Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Mazmur 62. Show all posts
Showing posts with label Mazmur 62. Show all posts

Monday, March 19, 2007

Nyepi, Sepi, Kesepian: Silence is Golden?

Hari ini adalah hari Nyepi. Satu hari penuh umat Hindu, khususnya di Bali, kita bisa melihat tidak ada kegiatan sama sekali. Ada 4 larangan yang tidak boleh dilakukan oleh umat Hindu pada hari ini. Amati geni atau tidak ada api, amati karya atau tidak bekerja, amati lelanguan atau tidak ada hiburan dan kenikmatan, serta amati lelungan atau tidak boleh melakukan perjalanan. Saya tidak ingin membahas tentang hari Nyepi. Kalau ada yang tertarik, silahkan lihat di Hari Raya Nyepi.
Di tempat-tempat lain, banyak orang yang mencari tempat-tempat sepi sesudah hidup dalam kebisingan selama hari-hari kerja. Vila-vila di Puncak, Bogor, atau di Lembang, atau dimanapun tempat yang dianggap sepi dan memberikan privacy terlihat penuh. Masihkah itu sepi?
Ada banyak orang yang hidup di dalam tempat-tempat yang sepi, merasa sepi dan malahan merindukan ada keramaian. Ingin bertemu dan berkenalan dengan lebih banyak orang lagi. Ingin melihat apa itu kKeramaian bagi mereka sepertinya melambangkan kegembiraan dan sukacita. Sementara di hari-hari libur, tempat-tempat hiburan kelihatan ramai dan jalan ke tempat-tempat seperti itu menjadi macet. Ada banyak orang yang dalam keramaian, berbicara, bercanda tetawa, tetapi sebenarnya kesepian di dalam hatinya.
Tulisan ini adalah pergumulan pribadi tentang sepi dan kesepian di hari Nyepi!?

Saat menulis semua ini saya sedang menonton Larry King Live di CNN, kadang2 pindah channel ke ESPN untuk lihat ulangan FINAL SCORE dan ke Metro News utk lihat berita di Indonesia. Di luar bunyi bor, karena di sebelah kamar saya sedang pasang kabel untuk internet. Dan suara hi-finya juga tidak ketinggalan. Akhirnya suara hi-fi dikecilin karena ada yang teriak untuk dikecilin suaranya. Dan tentu saja perut saya agak menggangu, lapar. Keadaan waktu merenungkan firman dan menulis renungan ini sepi? Ga! Ribut luar biasa. Padahal ini hari Nyepi!? Ya, ini Jakarta bukan Bali.

1 TO THE CHOIRMASTER: ACCORDING TO JEDUTHUN. A PSALM OF DAVID. For God alone my soul waits in silence; from him comes my salvation. 2 He only is my rock and my salvation, my fortress; I shall not be greatly shaken. 3 How long will all of you attack a man to batter him, like a leaning wall, a tottering fence? 4 They only plan to thrust him down from his high position. They take pleasure in falsehood. They bless with their mouths, but inwardly they curse. Selah 5 For God alone, O my soul, wait in silence, for my hope is from him.
ESV Psalm 62:1-5

Banyak orang Kristen setiap hari mencari waktu untuk diam dan bersaat teduh. Sebagian karena diajarkan bahwa orang Kristen yang baik harus bersaat teduh. Sebagian lagi karena ingin mencari keteduhan. Ada lagi yang memang ingin dipimpin dan diubahkan oleh kebenaran. Di saat-saat tertentu, ada acara-acara camp/retreat untuk menghindar dari kebisingan dan kesibukan, dan tentu saja ingin berdiam dan dekat lagi dengan Tuhan. Apakah keberadaan dan kedekatan dengan Tuhan hanya berhubungan dengan sepi, diam, tenang? So, silence is golden.
Kalau dipikirkan lebih lanjut, sebenarnya yang lebih penting apakah keadaan yang tenang dan diam ataukah ketenangan di dalam hati kita? Apakah ketenangan hanya ada di dalam keadaan yang tenang dan sepi? Mengapa banyak orang yang berada di dalam keadaan yang sepi dan tenang, tetapi ternyata hidupnya tidak ada ketenangan? Dan mengapa orang-orang yang hidup dalam keramaian banyak orang yang merasa kesepian?
Mari kita melihat ke dalam Maz 62:1-5. Saya sengaja mengambil dalam veris ESV, karena terjemahannya lebih jelas dibandingkan dengan beberapa versi lain dan tentu saja dibandingkan dengan LAI. Dalam ay 1 dan 5 (LAI ay 2 dan 6), Daud mengatakan bahwa yang silence itu jiwanya. Dia dengan tenang dan diam menunggu Tuhan yang adalah keselamatan. Maka yang lebih penting sebenarnya nyepi di dalam jiwa kita. Tujuannya menunggu Tuhan. Karena banyak orang yang terbiasa untuk mengajar dan mendidik dan bahkan memperbudak Tuhan dengan doa dan keinginan2nya. Sedikit yang ingin diam, menunggu dan berharap didikan dan tuntunan Tuhan dalam hidup ini.
Bagaimana dengan keadaan? Banyak orang beralasan bahwa mereka bisa berkonsentrasi berdoa, membaca firman dan merenungkan firman kalau keadaannya betul-betul tenang. Sambil mengutip bagaimana Tuhan Yesus pada pagi hari mencari tempat yang tenang dan sepi untuk berdoa. Saya tidak menolak bahwa keadaan yang sepi bisa membawa kita lebih konsentrasi kepada Tuhan. Tetapi, menjadi satu pertanyaan. Apakah kita hanya bisa mendengar dan berkomunikasi di dalam keadaan seperti itu? Artinya, bagi orang-oran gyang hidup di tengah kota besar dengan segala kesibukan dan kebisingan, maka Tuhanpun tidak hadir dan tidak bisa dengar. Apakah Tuhan hanya berbicara atau bisa di dengar oleh orang-orang yang berada di dalam biara yang tenang, atau tempat-tempat retreat yang sepi. Itu sebabnya, semakin banyak atheist praktis di dalam kekristenan!?
Kalau kita bandingkan dengan pergumulan Daud di dalam Mazmur 62, dari ayat 3-4, keadaannya bukan dalam keadaan tenang. Tetapi dalam keadaan yang sedang diburu dan tentu saja Daud dibuat sibuk. Tetapi kesibukan dan keadaan yang menggangu, tidak membuat Daud tidak berdiam dan jiwanya tenang di dalam Tuhan. Ini bukan masalah latihan meditasi di dalam kesibukan dan memproyeksikan diri kepada Tuhan. Tetapi, ini berbicara tentang relasi erat yang terus-menerus dengan Allah. Keadaan tenang atau keadaan yang bisaing, menggangu, menakutkan, tetap bisa membuat Daud semakin mengenal Allah. Maka Daud mengatakan di dalam pengenalannya kepada Allah, "Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah." Bukan keadaan yang tenang yang membuat Daud tenang, tetapi relasi dan pengenalan dengan Tuhan yang membuat Daud Nyepi dan tenang. dan bahkan dalam kebisingan, kesulitan dan kesibukannyapun Daud makin bisa mengenal Allah.
Seandainya kita mengerti hal ini, maka setiap waktu dan segala keadaan (Nyepi atau sibuk), sesungguhnya ada terlalu banyak berkat yang Tuhan anugerahkan kepada kita untuk mengenal Allah dan mengenal diri kita.
Relasi dengan Allah akan membuat kita tidak akan pernah kesepian dan mencari waktu khusus untuk alone with God. Karena seluruh waktu kita, kita terus alone with God, berdiam dan menunggu dia. Waktu-waktu Sabat kita akan berdiam dan menungguNya, waktu-waktu bekerja adalah waktu-waktu kita bekerja dalam kebisingan dan kesibukan sedangkan jiwa kita sering berdiam dan menungguNya. Waktu libur adalah waktu untuk jiwa kita mengenal Dia. Ah, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dan Ia mengijinkan banyak hal di dalam segala keadaan untuk berbicara kepada kita. Selama kita berada di dalam relasi yang erat dengan Allah, maka jiwa kita akan diam dengan tenang, terus-menerus menunggu dan peka dengan keinginan dan kehendak Allah. Kita tidak akan pernah kesepian di dalam Nyepi Jiwa. Selamat ber-Nyepi.. May God speaks in silence.

For God alone my soul waits in silence; from him comes my salvation. He only is my rock and my salvation, my fortress; I shall not be greatly shaken.