Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Pelayanan. Show all posts
Showing posts with label Pelayanan. Show all posts

Thursday, April 10, 2008

Sekarang melayani siapa?

Setiap kali mendengar orang mengatakan "melayani Tuhan" selalu muncul dalam pikiran saya, betulkah manusia bisa melayani Tuhan? Adakah yang kurang dari Tuhan sehingga Ia perlu dilayani? Apa yang dipunyai oleh manusia sehingga bisa membantu dan melayani Tuhan? Terlalu banyak pertanyaan di dalam pergumulan pribadi ketika ingin mengevaluasi kembali pekerjaan pelayanan setelah 14 tahun menjadi pengkhotbah. Benarkah saya melayani Tuhan?

5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
Efesus 6:5-7


Dari Efesus 6:5-7, saya mendapatkan pengertian dari melayani Tuhan. Yang melayani Tuhan bukan sedang melihat Tuhan dan melakukan sesuatu untuk membantu Dia seolah-olah Ia tidak bisa melakukannya. Tuhan punya segala sesuatu, lebih dari cukup dan Ia tidak perlu dilayani. Kalau begitu apa maksudnya melayani Tuhan?

1. Mengerjakan segala sesuatu bagi orang lain di dalam ketaatan kepada Kristus (5)
Di ayat 5, melayani Tuhan adalah melakukan segala sesuatu kepada manusia. Dalam konteks Efesus, budak taat dan melayani tuannya. Waktu sang budak melakukannya di dalam ketaatan kepada Kristus, maka ia sedang melayani Tuhan.
Sama seperti di dalam Maz 119:91, pemazmur mengatakan segala sesuatu melayani Tuhan. Aplikasinya dalam hidup ini, melayani Tuhan meliputi seluruh aspek hidup kita. Apakah pekerjaan yang kita kerjakan, ataupun segala sesuatu yang kita lakukan (kelihatannya bagi manusia), kita lakukan di dalam ketaatan dan tunduk kepada Kristus? Jikalau ya, maka hidup kita adalah hidup yang melayani Tuhan. Kita menjadi orang yang munafik, ketika di gereja atau persekutuan kita kelihatan tunduk dan taat kepada Kristus bahkan terlibat dalam pelayanan gerejawi, tapi dalam kehidupan sehari-hari aspek hidup kita yang lain tidak pernah tunduk dan taat kepada Kristus dan tidak pernah dipakai untuk membantu orang lain.
Agak mirip tapi berbeda konteks, bandingkan dengan Mat 25:42-45, Tuhan Yesus mengatakan melayani diriNya adalah pada waktu melayani manusia yang terhilang. Ini tidak sama dengan aksi sosial atau pelayanan kesaksian yang suka didengung-dengungkan gereja. Tapi ini berbicara tentang kebiasaan sehari-hari yang dilakukan untuk memuliakan Allah. Kita menjadi orang yang munafik jika kita rajin mengikuti kegiatan aksi sosial, tapi dalam kehidupan sehari-hari kita tidak menghargai orang-orang yang terhilang. Hanya menghargainya dan terharu ketika aksi sosial.
Refleksi pribadi: (Diajarin P'Sen untuk membuat refleksi pribadi, Thanks a lot!)
Orang-orang yang harus saya layani bagi kemuliaan Kristus adalah.....................

2. Menggenapi kehendak Allah (6)
Di ayat 6, Paulus mengatakan bukan hanya pada saat dilihat ataupun untuk menyenangkan hati orang tapi segenap hati melakukan kehendak Allah. Saya membayangkan budak-budak yang bekerja keras bagi tuan2 mereka waktu itu. Mereka yang sudah menjadi orang Kristen mungkin bertanya, "Kapan kami bisa terlibat dalam pelayanan?" Paulus menjawab mereka bahwa pekerjaan mereka sehari-hari adalah pelayanan mereka kepada Tuhan. Apa yang mereka lakukan selama ini hanya bagi tuan mereka seharusnya dilihat sebagai penggenapan kehendak Allah.
Apalikasinya bagi saya berupa satu pertanyaan, "Apakah semua yang sudah saya kerjakan selama ini sudah menggenapi kehendak Allah?" Sulit untuk menjawabnya.. Setiap jawaban ya, berarti sudah melayani Tuhan.
Refleksi Pribadi:
Untuk menggenapi kehendak Allah di dalam sisa hidup ini, hal-hal yang akan segera saya lakukan ...................................................................................

3. Eunoia: rela, senang hati, segenap hati (7)
Jikalau mendapatkan kesempatan mengerjakan hal-hal yang besar dan luar biasa, maka setiap orang bisa dengan sangat rela dan senang hati melakukannya, meskipun dengan kegentaran. Tapi, jikalau membayangkan budak-budak di Efesus yang melakukan pekerjaan sehari-harinya bagi tuan2 mereka yang tidak tentu baik, sebagian dari mereka adalah tuan yang kejam, bisakah mereka melakukannya dengan rela, segenap hati dan senang hati?
Sama seperti ketika di dalam pekerjaan sehari-hari yang situasinya tidak enak, memberatkan dan boss yang nyebelin, bisakah kita tetap dengan senang hati melakukannya karena sedang melayani Tuhan dan bukan si boss? Menarik sekali, karena inilah yang dimaksudkan oleh Paulus dengan melayani Tuhan dan bukan melayani manusia.
Jikalau dalam pekerjaan sehari-hari kita lakukan di dalam ketaatan kepada Kristus dan menggenapi kehendakNya, bukankah semua yang kita lakukan akan kita lakukan dengan rela dan senang hati? Karena kita sedang melayani Tuhan, bukan melayani manusia yang sedang kita bantu dan kita hadapi.
Refleksi Pribadi:
Hal-hal dalam kehidupan yang harus saya lakukan dengan rela, senang hati dan segenap hati untuk melayani Tuhan adalah ...........................................

Setiap kali selesai berkotbah di suatu tempat, entah di gereja atau parachurch, pertanyaannya yang selalu ditanyakan kepada saya, "Sekarang pelayanan di mana?"
Dan selalu saya harus menjelaskan bahwa sementara ini saya melayani tanpa gereja dan organisasi. Banyak yang kemudian berusaha meyakinkan bahwa melayani di gereja atau lembaga mereka itu lebih baik dibandingkan dengan pelayanan sendiri. Dan mulai menawarkan segala fasilitas untuk bergabung dengan lembaganya. Seolah-olah kalau saya melayani Tuhan dengan cara sendirian, maka hidup akan berkekurangan dibandingkan dengan melayani dilembaganya. Ada pula yang berusaha membuat saya merasa bersalah kalau pelayanan sendiri dan lebih baik kalau bergabung dengan lembaga mereka. Hmm, suatu saat saya akan bergabung dengan satu gereja atau lembaga jikalau Tuhan memberikan kesempatan untuk menggenapi kehendakNya. Yang pasti, alasannya bukan karena jaminan hidup yang lebih baik. Tuhan yang menjamin hidup ini, dan itu lebih baik dibandingkan jaminan dari lembaga atau gereja manapun!

Tidak ada yang pernah bertanya, "Sekarang melayani siapa?" Padahal pertanyaan ini yang perlu dipertanyakan. Banyak orang yang dalam hidup sehari-hari sudah melayani mimpinya, materi, dirinya, organisasinya, bahkan gerejanya dan semuanya bukan untuk menggenapi kehendak Allah. Celakanya, banyak yang tidak sadar dan terus merasa sedang melayani Tuhan!
Adakah Tuhan yang menjadi sumber, pusat dan kehendakNya yang digenapi dalam hidup ini, entah di dalam pekerjaan sehari-hari, di kantor ataupun di rumah, aksi sosial ataupun pelayanan gerejawi lainnya, sendirian ataupun di dalam satu gereja atau lembaga, adakah Yesus Kristus yang menjadi pusat pelayanan kita? Adakah kita melakukan segala sesuatu bagi Dia dan bukan bagi manusia (termasuk diri kita)???
Soli Deo Gloria.

Tuesday, October 23, 2007

Facing Narcissism

Narcissism atau mencintai diri sendiri, menjadi salah satu produk yang paling disukai manusia berdosa zaman ini. Sadar atau tidak sadar manusia sangat mencintai diri sendiri, meskipun yang ditunjukkan setiap orang bisa berbeda-beda. Akarnya tetap sama, berpusat pada manusia dengan segala kesombongannya.
Hal yang sama juga menjadi pergumulan dari orang2 Kristen yang mendapatkan berkat dan anugerah yang besar. Dan seringkali menjadi impian dari orang-orang Kristen yang mengharapkan dapat berkat2 yang besar. Bahkan orang-orang yang dipakai Tuhan menjadi seorang Hamba dengan segala berkat dan anugerahNya seringkali melupakan statusnya sebagai Hamba, ketika mendapatkan berbagai macam kelimpahan dan berkat.

Di suatu hari minggu, sesudah berkhotbah beberapa kali di suatu gereja dan ingin berpamitan dengan Gembala dari gereja itu, sang Gembala yang sangat senior, terkenal dan rendah hati itu kemudian mengucapkan banyak2 terima kasih karena sudah membantu pelayanan di situ. Tiba-tiba saya teringat dengan satu bagian firman Tuhan, yang langsung saya katakan (hanya ayat terakhir yang saya katakan, karena saya percaya sang Gembala tahu konteksnya) dan kemudian disetujui oleh sang Gembala.

7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! 8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. 9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."
Luk 17:7-10

Waktu membaca bagian firman Tuhan ini pertama kali, saya merasa ada yang kurang fair. Sang Budak yang sudah kerja keras, seharusnya mendapatkan apresiasi. Eh, malahan disuruh kerja lagi dan tanpa ucapan terima kasih. Selain itu, tidak perlu membanggakan apa yang dikerjakannya sehingga harus dipuji oleh tuannya. Perasaan dan pemikiran kurang fair ini muncul karena dipengaruhi oleh zaman ini yang menekankan cinta kepada diri yg berlebihan. Manusia merasa dirinya sangat berguna dan harus selalu dihargai oleh siapapun. Apa yang kita lakukan dan kerjakan harus diapresiasi oleh orang lain. Itu sebabnya, pengamen2 yang di bis kota ataupun di lampu2 lalu lintas seing memaksa orang-orang untuk menghargai apa yang sudah dikerjakannya dengan cara memberi uang.

Cara yang sama ditunjukkan oleh beberapa hamba Tuhan yang terkenal. Suka sekali menunjukkan kehebatan2nya, membandingkan dengan hamba Tuhan atau orang2 lain dan menunjukkan rekor-rekor yang sudah dicapai. Ada yang membanggakan banyaknya orang yang sudah mendengarkan kotbah2nya, banyaknya orang yang sudah bertobat melalui dirinya, disembuhkan, banyaknya gereja yang sudah didirikannya, banyaknya jemaat dan begitu banyak alasan yang dipunyai untuk menunjukkan pencapaiannya. Masalahnya, bukankah itu semua anugerah Tuhan? Siapa yang memberikan firman sehingga bisa keluar dari mulut seorang Hamba Tuhan? Siapa yang menggerakkan orang untuk mendengarkan firman? Siapa yang mengubah hati seseorang untuk percaya kepada Yesus Kristus? Siapa yang sesungguhnya membangun gereja dan memeliharanya?

Kalau semuanya anugerah Tuhan, kenapa ada hamba-hamba Tuhan yang terlalu membanggakan semuanya itu, seolah-olah semuanya berasal dari dirinya sendiri dan merupakan usahanya sendiri. Ada hamba-hamba yang merasa dirinya terlalu berguna dan terlalu hebat di dalam Kerajaan Allah. Ini namanya kacang lupa kulit, narcist!!! Sama seperti Daud yang ingin membantu Tuhan dengan mendirikan rumah bagi Allah (2 Sam 7). Jawaban dari Tuhan mengingatkan Daud siapa dirinya yang hanyalah gembala yang tidak berarti dan kemudian diurapi oleh Tuhan.

Apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus justru mengingatkan posisi dan tugas seorang Hamba. Diangkat menjadi Hamba adalah belas kasihan dan kemurahan Allah (2 Kor 4:1). Diberikan talenta dan pekerjaan, itupun pemberian Sang Tuan yang akan datang kembali (Mat 25:14-30). Tidak ada orang yang terlalu hebat dan mengerjakan melebihi kapasitas dan kemampuannya, yang ada biasanya kurang maksimal. Kalau bisa maksimal mengerjakan dan mengembangkan talentanya, bukankah yang harus ditinggikan dan dimuliakan adalah Sang Pemberi yang juga memberikan kekuatan dan menyertai sehingga sang hamba bisa melakukan semuanya!? Mengapa justru banyak orang mencuri kemuliaan Allah?

Seharusnya budak berterima kasih kepada Sang Tuan ketika bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dan bukan Sang Tuan yang harus berterima kasih. Karena sang budak telah diberikan segala sesuatu oleh Sang Tuan. Sang budak hanyalah budak yang tidak berguna jikalau tidak diberikan pekerjaan oleh Sang Tuan. Dan kalau sang budak hanya menyelesaikan apa yang harus dilakukan, dimana kehebatannya? Apakah sang budak sudah melakukan seluruh pekerjaan Sang Tuan?

Tidak ada pekerjaan dan pelayanan yang terlalu besar dan terlalu hebat yang sudah kita lakukan sehingga Tuhanpun harus berterima kasih kepada kita. Tidak ada rekor yang terlalu hebat yang sudah kita ciptakan dibandingkan dengan segala anugerah, talenta dan kemampuan yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Kita hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna dan hanya melakukan apa yang harus kita lakukan. Sang Tuanlah yang begitu hebat dan luar biasa, tanpa Dia kita tidak ada artinya. Soli Deo Gloria.

Tuesday, May 29, 2007

Apakah kalau saya sibuk maka saya melakukan kehendak Allah?

Di bulan ini saya mengalami kesibukan yang lebih dalam hal membawakan renungan dan kotbah. Bulan ini, saya berkotbah lebih dari 45 kali dalam satu bulan. Bagi sebagian orang terdengar fantastis, karena beberapa Pendeta yang sibuk mungkin cuma sekitar 20-30 kali sebulan.

Yang menjadi pergumulan dan pertanyaan saya, "Apakah kalau saya sibuk maka saya betul-betul dipakai oleh Tuhan? Apakah saya sedang melakukan kehendak Allah?"
Banyak orang pasti akan menjawab tergantung...
Pertanyaan ini muncul karena di satu gereja saya pernah melihat bahwa dipakai oleh Tuhan identik dengan banyak kotbah. Betulkah sibuk dalam pelayanan pasti identik dengan melakukan kehendak Tuhan?

21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Mat 7:21-23

Ayat-ayat ini yang sering terbayang-bayang dalam pikiranku. Meskipun ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak percaya, tetapi memanfaatkan nama Yesus dan kuasanya. Namun demikian, ayat ini juga seharusnya berbicara bahwa bukan berapa banyak aktivitas kita yang menunjukkan bahwa kita sedang dipakai ataupun sedang melakukan kehendak Allah.

Kuantitas
Kalau seseorang hanya memiliki sedikit karunia, apakah wajar kalau ia bisa melakukan banyak hal? Sebaliknya, kalau seseorang memiliki banyak karunia, apakah wajar kalau ia hanya mengerjakan sedikit? Maka masing-masing harus mengenal diri dan melihat seberapa banyak karunia, talenta, dan berkat yang sudah Tuhan anugerahkan kepada kita.

Kualitas
Selain soal kuantitas, harusnya juga ada pertanyaan mengenai kualitas. Seberapa berkualitaskah talenta dan karunia yang Tuhan anugerahkan kepada kita? Dan seberapa berkualitaskah yang dikerjakan dan dipersembahkan untuk memuliakan Allah? Sebagian orang tertarik dengan kuantitas, ada lagi yang tertarik dengan kualitas dan menjadikan alasan untuk tidak melakukan banyak hal secara kuantitas.

Banyak orang tertarik dan kagum dengan kuantitas dan kualitas yang dimiliki oleh orang-orang tertentu. Tetapi jarang orang yang bisa melihat sesungguhnya berapa banyak kapasitas yang dimiliki oleh orang-orang itu dan seberapa banyak kuantitas dan kualitas yang seharusnya dilakukan.
Apalagi untuk melihat motivasi dibalik semua kelebihan yang kelihatan. Adakah semua itu untuk menggenapkan kehendak Allah, ataukah hanya sekedar meninggikan diri, menunjukkan kelebihan2 diri yang sesungguhnya adalah anugerah Allah!?

Banyak orang yang merasa sudah sibuk melakukan pelayanan, sebenarnya mungkin jauh dari kehendak Allah. Banyak berkotbah, mungkin hanya sekedar membagikan kebenaran2 yang didapatkan, sementara diri sendiri tidak pernah diubahkan melalui firman. Semakin sibuk melakukan 'pelayanan', malahan mungkin mengorbankan banyak hal yang harus dilayani tetapi mungkin tidak dianggap sepenting pelayanan utama yang dilakukan, misalnya berkotbah. Apakah betul semua kesibukan itu sedang menggenapkan kehendak Allah?

Maka, jangan-jangan orang yang sedang berlibur dan tidak bekerja sama sekali, mungkin lebih memuliakan Tuhan dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja keras dalam pelayanan (yang biasanya menganggap dirinya lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang kelihatannya kurang melayani, kurang dipanggil dalam mengajar, berkotbah, memberitakan Injil, dan pelayanan-pelayanan yang lain).

Semoga yang mendapatkan kesempatan, karunia yang banyak, atau mendapatkan kuantitas dan kualitas lebih banyak dari orang lain tidak pernah menganggap diri lebih baik dari orang-orang lain. Karena semuanya anugerah, dan masing-masing ada tanggung jawab yang berbeda kepada Tuhan dan semuanya harus menggenapkan apa yang menjadi kehendak Allah. Semoga kemuliaan Allah yang terus bersinar, baik di dalam waktu-waktu sibuk maupun waktu-waktu luang.

Tuesday, April 3, 2007

Kesempatan Melayani

Pagi ini pulang dari kotbah di satu sekolah Kristen International, dapat satu paket dari satu lembaga pelayanan. Mereka sebenarnya sudah beberapa kali mengundang untuk kotbah dalam persekutuan bulanan anggota dan staf mereka, tapi dari dulu tidak pernah bisa. Kalau Tuhan kehendaki, semoga akhir bulan ini bisa kotbah di situ. Saya kenal beberapa staff mereka, karena dulu pernah presentasi di gereja yang saat itu saya adalah gembalanya. Terus terang saya sangat kagum dengan apa yang Tuhan kerjakan melalui lembaga misi ini. Lembaga misi ini interdenominasi dan non profit, merupakan bagian dari Wycliffe Bible Translators. Di Indonesia lembaga ini bernama Yayasan Karunia Bakti Budaya, atau lebih terkenal dengan nama Kartidaya (Websitenya masih dalam perbaikan). Mereka terkenal dengan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa suku. Jadi ingat teman dari Malaysia, beberapa minggu yang lalu menawarkan proyek besar untuk menerjemahkan beberapa buku/artikel yang penting yang diberikan free di internet. Dia mengajak untuk terjemahin ke dalam bahasa Mandarin, Melayu dan Indonesia.
Mengapa ada orang-orang yang digerakkan Tuhan untuk melakukan hal ini?

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Kolose 3:16

Bagaimana caranya perkataan Kristus bisa diam dengan segala kekayaannya di antara suku-suku yang terasing di seluruh dunia, khususnya di Indonesia yang masih ada 400-an suku yang belum mendengarkan Injil? Apakah mereka harus belajar bahasa Inggris atau bahasa Indonesia terlebih dahulu sehingga mereka bisa mendapatkan segala kekayaan firman? Bukankah yang lebih baik dan lebih bisa dimengerti kalau mereka bisa membaca Alkitab di dalam bahasa mereka sendiri? Bukankah karunia bahasa di dalam Kisah Para Rasul dimaksudkan untuk itu? Bangsa-bangsa bisa mendengarkan dan memuliakan Allah di dalam bahasa mereka sendiri. Bagaimana mereka bisa membaca dalam bahasa mereka sendiri, kalau mereka buta huruf? Bagaimana mereka mau menyisihkan waktu untuk belajar kalau hidup mereka terus kekurangan?
Seorang Indian di Guatemala pernah bertanya kepada seorang pemuda Amerika yang berapi-api memberitakan firman Tuhan kepada mereka, "Kalau tuhan mengasihi kami dan kalau Ia memang Tuhan yang pandai, mengapa Ia tidak dapat berbicara dalam bahasa kami? Mengapa kami harus belajar bahasa Spanyol untuk dapat membaca firmanNya?" Banyak orang yang belajar bahasa Asing hanya untuk keperluan dan kepentingan pribadi. Mengapa kemampuan ini tidak dipakai juga untuk menyebarkan berita Injil?
Saya melihat Kartidaya berjuang dengan keras untuk pelayanan ini. Mengutip dari brosur-brosur yang dikirimkan kepada saya, maka saya ingin membagikannya kepada orang-orang yang akan digerakkan oleh Tuhan.

Kartidaya percaya bahwa:

Alkitab adalah firman Tuhan bagi setiap orang di seluruh dunia.

Setiap suku bangsa berhak untuk mebaca firman Tuhan dalam bahasa yang paling mereka mengerti, yaitu bahasa mereka sendiri.

Gereja dapat berdiri teguh jika ada Alkitab yang tersedia dalam bahasa mereka sendiri dan mereka dapat membacanya dengan mengerti.

Belajar membaca dan menulis dalam bahasa daerah merupakan jembatan untuk dapat belajar bahasa Indonesia dengan baik.

Menyediakan alkitab ke dalam setiap bahasa merupakan pelayanan gereja, dan setiap orang Kristen dapat ambil bagian di dalamnya.

Maka ada lima kesempatan yang bisa dilakukan bersama Kartidaya:

1. Penerjemahan Alkitab.
Masih diperlukan ratusan tenaga untuk menjangkau ladang-ladang yang sudah menguning. Apa yang harus dilakukan? Langkah-langkahnya adalah dengan Belajar bahasa setempat; Belajar budaya setempat; Tahap Penerjemahan Awal dan Tahap Penerjemahan Akhir.
Tujuan akhir dari program ini adalah perubahan hidup suatu masyarakt yang mau menyerahkan diri untuk berjalan di bawah kehendak Tuhan.

2. Pelayanan Literasi.
Program ini mencakup: program penelitian bahasa, pengadaan bahan bacaan dalam bahasa daerah, serta pengadaan program pemberantasan buta aksara, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar.
Pelaksanaan program-program literasi ini dengan menggunakan modul-modul yang dipakai dengan membuka kelas baca-tulis, melatih guru-guru lokal dan membuat buku-buku bacaan.

3. Pelayanan Pemberdayaan Masyarakat.
Pembinaan masyarakat yang berkesinambungan dengan maksud untuk meningkatkan kebutuhan dasar mereka melalui pengadaan air bersih, pelatihan-pelatihan pertanian, kesehatan dan teknologi. Contohnya: Proyek air bersih, rumah sehat, toko perahu, kebun sehat dan pupuk kompos.
Metode yang dipakai: Melakukan studi dasar tentang keadaan sosial ekonomi dan berbagia hal, sesudah itu melakukan pengorganisasian terhadap berbagai kelompok swadaya masyarakat.

4. Pelayanan Pendukung.
Yaitu orang-orang yang bekerja di kantor pusat untuk membantu tenaga-tenaga di lapangan. Yang dibutuhkan antara lain: Asisten Koordinator pelatihan bidang logistik, asisten koordinator pelatihan bidang hukum, tenaga lapangan, sekretaris, kepala bagian keuangan, kepala rumah tangga, tukang masak, resepsionis, pendidikan anak, teknisi komputer, koordinator hubungan dengan pemerintah, penyusun kurikulum, tenaga pemasaran, pendanaan proyek.

5. Berdoa dan berbagian dengan persembahan.
Semua sudah tahu tentang hal ini, tidak perlu penjelasan lagi.

Kalau ingin penjelasan lebih lanjut lagi, silahkan hubungi Kartidaya:
(021)56965481-3
Bank Account: BCA Cab. Tanjung Duren
No. 198-386361-6
a/n: Yayasan Kartidaya


14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? 15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
Rom 10:14-15

Friday, March 16, 2007

Telinga dan Lidah Seorang Murid

Di dalam Kekristenan sekarang ini banyak yang cepat tertarik dengan berbagai fenomena yang diperlihatkan oleh orang-orang yang bertalenta, apalagi kalau kelihatan mempunyai kemampuan yang supranatural. Tetapi dengan berjalannya waktu, orang-orang seperti itu kemudian sepertinya menghilang, karena lama-kelamaan semua yang kelihatan hebat dan mengagumkan menjadi sesuatu yang biasa dan cenderung membosankan. Ada perbedaan dari orang yang ingin belajar firman dan ingin menjadi serupa Kristus. Semakin hari semakin merasa kekurangan dan membutuhkan pengenalan dan pengetahuan yang lebih. Semakin hari semakin kagum dan semakin takjub kepada Allah kita. Di samping itu, kita semakin mengenal firman, maka kitapun semakin memiliki kesempatan dan kemampuan menceritakan kebenaran firman. Bukan orang-orang yang kelihatan hebat dengan femonenanya, tetapi Tuhan sendiri dengan kuasa dan kebenaranNya yang diceritakan. Mengapa bisa seperti itu? Nabi Yesaya menjelaskan pergumulan seorang hamba di dalam Yes 50:4. Kita bisa belajar dari pergumulan ini.

The Lord GOD has given me the tongue of those who are taught, that I may know how to sustain with a word him who is weary. Morning by morning he awakens; he awakens my ear to hear as those who are taught.
ESV Isaiah 50:4

Di lihat dari sudut kedaulatan Allah, Tuhan yang memberikan Firman kepada seseorang. Kepada siapa Ia mau memberikan Ia akan memberikan pencerahan sehingga bisa mengerti akan firmanNya dan diberikan kuasa untuk mengajarkannya. Itu sebabnya, Yesaya mengatakan bahwa Tuhan Allah memberikannya lidah yang diajar, sehingga bisa memberikan semangat baru dan membangkitkan orang yang sudah lemah dan tidak berdaya.
Lidah yang memiliki pengajaran dan kuasa itu, adalah anugerah Tuhan yang melalui proses setiap pagi diajar oleh Tuhan. Yesaya mengatakan, Tuhan membangunkan (diulang dua kali, berarti ada hal yang penting) telinganya untuk mendengar seperti seorang murid. Dari sisi kedaulatan Allah, dua hal ini yang dilakukan oleh Tuhan untuk orang-orang yang akan dipakaiNya. Setiap hari mengajar umatNya dengan firman, memproses umatNya sehingga memiliki lidah yang sudah diajar dan bisa menjadi berkat dan melayani orang-orang yang lemah dan membutuhkan kebenaran dan perlu di ajar. Kesalahan dari kebanyakan orang percaya adalah pemikiran bahwa ia bisa bertumbuh dengan mendengar banyak kesaksian orang-orang yang dipakai Tuhan, mencontoh hidup dari orang-orang beriman, semakin aktif dalam pelayanan-pelayanan yang ditawarkan, banyak berdoa ataupun melihat banyak mujizat. Memang hal-hal demikian akan membuat seorang percaya bertumbuh jika dipimpin oleh firman.
Firman Tuhan yang mencipta kita, menopang kita dan membukakan kepada kita jalan-jalanNya. Tuhan mengajar kita dengan firmanNya hari demi hari, mengubah kita dan memimpin hidup kita. Tanpa dipimpin oleh firman, maka banyak aktifitas pelayanan justru mendukakan hati Tuhan karena banyak orang yang merasa beribadah dan melayani, sebenarnya sedang melawan rencana Tuhan dan bahkan bertentangan dengan firman Tuhan!?
Maka mari kita melihat dari sisi tanggung jawab manusia, apa yang sebaiknya kita lakukan. Yesaya mengatakan bahwa dia memiliki lidah dan telinga yang diajar setiap hari. Artinya, kita harus bersiap setiap hari. Membaca firman dan mendengar apa yang akan diajarkan Tuhan setiap hari di dalam firman dan meminta biar kita ada kuasa untuk mengajar diri kita terlebih dulu dengan firman, kemudian bisa membagikannya kepada orang lain. Kita tidak perlu menjadi teolog dan telah membaca dan menguasai banyak buku teologi (meskipun saya melakukan hal ini) untuk bisa dipakai oleh Tuhan untuk membangkitkan dan memberi pengertian firman kepada banyak orang.. Tetapi kita perlu mendengar dan mengerti firman hari demi hari sebagai persiapan untuk berbicara hal-hal yang benar di dalam Alkitab.
Yang saya bicarakan tentang mendengar dan mengerti firman, bukan dalam pengertian banyak orang, yang selalu ingin menafsirkan firman sesuai dengan keinginan dan pengertiannya sendiri. Tetapi, mencoba melihat apa maksud Tuhan bagi kerajaan Allah secara keseluruhan untuk menggenapkan rencana Allah dan di mana bagian yang harus saya genapi selama ada anugerah Tuhan. Banyak orang sebenarnya membaca Alkitab, tetapi tidak mau diajar dan ingin mengajar Tuhan. Kalau seseorang ingin diajar, maka ia pasti ingin mengerti seluruh rencana Allah (mau membaca dan mengerti keseluruhan Alkitab), dan membacanya dengan Tuhan sebagai pusat yang sedang ingin mengubah dan mengoreksi umatnya. Orang yang tidak ingin diajar, hanya ingin melihat firman sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya dan tidak ingin melihatnya sebagai satu keseluruhan. Yang penting apa yang berguna bagi dirinya sendiri. Akibatnya, di dalam kesaksian hidup sehari-hari, bukan bicara tentang firman yang begitu agung, mulia, menyenangkan dan Allah yang sedang bekerja, melainkan hanya menceritakan dirinya yang begitu istimewa dan Tuhan makin membuatnya istimewa karena membaca firman. Kalau diteliti dan dipikirkan, sebenarnya ada dua hal yang sangat berbeda dan bertentangan. Yang pertama, adalah murid yang berpusat kepada Tuhan. Sedangkan yang kedua, hanya ingin memanfaatkan Tuhan bagi dirinya. Yang pertama, bisa membuat orang-orang akan mengerti dan mencintai firman. Yang kedua, akan memotivasi orang-orang untuk ikutan memanfaatkan Tuhan untuk diri sendiri. Kelihatannya, sama-sama melayani dan sama-sama berpengaruh, tetapi bila waktunya tiba, Tuhan akan menunjukkan mana yang sejati dan mana yang bukan. Mana yang betul-betul telinganya terbuka untuk kehendak Tuhan dan mana yang hanya mau telinga Tuhan terbuka untuk kehendaknya sendiri.
Dunia sering menipu kita dengan fenomena yang kelihatan mirip sekali. Tetapi orang-orang yang mendengarkan firman, matanya akan terbuka dan sanggup membedakan mana yang fenomena dan mana yang fakta sebenarnya. Mengapa? Karena kuasa dan kekuatan di dalam firman yang sangat tajam melebihi pedang bermata dua, yang sanggup membedakan semuanya itu. Maka mari kita berdoa supaya Tuhan membangkitkan kita untuk mendengar firmanNya setiap hari, dan kita meminta Tuhan menganugerahkan lidah yang sudah diajar untuk melayani dan menguatkan orang-orang yang lemah lesu, orang-orang yang perlu dibangkitkan dari kematiannya di dalam dosa. Tanpa firman kita terlalu lemah untuk melakukan semuanya itu. Hanya firman yang bisa melakukan itu di dalam kelemahan dan keterbatasan kita.

1 Blessed is the man who does not walk in the counsel of the wicked or stand in the way of sinners or sit in the seat of mockers. 2 But his delight is in the law of the LORD, and on his law he meditates day and night. 3 He is like a tree planted by streams of water, which yields its fruit in season and whose leaf does not wither. Whatever he does prospers.
Psalm 1:1-3

Sunday, March 11, 2007

TREASURE in jars of clay

Apa yang membuat hidup orang Kristen menjadi begitu berharga? Apa yang membuat hamba-hamba Tuhan menjadi berharga? Talentanya? Semua anugerah dan berkat Tuhan yang dimilikinya? Sehebat apakah manusia sehingga sesama manusia tertarik dan bisa menyelamatkan manusia yang lain? Banyak orang Kristen yang terlibat dalam pelayanan bergumul melihat kekurangan dan keterbatasan dirinya dan agak kuatir apakah Tuhan bisa memakai mereka dalam pekerjaan pelayanan yang begitu mulia. Apalagi orang-orang yang harus dilayani adalah orang-orang yang semakin hari kelihatan memiliki banyak hal, baik itu kekayaan, kuasa dan kepintaran. Apa yang dipunyai oleh pelayan-pelayan yang bergumul ini untuk melayani orang-orang yang lebih ini? Apalagi di tambah dengan kesulitan dan penderitaan lain yang harus dihadapi. Saya ingin berbagi sedikit pergumulan dari orang yang merasa tidak memiliki apa-apa, tetapi dipanggil Tuhan untuk melayani orang-orang yang memiliki banyak hal.

But we have this treasure in jars of clay, to show that the surpassing power belongs to God and not to us.
2 Cor 4:7 ESV

Rasul Paulus waktu membicarakan tentang pelayanan pemberitaan Injil yang dilakukannya di dalam 2 Kor 4:1, ia memulai dengan menyatakan bahwa pelayanan itu adalak kemurahan Allah. Anugerah yang tidak layak diberikan kepada seseorang seperti Paulus, yang mengejar-ngejar orang Kristen dan bahkan menjadi saksi untuk martir pertama, Stefanus. Paulus betul-betul menyadari ketidak-berartian dirinya dan seberapa besar kemurahan yang Allah berikan kepadanya untuk berbagian dalam pekerjaan pelayanan yang mulia. Dengan mengerti kemuarahan ini, Paulus mengatakan bahwa dia tidak menjadi lemah, penakut dan tidak berani. Melainkan, dengan beraninya melakukan kehendak Allah, berusaha menyatakan kebenaran firman Allah dengan sebaik-baiknya (4:2). Meskipun akibatnya, tetap ada yang menolak (4:3-4) dan bahkan harus hidup dalam penderitaan dan bayang-bayang maut (4:8-10).
Bagi Paulus, yang ditolak sebenarnya bukan dirinya, tetapi Yesus Kristus yang menjadi pusat dalam pemberitaan Injilnya. Dalam Pasal 4:5-7, Paulus menunjukkan perbedaan antara diri seorang pelayan dan Kristus yang menjadi pusat.
- yang jadi tuan dan Tuhan adalah Kristus, sedangkan Paulus hanyalah hamba dari jemaat Korintus (5)
- terang didalam dirinya, berasal dari Allah, sedangkan Paulus asalnya dari kegelapan (6)
- harta dan kekuatan berasal dari Tuhan, sedangkan diri Paulus hanyalah bejana tanah liat, dimana di dalamnya tersimpan harta itu (7)
Sangat menarik, karena banyak orang yang mengatakan dirinya hamba Tuhan dan terlibat dalam pelayanan, lebih melihat dan menekankan diri sendiri ataupun memuja orang lain. Padahal seharusnya yang menarik bukan bejana, yang gelap, dan sebenarnya hanyalah budak. Melainkan, sang Tuan yang adalah sumber terang dan yang memiliki harta itu. Tetapi, begitulah manusia. Budak miskin dari kegelapan, begitu memiliki terang dan harta yang berharga, tiba-tiba merasa dirinya menjadi tuan yang harus dihormati oleh sesama manusia. Bukannya seharusnya sang budak akan terus menjadi budak dengan saling melayani dan menunjukkan harta yang berharga yang merupakan milik tuannya kepada banyak orang.
Selain itu, banyak yang bergumul apakah dirinya yang tidak berarti bisa berguna dalam pekerjaan pelayanan? Justru orang-orang yang merasa tidak berharga dan tidak berarti, tetapi dipimpin dalam terang dan dianugerahi harta yang berharga dengan kesediaan yang terus-menerus tunduk kepada Tuannya, itulah orang-orang yang dipakai dalam pekerjaan pelayanan. Tetapi, orang -orang yang merasa bangga dengan kehebatan dan kemampuannya, mungkin hanya sebentar dilibatkan oleh Tuhan di dalam pekerjaan pelayananNya. Dan kalau Tuhan akan memakainya terus, biasanya akan dibentuk lagi sampai mengerti siapa itu budak yang dari kegelapan, yang hanyalah bejana untuk harga berharga.
Apakah seseorang yang melayani di dalam pekerjaan pelayanan yang dianugerahkan Tuhan hanya akan mengalami penderitaan terus-menerus? Paulus justru ingin menggambarkan bahwa dalam penderitaan yang terus-menerus membawa kematian Kristus, justru ada banyak sukacita yang berlimpah. Ko bisa?
Karena penghiburan orang percaya, bukan karena dipuji-puji, melainkan karena semakin melimpahnya ucapan syukur kepada Allah dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya. Adakah kita memiliki sukacita dan penghiburan seperti ini? Ketika mendengar orang-orang yang dilayani mengenal Tuhan, bertumbuh di dalam anugerahNya dan berbuah dalam segala pekerjaan pelayanannya. Bukankah semakin berlimpah ucapan syukur kepada Allah? Masalahnya, banyak yang menamakan diri hamba-hamba Tuhan bukan ingin melihat hal ini, melainkan hanya mencari kepopuleran, kesuksesan, semakin banyak aset gerejanya dan pujian. Tetapi, apakah betul semakin banyak orang yang katanya percaya itu betul-betul memuji, memuliakan dan beryukur kepada Tuhan?!
Selain itu, penderitaan tidak membawa Paulus menjadi berkurang keberaniannya dan menjadi lemah, sekalipun secara fisik semakin menurun karena kesulitan dan penderitaan (16). Karena justru melalui penderitaan itu mengerjakan kemuliaan kekal, yang jauh melebihi penderitaan ringan(17). Penderitaan ringan? Wow! Paulus yang dalam deskripsinya pada ay.8-10 tentang penderitaan dan maut, seharusnya itu bukan sesuatu yang ringan! Tetapi Paulus melihatnya sebagai penderitaan ringan karena dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang jauh lebih besar dari penderitaan itu sendiri. Karena cara pandang Paulus bukan hanya melihat yang sementara, tetapi melihat kepada kekekalan (18).
Kesaksian Rasul Paulus dalam 2 Kor 4 ini menjadi kesaksian yang mempengaruhi hidup saya secara pribadi. Rasa rendah diri begitu tinggi (yang justru sering membawa kepada kesombongan), melihat kepada kekurangan2 di dalam diri dan membandingkan dengan tantangan zaman yang begitu berat dan terus berubah dan berkembang, maka pertanyaan saya kepada diri sendiri, sanggupkah bertahan dan bahkan menantang zaman ini? Apa yang saya miliki? Tetapi, justru melihat dari 2 Kor 4 ini, saya sadar bukan diri saya yang penting. Saya tidak memiliki apa-apa, tapi Tuan saya punya banyak hal yang sudah disediakan sebenarnya di dalam hidup yang lemah ini. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana dengan harta yang berharga itu, apakah itu sudah dianugerahkan kepada saya dan apakah saya bisa membawa harta yang berharga itu dan menunjukkan kepada dunia bahwa milik Tuanku itu lebih berharga dari apapun dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Ini merupakan satu penghiburan bagi orang-orang yang lemah tapi anugerah Tuhan bisa mengubah dan memanfaatkan kita sebagai budak-budakNya. Berbahagialah kita kalau kita mengalami kemurahan Tuhan, diijinkan berbagian dalam pekerjaanNya yang mulia dan membawa harta yang berharga itu dalam diri kita, sebagai bejana yang tidak berharga.

Friday, March 9, 2007

Budaya Mundur. Untuk apa?

Seorang Menteri yang di dalam bidangnya terus mengalami masalah dan kegagalan, ditanya oleh beberapa wartawan, "Apakah Bapak akan mundur?" Agak marah, Pak Menteri menjawab, "Saya kan diangkat Presiden, kalau Presiden memutuskan saya harus mundur, maka saya akan mundur. Tergantung Presiden!" Tetapi wartawan tidak puas, lalu kembali mengatakan,"Kenapa Bapak ga mundur aja, kenapa harus tunggu keputusan Presiden!?" Ada lagi yang menambahkan, "Apakah Bapak akan mundur?" Dengan marah, Pak Menteri berkata, "Kenapa itu lagi pertanyaannya???!!" Lalu Pak Menteri pergi. Untuk mundur??? Mana mau!!! Bagaimana seharusnya kita melihat posisi dan panggilan kita dalam hidup ini? Apa yang diajarkan oleh Alkitab?

5 Have this mind among yourselves, which is yours in Christ Jesus, 6 who, though he was in the form of God, did not count equality with God a thing to be grasped, 7 but made himself nothing, taking the form of a servant, being born in the likeness of men. 8 And being found in human form, he humbled himself by becoming obedient to the point of death, even death on a cross. 9 Therefore God has highly exalted him and bestowed on him the name that is above every name, 10 so that at the name of Jesus every knee should bow, in heaven and on earth and under the earth, 11 and every tongue confess that Jesus Christ is Lord, to the glory of God the Father.
Phil 2:5-11 ESV

Sejak pemimpin malaikat jatuh dalam dosa menjadi Iblis, maka mulailah permasalahan kesombongan yang kemudian mempengaruhi kehidupan manusia sampai Kristus datang kedua kali. Keinginan untuk terus naik dan menjadi yang paling berkuasa dan berusaha mempertahankannya, tidak ada yang bisa menggantikannya. Manusia ingin berada di dalam posisi yang tinggi, karena menjanjikan kehormatan, kuasa dan tentu saja kenikmatan yang lebih bila dibandingkan dengan apa yang dipunyai saat ini. Itu sebabnya, manusia berusaha terus untuk berada di atas dan mempertahankannya. Orang-orang yang kelihatannya tidak mempunyai keinginan seperti ini, sebenarnya bukan tidak punya keinginan yang sama seperti itu, tetapi biasanya sudah merasa tidak sanggup untuk mendapatkan itu. Seandainya 'merasa' sanggup dan punya kapasitas, biasanya juga akan mengejar hal itu. Sedikit sekali orang-orang yang betul-betul ingin melayani sekalipun tidak dihargai. Termasuk para pemimpin politik (yang dalam kampanyenya ingin melayani rakyat, kenyataannya ingin terus dilayani) dan para pemimpin agama (yang sering menyebut dirinya 'hamba' Tuhan, yang seharusnya melayani, tetapi kenyataannya meminta pengikut-pengikutnya untuk selalu melayani dirinya). Sebenarnya, orang-orang seperti ini sedang melayani Iblis dan mengikuti cara Iblis.
Caranya Iblis, sudah diberikan posisi yang cukup baik sebagai salah satu pemimpin malaikat, tapi tidak puas dan ingin posisi yang lebih tinggi lagi, menjadi sama seperti Allah dan ingin meninggikan dirinya dan berusaha mati-matian untuk tetap mempertahankan dirinya untuk berkuasa terhadap banyak malaikat dan manusia, tetapi kemudian direndahkan oleh Allah. Cara ini yang ingin diikuti oleh banyak orang. Meskipun saat ini dilakukan dengan banyak variasi. Ada yang awalnya pura-pura rendah hati. Ada juga yang sudah direndahkan, pura-pura bertobat dan merendahkan diri untuk bisa naik lagi.
Apa bedanya dengan caranya Tuhan? Rasul Paulus menunjukkannya dalam Fil 2:5-11 yang sudah kita baca di atas. Kristus yang adalah Allah tidak mempertahankan keilahianNya tetapi malah menurunkan diriNya menjadi sama dengan ciptaanNya (Pencipta menjadi sama rendah dengan ciptaanNya, dan bahkan datang bukan untuk dilayani, tetapi melayani, bahkan mau mencuci kaki murid-muridNya yang berdosa), menjadi seorang hamba, bahkan menderita dan harus mati di atas kayu salib (betul-betul direndahkan) demi untuk melakukan dan menggenapkan kehendak Bapa. Apa yang terjadi selanjutnya, ditinggikan oleh Bapa dan anehnya, kemuliaan dikembalikan untuk Bapa.
Seandainya manusia mengikuti cara Kristus, maka kita bisa melihat ada banyak orang-orang yang menunjukkan kualitas pelayanan yang sangat tinggi. Apakah ini berarti bahwa tidak ada lagi yang ingin menjadi pemimpin? Justru sebaliknya, kita akan mendapatkan pemipin-pemimpin yang rendah hati. Yaitu, orang-orang yang mau menjadi hamba dari banyak orang, orang-orang seperti itulah yang akan dipaksa untuk memimpin. Tentu saja mereka punya kapasitas dan kualitas untuk memimpin. Karena sesungguhnya setiap manusia diberi kapasitas untuk memimpin, dipersiapkan untuk menjadi raja sampai selama-lamanya, tetapi bukan dengan cara mempermainkan dan memanfaatkan manusia yang lain, melainkan dengan pelayanan dan kasih.
Kalau memang kita akan menjadi raja sampai selama-lamanya, mengapa harus mundur? Harusnya tidak ada kata mundur. Permasalahannya, menjadi raja sampai selama-lamanya di dalam kekekalan bukan untuk memerintah manusia, tetapi saling melayani dan bekerja sama dengan sesama manusia untuk menundukkan dan berkuasa atas bumi yang baru. Maka, kesempatan di dunia ini adalah kesempatan untuk belajar, di bagian mana kita betul-betul bisa berfungsi dan melakukan yang terbaik. Jika kita tidak bisa melakukannya, maka kita harus mundur, kita harus melihat orang lain dan mempersiapkan orang lain untuk melakukan yang lebih baik dan lehi sukses dan berprestasi dibandingkan kita. Begitu juga, waktu usia kita sudah tidak memungkinkan dan kemampuan sudah makin menurun. Di sini butuh kerendahan hati. Mau mendidik orang-orang yang berpotensi untuk bisa menjadi lebih baik dari kita dan bahkan menggantikan kita, bukan hanya pada saat kita sudah lemah, tetapi mungkin di masa jaya kita karena kita menemukan orang yang lebih baik dan lebih tepat untuk melakukan tugas itu. Sementara kita yang mundur, bersiap lagi untuk melayani orang lain di tempat lain dan melakukan tugas yang lain lagi. Ah..., ini hanya mimpi. Dunia lebih menyukai cara Iblis. Yang hanya ingin meninggikan diri sendiri, mempromosikan diri sendiri, memanfaatkan orang lain dan memanfaatkan Tuhan tentu saja (meskipun kelihatan beribadah dan melayani Tuhan)...
Bersiaplah untuk mundur, karena kita akan kehilangan semuanya. Tanpa kita bersiap untuk itu, kita akan kecewa, karena kita pasti harus mundur dengan cara apapun (kebanyakan karena sudah tidak berdaya dan dipermalukan). Tetapi kita juga harus terus-menerus maju, waktu kita harus melayani dan mengasihi manusia karena cinta Tuhan. Melayani dan mengasihi tidak akan pernah membuat kita mundur, tetapi kita akan terus maju dan bertumbuh demi kemuliaan Allah. Kesempatan untuk melayani dan mengasihi tidak akan pernah hilang dan berkurang, sekalipun kita kehilangan posisi dan jabatan.

Inilah yang kupunya hati s'bagai Hamba
yang mau taat dan setia pada-Mu BAPA
Jonathan Prawira