Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Matius 22. Show all posts
Showing posts with label Matius 22. Show all posts

Monday, April 28, 2008

Baju Pesta

Kebanyakan orang sangat menginginkan melihat jumlah orang yang sangat banyak hadir dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Semakin banyak orang yang datang, maka semakin sukses acara itu. Demi untuk kesuksesan acara itu, maksudnya demi untuk banyak orang yang datang, maka kualitas dan pemilihan tidak dihiraukan. Yang penting banyak.

Bagaimana dengan Tuhan? Apakah Ia juga tertarik dengan jumlah yang banyak untuk masuk Kerajaan Sorga? Adakah Ia tidak memilih orang-orang yang Ia inginkan untuk masuk?
Kalau Ia memilih, apa dasar pemilihan-Nya? Kebaikan seseorang?

1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang....
9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. 12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
Mat 22:1-14

Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin ini adalah sambungan dari dua perumpamaan sebelumnya di dalam Matius 21, perumpamaan tentang dua orang anak dan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebuan anggur. Ketiga perumpamaan ini diajarkan di Bait Allah di Yerusalem, sesudah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mempertanyakan dari mana kuasa Yesus.

Undangan Allah untuk bersukacita (2)
Undangan Allah bagi manusia adalah undangan untuk bersukacita bersama-sama dengan-Nya. Dari sejak Allah mencipta manusia, Ia memberikan bukan hanya kebutuhan tapi juga kenikmatan yang bisa membuat manusia bersukacita. Bahkan untuk sampai selama-lamanya, Ia mau supaya umat-Nya bisa bersukacita. Sayang sekali, manusia dari awal sudah menolak sukacita yang sejati karena ditipu oleh Iblis. Bahkan sepanjang zaman, manusia menolak undangan yang Allah terus berikan kepada manusia.
Berbahagialah orang-orang yang mendapatkan anugerah untuk diundang. Dan lebih berbahagia lagi orang-orang yang mendapatkan anugerah untuk menerima undangan itu.

Akibat undangan ditolak (3-7)
Bahkan bangsa pilihan Allah sendiri terus-menerus nabi-nabi yang diutus oleh Allah.
Mengapa mereka menolak? Karena mereka lebih memperhatikan kebutuhan hidup mereka. Mereka tidak mau memberi perhatian kepada undangan Allah. Mereka merasa sudah cukup baik dengan perbuatan mereka untuk masuk dalam kerajaan Sorga. Selama hidup mereka enak dan cukup, mereka tidak butuh Allah. Selama sejarah Israel menunjukkan bahwa mereka hanya datang kepada Allah dalam kesulitan mereka. Mereka hanya mengharapkan sukacita yang sementara dan tidak mau menerima sukacita sejati!
Lebih parah lagi, mereka dengan aktif melawan para utusan Allah, mempermalukan, memukul dan bahkan ada yang dibunuh.

Akibatnya, Allah membinasakan mereka dan membakar kota mereka. Tuhan Yesus membicarakan tentang kehancuran Yerusalem yang terjadi pada tahun 70 M. Meskipun penghukuman ini juga berlaku bagi orang-orang yang menolak undangan itu.

Belajar dari bangsa pilihan Allah, adakah kita juga hanya memanfaatkan Allah demi untuk kebutuhan sehari-hari tapi menolak sukacita kekal yang ditawarkan di dalam Dia?

Undangan lain bagi yang tidak layak (8-10)
Ketika bangsa pilihan-Nya menolak, maka panggilan terbuka bagi bangsa-bangsa lain yang lebih tidak layak lagi. Bangsa pilihan-Nya sendiri tidak layak, apalagi bangsa-bangsa lainnya.
Kita harus memikirkan bahwa kita tidak pernah layak. Yang layak bagi kita adalah hidup menderita, dimurkai Allah dan masuk neraka sampai selama-lamanya. Kalau masih dapat hidup seperti sekarang ini, apalagi diundang untuk masuk dalam Kerajaan Sorga, maka anugerah Allah terlalu besar bagi kita yang tidak layak.

Banyak yang dipanggil tapi sedikit yang dipilih (11-14)
Panggilan umum berlaku bagi setiap bangsa, tapi bukan berarti semua orang pasti dipilih. Karena hanya orang pilihanlah yang mendapatkan anugerah itu.
Kelihatannya aneh, kalau sang Raja menuntut setiap orang memakai pakaian pesta. Bukankah semua orang tidak mempersiapkan diri untuk ke perjamuan kawin? Pasti semuanya tidak bersiap dengan pakaian pesta! Tapi, kenapa ada yang berpakaian pesta dan ada yang tidak? Seperti adat dari beberapa daerah Timur, kemungkinan besar setiap orang yang datang diberikan baju pesta dan diminta untuk mengganti bajunya yang tidak layak. Tapi, ada orang yang merasa bajunya sudah cukup baik dan cukup layak, sehingga tidak perlu diganti.

Ada anugerah yang ditawarkan untuk masuk dalam pesta dengan memakai pakaian yang layak, tapi ada yang menolak karena merasa sudah cukup layak. Hanya orang pilihanlah yang dikenakan baju pesta dan siap untuk perjamuan kawin itu. Orang-orang yang merasa sudah cukup baik dan tidak mau mengganti pakaiannya, adalah orang-orang yang akan mendapatkan penghukuman karena menolak anugerah itu.

Tidak ada yang layak untuk dipanggil dan dipilih. Semua manusia tidak layak dihadapan Allah, tidak ada yang cukup baik untuk bisa dipilih. Kalaupun ada yang dipanggil dan dipilih, dasarnya adalah kemurahan dan belas kasihan Allah. Panggilan bisa diberikan kepada setiap orang, tapi anugerah keselamatan hanya bagi orang yang sudah dipilih Bapa sebelum dunia dijadikan, ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus. Semuanya adalah anugerah.

Apakah Anda yang diundang Allah untuk bersukacita bersama-Nya? Apakah Anda sudah mengenakan baju pesta yang adalah anugerah-Nya? Siapkah Anda menikmati segala kepenuhan sukacita di dalam Yesus Kristus?

Wednesday, February 13, 2008

Hari (?) Kasih Sayang

Valentine's Day (hari yang tidak jelas asal-usulnya, karena umumnya penjelasannya dari legenda) biasanya menjadi hari istimewa bagi orang-orang yang saling mencintai, tapi mungkin menjadi hari yang menyebalkan bagi sebagian orang yang tidak memiliki kekasih!?
Bagi yang merayakannya, hari itu menjadi hari yang berbeda. Biasanya yang tidak romantis, tiba-tiba berubah menjadi romantis. Hari selanjutnya berubah lagi seperti biasa. Kalau betul begitu, maka hanya satu hari menjadi sangat mengasihi, sisanya sepanjang tahun mungkin menjadi kurang mengasihi dan bahkan membenci. Bagaimana Alkitab berbicara tentang Kasih? Pasti banyak, karena Alkitab berbicara tentang Allah yang adalah Kasih dan Allah yang begitu mengasihi manusia.
Bagaimana dengan respon manusia yang seharusnya terhadap kasih?

37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mat 22:37-39

Kasih Allah dan Mengasihi Manusia
Ada hubungan yang sangat erat antara Kasih Allah dan mengasihi manusia. Tanpa Kasih Allah, maka manusia tidak akan pernah mengerti kasih yang sejati. Kasih manusia hanyalah kasih yang egois. Sekalipun manusia ingin berkorban bagi sesama manusia yang lain, biasanya karena ada alasan yang egois dibalik pengorbanan itu. Berbeda dengan kasih Allah yang justru berkorban bagi manusia yang berdosa, membenciNya dan bahkan melawanNya. Kasih yang memberi diriNya sendiri. Kasih Allah menjadi dasar untuk mengasihi manusia, kasih yang sejati.
Sebaliknya, tanpa mengasihi manusia, sulit sekali untuk mengasihi Allah. Jika seseorang betul-betul mengasihi sesama manusia, ia akan mengasihi Allah yang mencipta manusia. Karena ia akan melihat kasih Allah terhadap sesama manusianya. Tapi, karena kasih manusia yang egois maka ia tidak pernah bisa melihat kasih Allah dan tidak bisa mengasihi Allah, karena ia hanya akan menuntut kasih sebaliknya dari sesamanya yang dikasihinya. Padahal jika kita mengasihi sesama manusia, kita akan lebih lagi mengasihi Allah. Mengasihi manusia adalah pembelajaran untuk mengasihi Allah. Semua pembelajaran kasih itu biasanya hanya untuk relasi yang sementara dan akan berakhir, tapi berguna sampai pada kekekalan. Maka, jika seseorang mengasihi sesama manusia tapi tidak mengasihi Allah maka ia gagal melihat esensi dari kasih yang berasal dari Allah dan seharusnya kembali kepadaNya.

Cinta Sejati
Kasih yang sejati berbeda dengan cinta romantis yang ditonjolkan dalam Valentine's Day. Kasih yang sejati adalah kasih yang terus-menerus, bukan hanya di hari tertentu. Seperti kasih Allah kepada manusia yang tidak pernah berubah, sekalipun umat pilihanNya berdosa, Allah tetap mengasihi dengan memberikan hajaran dan didikan.
Selain itu, kasih yang sejati itu bertumbuh. Kasih yang dimiliki oleh manusia biasanya dimulai dengan cinta yang egois, yang kemudian bertumbuh menjadi kasih yang memberi, tanpa syarat dan berkorban, yang mencapai puncaknya ketika serupa dengan Kristus, bisa mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Sekarang, kita memang menginginkan semua itu terjadi dan kita sudah memakai keseluruhan hidup dan kekuatan kita untuk mengasihi Tuhan, tapi kita belum sempurna. Butuh proses yang bergantung kepada pengenalan yang semakin mendalam kepada Allah.
Kasih yang sejati adalah kasih yang menjadi dirinya sendiri. Bukan kasih yang pura-pura. Karena orang Kristen disuruh mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Kita tidak perlu berubah menjadi lebih romantis untuk bisa betul-betul mengasihi, kita hanya perlu bertumbuh dan terus-menerus diperbarui Tuhan untuk makin berlimpah dengan cinta kasih yang sejati.
Tanpa Valentine's Day-pun kasih harus tetap ditunjukkan, dan bahkan semakin hari semakin dalam karena relasi dengan Tuhan dan sesama manusia yang semakin dalam. Maka setiap hari adalah hari Kasih Sayang. Hari-hari di mana seorang Kristen belajar dan menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan kepada sesama manusia. Hari-hari di mana kasihnya akan semakin bertumbuh dan semakin mendalam.. Hari-hari yang diisi bukan dengan kepura-puraan untuk menjadi orang lain dengan cinta yg romantis di dalam satu hari, tapi hari-hari yang semakin menjadi dirinya sendiri yang terus-menerus diperbarui untuk mempraktekkan cinta kasih yang sejati yang terus bertumbuh.

Semakin seseorang ingin menunjukkan betapa besar cintanya di dalam satu hari, semakin menunjukkan bahwa sebelumnya ia kurang mencintai, sama seperti sesudah hari itu.
Ronald Arthur

Thursday, March 1, 2007

Have I Told You Lately that I Love You?

Lagi lihat kembali tulisannya Bernard of Clairvaux (1090-1153), salah seorang tokoh Medieval. Meskipun penekanannya pada 'Virgin Mary' (lihat di sini) tidak bisa saya setujui, tapi tulisannya tentang 'mengasihi Allah' dalam ON LOVING GOD (baca, dengar, download gratis) sangat menarik untuk dibahas. Bernard membagi dalam Empat tahap mengasihi Allah (Saya sering pake juga untuk menggambarkan dalam mengasihi manusia). Tulisan Bernard ini sangat baik untuk mengevaluasi, apakah kita benar-benar mengasihi Allah dan manusia.

37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mat 22:37-39

Bernard menulis keempat tahap ini dalam 3 bab, dari bab 8 sampai bab 10. Saya sedikit mengutip dan menanggapinya.
1. Of the first degree of love: wherein man loves God for self’s sake(Ch. VIII)
"In such wise man, animal and carnal by nature, and loving only himself, begins to love God by reason of that very self-love; since he learns that in God he can accomplish all things that are good, and that without God he can do nothing."
Manusia biasanya mulai mengasihi Allah karena mengasihi dirinya sendiri. Membutuhkan sesuatu dari Tuhan, makanya datang kepada Allah dan mengasihiNya. Anehnya, Allah juga sering memberikan apa yang kita butuhkan dan kita minta. Menurut saya, kebanyakan orang-orang yang sedang berada dalam kesulitan dan membutuhkan Tuhan biasanya memiliki kasih seperti ini. Banyak orang rajin untuk berdoa dan mengatakan mengasihi Allah, padahal sebenarnya hanya mengasihi berkat2 Allah dan butuh itu saja. Ujung-ujungnya sebenarnya mengasihi diri sendiri. Bisa dilihat pada banyak contoh orang yang datang ke Persekutuan Doa. Begitu lagi banyak masalah dan butuh sesuatu, rajin ikut PD dan PA, bahkan kalu bisa acara apapun ikut. Tetapi, begitu sudah dapat jawaban (baik iya maupun tidak jawabannya), maka semangatpun mulai luntur dan lama-kelamaan jarang muncul di PA dan PD. Maaf, ini bukan nuduh semua begitu. Hanya analisa doang dan melihat kenyataan..Bagaimana kalau hidup ini terus-menerus jauh dari berkat-berkat Tuhan yang terus kita inginkan dan kita minta? Masihkah kita mengasihi Allah?

2. The second degree of love: because we have tasted and seen how gracious the Lord is (Ch. IX)
Tahap kedua ini adalah tahap peralihan dari tahap pertama ke tahap ketiga. Itu sebabnya Bernard menulisnya dalam satu bab. Biasanya ini dialami oleh orang-orang yang sudah mengalami betapa baiknya Tuhan. Dasar mengasihi Allah, karena kebaikan-kebaikan dan berkat-berkat yang tiada habis-habisnya. Selalu baru setiap pagi. Great is Thy Faithfulness..Tapi, kasih seperti inipun ada nuansa egois. Bagaimana kalau kita tidak bisa melihat berkat-berkat dan kebaikan Tuhan dalam hidup ini? Tuhan sih akan tetap baik dan terus memberikan berkat, tapi ga tentu kita bisa melihat seperti Tuhan melihatnya. Misalnya, suatu saat kita akan berhadapan dengan hidup yang sulit, penuh dengan masalah, relasi dengan orang2 yang kita kasihi, keluarga, teman, rekan kerja; mengalami bencana alam; kehilangan orang-orang yang kita kasihi; mengalami penyakit yang membuat kita tak berdaya; kehilangan anggota tubuh kita; disiksa dan dianiaya...., dll.. (silahkan isi dan bayangin sendiri). Masihkah kita akan tetap berkata, "Aku mengasihi Engkau, Allahku yang Baik!"
Kalau kita tetap bisa mengasihi Allah, maka kita masuk ke tahap ketiga.

3. The third degree of love is to love God on His own account, solely because He is God. (Ch. IX)
"...Such love is thankworthy, since it is spontaneous; pure, since it is shown not in word nor tongue, but in deed and truth... Whosoever praises God for His essential goodness, and not merely because of the benefits He has bestowed, does really love God for God’s sake, and not selfishly..."
Tahap ketiga ini baru masuk ke dalam tahap kasih yang murni. Kasih yang bukan lagi berpusat pada diri sendiri, tapi berpusat kepada Allah. Kasih yang bukan berpusat pada pengalaman-pengalaman kita yang penafsirannya suka salah, tapi kasih yang berpusat pada kebenaran Firman yang memimpin dan menerangi pengalaman-pengalaman kita. Kasih ini melihat kepada pribadi dan keberadaan Allah dalam firmanNya. Kasih seperti ini tidak dipengaruhi oleh keadaan yang terus-menerus berubah, tapi berdasarkan kepada iman kepada Allah yang tidak berubah seperti yang ada dalam firmanNya yang kekal.
Kalau sudah berada di dalam tahap ini, masih adakah tahap yang lebih tinggi?

4. Of the fourth degree of love: wherein man does not even love self save for God's sake (Ch. X)
"...How blessed is he who reaches the fourth degree of love, wherein one loves himself only in God!...And real happiness will come, not in gratifying our desires or in gaining transient pleasures, but in accomplishing God’s will for us...To reach this state is to become godlike. As a drop of water poured into wine loses itself, and takes the color and savor of wine; or as a bar of iron, heated red-hot, becomes like fire itself, forgetting its own nature; or as the air, radiant with sun-beams, seems not so much to be illuminated as to be light itself; so in the saints all human affections melt away by some unspeakable transmutation into the will of God..."
Kasih seperti ini ditunjukkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Kasih yang sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh manusia, tapi mungkin dengan anugerah Kristus bagi para pengikutNya. Kasih yang bahkan rela berkorban demi untuk mengasihi Allah. Kasih yang betul-betul merindukan kehendak Allah digenapi setiap saat. Kasih yang bukan mengeluarkan kalimat klise "bukan kehendakku tapi kehendakMu yang jadi", yang dikutip oleh orang2 yang tidak tahu kehendak Allah dan kebanyakan sebenarnya tidak mau tahu kehendak Allah, tapi memakai kalimat itu hanya untuk menunjukkan bahwa dia tidak memaksa Allah. Kasih kepada Allah seperti ini, kebanyakan akan dianggap bodoh, aneh dan sulit dimengerti, tapi juga dikagumi. Kasih ini bukan datang dengan tiba-tiba, tapi kasih yang bertumbuh karena pengenalan yang benar terhadap Allah dan kasih yang dianugerahkan dan dipelajari dari Kristus..

Setiap kali, saya baca lagi dan melihat tulisan Bernard ini, membuat saya selalu bertanya, "When will I really love YOU, GOD?". Karena kenyataan dalam hidup ini, meskipun tahu Allah yang harus menjadi pusat, seringkali dalam hidup sehari-hari menjadi berbeda.
Kalau sekali lagi saya mengatakan saya mengasihi Allah, kasih di dalam tahap yang mana yang saya maksudkan? Sebelum saya mati dan bertemu dengan Tuhan, akankah saya mengatakan, 'Have I told You lately that I LOVE YOU'? On which degree of love, my love to God?
What about you, my friend?


Have I told YOU lately that I love YOU
Have I told YOU there's no one else above YOU
Fill my heart with gladness
Take away all my sadness
Ease my troubles that's what YOU do