menikmati dan memuliakan-Nya. Kepuasannya bukan hanya di dalam pemberian dan berkat2-Nya, tapi justru di dalam pertemuan dan relasi dengan Sang Pemberi. Itu sebabnya orang yang bersyukur akan mempunyai kerinduan yang lebih besar untuk memuliakan Sang Pemberi dan bukan kerinduan untuk memanfaatkan-Nya demi keegoisan dan keuntungan pribadi sebesar-besarnya.

Berbahagialah orang-orang yang kembali kepada Yesus Kristus untuk bersyukur, memuji dan memuliakan Allah. Soli Deo Gloria.

Tuesday, October 23, 2007

Facing Narcissism

Narcissism atau mencintai diri sendiri, menjadi salah satu produk yang paling disukai manusia berdosa zaman ini. Sadar atau tidak sadar manusia sangat mencintai diri sendiri, meskipun yang ditunjukkan setiap orang bisa berbeda-beda. Akarnya tetap sama, berpusat pada manusia dengan segala kesombongannya.
Hal yang sama juga menjadi pergumulan dari orang2 Kristen yang mendapatkan berkat dan anugerah yang besar. Dan seringkali menjadi impian dari orang-orang Kristen yang mengharapkan dapat berkat2 yang besar. Bahkan orang-orang yang dipakai Tuhan menjadi seorang Hamba dengan segala berkat dan anugerahNya seringkali melupakan statusnya sebagai Hamba, ketika mendapatkan berbagai macam kelimpahan dan berkat.

Di suatu hari minggu, sesudah berkhotbah beberapa kali di suatu gereja dan ingin berpamitan dengan Gembala dari gereja itu, sang Gembala yang sangat senior, terkenal dan rendah hati itu kemudian mengucapkan banyak2 terima kasih karena sudah membantu pelayanan di situ. Tiba-tiba saya teringat dengan satu bagian firman Tuhan, yang langsung saya katakan (hanya ayat terakhir yang saya katakan, karena saya percaya sang Gembala tahu konteksnya) dan kemudian disetujui oleh sang Gembala.

7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! 8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. 9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."
Luk 17:7-10

Waktu membaca bagian firman Tuhan ini pertama kali, saya merasa ada yang kurang fair. Sang Budak yang sudah kerja keras, seharusnya mendapatkan apresiasi. Eh, malahan disuruh kerja lagi dan tanpa ucapan terima kasih. Selain itu, tidak perlu membanggakan apa yang dikerjakannya sehingga harus dipuji oleh tuannya. Perasaan dan pemikiran kurang fair ini muncul karena dipengaruhi oleh zaman ini yang menekankan cinta kepada diri yg berlebihan. Manusia merasa dirinya sangat berguna dan harus selalu dihargai oleh siapapun. Apa yang kita lakukan dan kerjakan harus diapresiasi oleh orang lain. Itu sebabnya, pengamen2 yang di bis kota ataupun di lampu2 lalu lintas seing memaksa orang-orang untuk menghargai apa yang sudah dikerjakannya dengan cara memberi uang.

Cara yang sama ditunjukkan oleh beberapa hamba Tuhan yang terkenal. Suka sekali menunjukkan kehebatan2nya, membandingkan dengan hamba Tuhan atau orang2 lain dan menunjukkan rekor-rekor yang sudah dicapai. Ada yang membanggakan banyaknya orang yang sudah mendengarkan kotbah2nya, banyaknya orang yang sudah bertobat melalui dirinya, disembuhkan, banyaknya gereja yang sudah didirikannya, banyaknya jemaat dan begitu banyak alasan yang dipunyai untuk menunjukkan pencapaiannya. Masalahnya, bukankah itu semua anugerah Tuhan? Siapa yang memberikan firman sehingga bisa keluar dari mulut seorang Hamba Tuhan? Siapa yang menggerakkan orang untuk mendengarkan firman? Siapa yang mengubah hati seseorang untuk percaya kepada Yesus Kristus? Siapa yang sesungguhnya membangun gereja dan memeliharanya?

Kalau semuanya anugerah Tuhan, kenapa ada hamba-hamba Tuhan yang terlalu membanggakan semuanya itu, seolah-olah semuanya berasal dari dirinya sendiri dan merupakan usahanya sendiri. Ada hamba-hamba yang merasa dirinya terlalu berguna dan terlalu hebat di dalam Kerajaan Allah. Ini namanya kacang lupa kulit, narcist!!! Sama seperti Daud yang ingin membantu Tuhan dengan mendirikan rumah bagi Allah (2 Sam 7). Jawaban dari Tuhan mengingatkan Daud siapa dirinya yang hanyalah gembala yang tidak berarti dan kemudian diurapi oleh Tuhan.

Apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus justru mengingatkan posisi dan tugas seorang Hamba. Diangkat menjadi Hamba adalah belas kasihan dan kemurahan Allah (2 Kor 4:1). Diberikan talenta dan pekerjaan, itupun pemberian Sang Tuan yang akan datang kembali (Mat 25:14-30). Tidak ada orang yang terlalu hebat dan mengerjakan melebihi kapasitas dan kemampuannya, yang ada biasanya kurang maksimal. Kalau bisa maksimal mengerjakan dan mengembangkan talentanya, bukankah yang harus ditinggikan dan dimuliakan adalah Sang Pemberi yang juga memberikan kekuatan dan menyertai sehingga sang hamba bisa melakukan semuanya!? Mengapa justru banyak orang mencuri kemuliaan Allah?

Seharusnya budak berterima kasih kepada Sang Tuan ketika bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dan bukan Sang Tuan yang harus berterima kasih. Karena sang budak telah diberikan segala sesuatu oleh Sang Tuan. Sang budak hanyalah budak yang tidak berguna jikalau tidak diberikan pekerjaan oleh Sang Tuan. Dan kalau sang budak hanya menyelesaikan apa yang harus dilakukan, dimana kehebatannya? Apakah sang budak sudah melakukan seluruh pekerjaan Sang Tuan?

Tidak ada pekerjaan dan pelayanan yang terlalu besar dan terlalu hebat yang sudah kita lakukan sehingga Tuhanpun harus berterima kasih kepada kita. Tidak ada rekor yang terlalu hebat yang sudah kita ciptakan dibandingkan dengan segala anugerah, talenta dan kemampuan yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Kita hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna dan hanya melakukan apa yang harus kita lakukan. Sang Tuanlah yang begitu hebat dan luar biasa, tanpa Dia kita tidak ada artinya. Soli Deo Gloria.