Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Yesaya. Show all posts
Showing posts with label Yesaya. Show all posts

Tuesday, December 30, 2008

Bukan Sembarang Raja

Sebentar lagi Indonesia mau Pemilu dan pemilihan presiden. Sebenarnya, yang dibutuhkan oleh Indonesia bukan presiden, tapi Raja. Eiiits.. tunggu dulu, bukan raja2 boneka seperti di beberapa negara di dunia. Yang dibutuhkan adalah raja yang berkuasa mutlak, bijaksana dengan kemampuan yang luar biasa dan yang tidak perlu diganti2 dan dipilih-pilih terus. Masalahnya, ada ga raja seperti ini???

5 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Yesaya 9:5


Jadilah Kehendak-Mu
Raja yang datang ke dunia menjadi manusia, ternyata bukan hanya sekedar raja yang perlu bergantung kepada pemimpin-pemimpin lainnya untuk menghasilkan keputusan yang baik dan bijaksana. Sang Raja ini ternyata juga adalah Penasihat Ajaib (pele yoets).
Kalau raja butuh beberapa penasihat untuk bisa mengambil keputusan yang baik, maka Sang Raja ini merangkap fungsi penasihat, dan bahkan Ia adalah penasihat yang luar biasa, jauh melebihi penasihat2 yang pernah ada (Rom 11:33-34).

Enak banget kalau punya pemimpin seperti ini. Tidak pernah ada keputusan yang salah, dan semuanya untuk kebaikan umat-Nya (Rom 8:28). Respon kita seharusnya hanyalah, jadilah kehendak-Mu! Yup, susah banget! Butuh anugerah dan iman untuk percaya dan mengikuti kehendak-Nya.

Perang Yuk!
Sang Raja bukan hanya seorang pemimpin yang memerintah dan meminta umat-Nya untuk melakukan kehendak-Nya. Ia ternyata ikut berperang, dan bahkan yang memimpin umat-Nya dalam peperangan. Itu sebabnya, Ia disebut orang sebagai Allah yang Perkasa (El Gibor), Allah yang berperang dengan hebatnya.

Konsep berperang agak aneh bagi kita sekarang ini, karena menginginkan kedamaian dan keamanan. Tapi kalau baca Alkitab dari PL sampai PB, peperangan akan terus terjadi. Tapi jangan salah, peperangan kita bukan seperti Amerika atau Israel. Dari PL, peperangan yang sebenarnya adalah melawan dosa. Dan Allah yang memimpin dalam setiap peperangan.

Kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk berperang melawan dosa, dan Ia menang dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Ia bukan datang menjadi raja Israel dan berperang melawan Romawi yang berkuasa waktu itu. Tapi, Ia datang berperang dan mengalahkan iblis, dosa dan kematian.

Itu sebabnya, Natal yang pertama di Betlehem bukan hanya Malam Kudus, sunyi senyap. Tapi, ada ratapan dan tangisan karena pembunuhan (Mat 2:16-18). Sejak kedatangan-Nya ke dunia, sang Raja sudah harus berperang melawan dosa dan kejahatan di bumi.
Kalau kita punya raja seperti itu, yang bisa berperang dan yang memimpin umat-Nya, maka respon kita seharusnya, "perang yuk!"

Pemimpin Selamanya
Terus terang membosankan kalau setiap empat atau lima tahun ganti2 pemimpin. Bukan hanya karena salah pilih terus, tapi memang ga ada pilihan yang baik. Semua pemimpin mempromosikan dirinya sebagai yang hebat dan membuat perubahan. Kenyataannya, berubah sih! Tapi, lebih buruk.

Sang Raja yang datang ke dunia ini berbeda. Ia menjadi pemimpin sampai selama-lamanya. Dalam Yes 9:5, kata abiyad suka diterjemahkan sebagai Bapa yang Kekal (Eternal Father). Karena kata ini hanya muncul satu kali, dan berawalan ab, maka biasanya langsung disimpulkan artinya sebagai Bapa. Padahal kata ab, bisa mempunyai beberapa pengertian, salah satunya adalah pemimpin.

Saya menafsirkan kata abiyad sebagai pemimpin yang kekal, karena lebih sesuai konteks dalam Yesaya 9, yang berbicara tentang kepemimpinan.

Punya pemimpin dan raja sampai selama-lamanya itu enak, karena program2 pasti akan berkesinambungan dan tidak berubah2. Sudah dalam satu paket dari kekekalan. Enak kan!?

Damai yang Sejati
Terakhir, Ia disebut orang sebagai Raja (Pangeran) Damai Sejahtera (sar syalom). Ia datang membawa kedamaian yang sejati. Bukan damai dalam pengertian tidak ada perang, tidak ada masalah dan kesulitan. Tapi damai sejahtera yang sejati, kita dibawa kembali dalam relasi yang harmonis dengan Allah Bapa, kita dibebaskan dari dosa dan segala tuduhan dan ketakutan akan hukumannya, serta disertai dan dipimpin dalam segala keadaan. Damai sejahtera seperti inilah yang diberikan oleh Yesus Kristus yang datang sebagai Raja.

Damai sejati yang dicari oleh manusia tidak bisa diberikan oleh dunia ini dengan tidak ada peperangan, terjamin secara materi, dan semua pengharapan palsu yang ditawarkan. Karena damai yang ditawarkan oleh dunia hanya sementara dan sesaat, sesudah itu hilang tak berbekas.

Berbeda dengan damai yang diberikan oleh Raja diatas segala Raja. Ia akan memimpin umat-Nya dalam segala keadaan, termasuk peperangan dan permasalahan, tapi umat-Nya tetap merasakan damai sejahtera.

Berbahagialah orang yang percaya dan dipimpin oleh Sang Raja Sejati, karena Ia bukan sembarang Raja. Raja diatas segala raja. Soli Deo Gloria.

Thursday, December 18, 2008

Kerajaan Sorga Datang

Di zaman sekarang ini, umumnya raja bukan lagi suatu posisi yang dianggap berkuasa dalam pemerintahan. Di negara-negara kerajaan sekalipun biasanya perdana menteri yang menjadi pemimpin yang berkuasa. Seorang raja hanya menjadi simbol, sekalipun tetap dihormati. Lihatlah di Inggris, Spanyol, ataupun Thailand.
Berbeda dengan raja zaman dulu yang betul-betul berkuasa penuh dalam pemerintahan.

5 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Yesaya 9:5

Kebanyakan orang percaya merayakan Natal hanya melihat Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Maksudnya, hanya melihat Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Padahal kedatangan Tuhan Yesus mempunyai pengertian yang lebih luas dan lebih dalam dibandingkan dengan hanya memberikan anugerah keselamatan. Dia datang untuk menjadi Raja. Bukan sembarang Raja, tapi Raja yang membawa Kerajaan Sorga hadir dalam dunia.

Pemimpin yang Berkorban
Yesaya mengatakan, "lambang pemerintahan ada di atas bahunya." Yeus Kristus datang untuk memerintah milik kepunyaan-Nya. Ia datang untuk menebus umat-Nya, menyatakan pekerjaan baik yang harus dilakukan umat-Nya dan memimpin umat-Nya dengan kasih dan kehendak-Nya.
Ditengah keterhilangan dan ketidakpastian hidup, kita memiliki pemimpin yang bukan hanya sekedar sok jadi penguasa, tapi betul-betul memimpin, memberikan contoh dalam menghadapi segala kesulitan dan melaksanakan kehendak Bapa.

Natal bukan hanya sekedar bersyukur karena Tuhan sudah datang dan memulai rencana penebusan yang membuat kita dibebaskan dari dosa; Natal seharusnya membuat kita bersyukur karena Allah menjadi manusia, berada dekat dengan manusia dan memimpin manusia ke arah dan tujuan yang benar. Natal mengingatkan kita bahwa Allah kita bukan hanya seperti raja2 (atau presiden zaman sekarang ini) yang hanya duduk ditakhtanya dan memerintah seenak perutnya. Natal menunjukkan bahwa Raja di atas segala raja datang dalam segala kemiskinan dan kehinaan, merasakan kesulitan umat-Nya dan bahkan berkorban untuk umat-Nya.
Raja yang memimpin kita bukan hanya ngomong doang. Ia memimpin kita dengan pengorbanan dimulai dari kelahiran sampai kematiann-Nya.

Jadi, kalau kita mengatakan merayakan Natal tapi tidak mau dikoreksi, diperintah, mengikuti dan hidup dalam firman-Nya maka sesungguhnya kita tidak pernah menyambut kedatangan Yesus Kristus ke dunia. Ia datang sebagai Raja, harusnya kita tunduk kepada-Nya dalam segala aspek hidup kita.

Kerajaan Sorga
Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus Kristus memulai pelayanan dengan berita yang sama, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
Kerajaan Sorga itu betul-betul dinyatakan pada saat kematian dan Kebangkitan Tuhan Yesus. Berbeda dengan keinginan banyak orang bahwa Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem seharusnya merebut kekuasaan dan menjadi Raja secara politik di Yerusalem. Ternyata Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem untuk menjadi Raja dengan cara menderita dianiaya, mati dan bangkit. Kerajaan Sorga hadir dengan cara yang sulit dimengerti manusia, sama seperti kedatangan Sang Raja dengan kelahiran-Nya ditempat yang hina.

Kekuasaan dan kebesaran ternyata tidak hanya ditunjukkan dengan segala kemampuan, kekuatan dan kekayaan. Kerajaan Sorga dinyatakan dengan cara yang jauh sekali berbeda dengan pengharapan manusia kepada hal yang fana. Dimulai dari kehinaan,miskin, penderitaan dan penganiayaan dan bahkan kematian. Tapi justru menunjukkan dan berbuah kemuliaan dan keagungan yang tiada taranya.

Semoga Natal membuat kita semakin kagum kepada Raja diatas segala raja, dan semakin tunduk kepada keputusan2-Nya yang berdasarkan keadilan dan kebenaran. Semoga dalam seluruh aspek hidup ini kita betul-betul bisa melihat Yesus Kristus betul2 menjadi Raja yang diagungkan, disembah, ditinggikan dan dimuliakan...
Karena Ia bukan hanya sekedar Pemimpin dan Raja, Ia juga Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Pemimpin yang Kekal, Pangeran Damai Sejahtera.

Wednesday, December 17, 2008

Merry Christmas or Clausmas?

Kalau jalan-jalan di pusat2 perbelanjaan, maka kita akan melihat spirit Natal. Sayangnya itu bukan Christmas tapi Clausmas. Karena yang menjadi pusat adalah berbagai hiasan Natal dan tokoh yang paling terkenal pada saat Natal adalah Santa Claus (ko bisa jadi Santa??, harusnya Satan Claus!)!!!?
Mengapa si Claus jadi lebih terkenal dan lebih diharapkan daripada Yesus Kristus?

5 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Yesaya 9:5

Setidaknya ada 7 perbedaan antara Christ dan Claus.
1. Anak Kecil vs Bapak2
Yang diberikan sebagai Juruselamat dunia itu anak kecil, seorang anak. Siapa yang mau percaya kepada anak kecil yang lahir di Betlehem? Dunia butuh superhero, tapi bukan anak2. Maunya yang dewasa dan berpengalaman. Padahal anak2 harusnya menerima tokoh sang anak juga dong? Tapi mungkin karena banyak anak2 bapak mereka ga beres, maka mereka butuh figur bapak.
Tepat deh kalo ketemu dengan si Claus yang bapak2 berambut dan jenggot putih, yang sepertinya menawarkan cinta, bijaksana dan pengertian, meskipun bagi banyak orang kelihatan lucu dan goblok.

2. Lahir Miskin vs Kaya
Anak yang akan menyelamatkan dunia justru lahir dalam kemiskinan, tidak ada rumah untuk kelahirannya, hanya ada kandang binatang. Siapa yang mau mengikuti anak kecil yang miskin??? Kalo kaya, mungkin masih pikir2.
Beda dengan si Claus yang ga pernah lahir tapi tiba2 muncul dengan segala kekayaannya dari kutub utara, dan bahkan dengan kereta terbangnya yang lebih cepat dari jet pribadi. Wow! Ini yang dibutuhkan dunia dalam krisis global.

3. Mati (dan Bangkit) vs Ga ada matinya
Anak yang sebelum dilahirkan pun sudah dinubuatkan akan mati (dan bangkit). Kalau nanti akan mati, ogah ah. Dah miskin, menderita, dan cepat mati lagi. Siapa yang mau ikut?
Beda dengan si Claus yang ga ada matinya. Dari dulu sampai sekarang, tetap ada dan akan abadi, tidak ada perubahan sama sekali dan tidak akan bertambah tua. Ini yang diharapkan oleh manusia, ga ada matinya, hidup terus.

4. Dapat Hadiah vs Memberi Hadiah
Sang Anak lahir, orang Majus datang memberikan hadiah. Jadi kalau ikut sang Anak, harus kasih kado dong ke anak itu???
Kalau ikut si Claus beda, bukannya memberi eh malah dapat hadiah. Tinggal minta dan disebutkan, tiap tahun dia akan datang dan beri.

5. Semua Umur vs Untuk Anak2
Sang Anak ternyata datang untuk semua umur, dari anak-anak (yang harus dibimbing oleh orang tua) sampai orang2 tua.
Beda dengan si Claus yang datang hanya untuk anak2. Kenapa? Karena yang bisa diboongin anak2 doang. Ko orang tuanya setuju? Habis orangtuanya bodoh sih sama suka boong juga sih!!? Makanya ketipu dan nipu anaknya sendiri..

6. Memberi yang tidak diinginkan vs Memberi yang diinginkan
Sang Anak memberikan apa yang tidak diinginkan manusia, yaitu dibebaskan dari dosa dan hidup kekal, tanpa peduli baik atau jahatnya manusia. Mana ada manusia yang baik??? Tapi mana mau manusia? Maunya terus berdosa mengikuti keinginan hatinya dan hidup di bumi ini, ga ada matinya.
Si Claus bisa nih kasih apa yang diinginkan manusia. Pokoknya apapun yang diinginkan akan diberikan, asalkan berlaku baik dan permintaannya bisa masuk dalam kaos kaki.. Ho..ho..ho..

7. Ditolak vs Diterima
Sang Anak datang kepada milik kepunyaan-Nya, tapi ditolak dan tidak diterima. Mana sanggup manusia menerima yang terlalu luar biasa, kalau tidak ada anugerah yang memampukan?
Sementara si Claus akan terus diterima, karena manusia suka hidup dalam mimpi dan keinginannya yang sepertinya bisa dipuaskan dan diberi oleh si Claus, meskipun ia ga pernah beri apa2, tapi mimpi itu tetap ada dan memuaskan.

Semoga salam natal dari banyak anak2 tidak berubah menjadi Merry Clausmas, meskipun bagi banyak anak2 sudah seperti itu dalam prakteknya.
Mari kita melihat kepada sang Anak yang diberikan bagi kita, kelihatan miskin, hina, lahir dalam kekurangan, tapi Ia adalah Allah, Tuhan, Juruselamat dan Raja atas umat-Nya.

Saturday, April 19, 2008

Internet Evangelism Day (27 April)




A resource for churches, Bible Colleges, groups and individuals because …

... over 1 billion people use the Web
... the Internet is changing the world
... God is using the Web to transform lives
... “We’d love to use the Web for outreach, but we don’t know how”


Internet Evangelism Day is here to tell you about …

* what God is doing on the Web
* outreach strategies that work online
* how you, your church or Christian group can use the Web for outreach – and how to make effective church websites reach into the community
* planning an Internet Evangelism focus day for your church, Bible college or Christian group


A focus day for your church

In other words, this site works at two levels. It demonstrates that the coming years are the ‘day’ of digital outreach. And it provides free downloads to enable you to create your own web evangelism awareness day for your church or Christian group, on (or near) 27 April.

How we can help you: learn more here, or watch the video clip below.

“… in the day of salvation I will help you; I will keep you and will make you to be a covenant for the people …”
Isaiah 49:8








Wednesday, December 12, 2007

I'll have a blue Christmas without YOU

Bukan bermaksud untuk membahas lagu yang tidak ada nafas kekristenannya, tapi sudah dianggap sebagai salah satu lagu Natal. Hanya meminjam judulnya saja.

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.
Yesaya 7:14

"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" yang berarti: Allah menyertai kita.
Mat 1:23


Imanuel menjadi salah satu nubuat yang sangat penting bagi umat manusia. Karena Allah yang begitu jauh dan menakutkan, sekarang menjadi dekat dan bersama-sama umatNya. Yesus Kristus tidak memilih untuk lahir di dalam Bait Allah, di dalam Ruang Maha Kudus (tempat yang paling kudus di dunia!?). Tapi, memilih untuk lahir di tempat yang paling jorok, tapi paling dekat dengan umat gembalaanNya, yaitu di kandang binatang.
Ia tidak lahir di dalam istana dan dihadapan pembesar2 dengan segala kemewahannya. Kabar gembira tentang kelahirannya pertama kali diberitakan bukan kepada para pembesar dan raja2 yang berhak menerima informasi terbaru, dan terakurat. Tapi justru kabar gembiranya dibagikan kepada para gembala yang berada di padang (orang yang terbuang?), ditambah dengan konser gratis dari para malaikat. Tidak perlu membeli tiket, semuanya gratis.....

Natal yang pertama, jauh sekali berbeda dengan zaman sekarang ini.

Promosi dari perayaan Natal diberitakan oleh para nabi sepanjang zaman. Tapi, pada waktunya tiba hanya diberitakan kepada segelintir orang. Zaman sekarang ini, semua berlomba-lomba mempromosikan perayaan Natalnya. Entah dengan KKR, ada konser musik, ada penyanyi, drama, dll. Banyak yang ingin mendapatkan orang-orang baru dan jiwa-jiwa yang terhilang. Rencananya dibuat sematang mungkin, panitia dibentuk. Rapat2 dan pencarian dana. Promosi kesana-kemari.
Jauh sekali berbeda dengan Natal yang pertama. Hanya diberitahukan kepada gembala dan orang2 majus. Tidak pentingkah Natal yang pertama, sehingga hanya diberitahukan kepada segelintir orang? Bukankah itu kesukaan besar bagi dunia? Kenapa tidak diadakan KKR di stadion yang paling besar di dunia + siaran langsung ke seluruh TV di dunia (dua2nya belum ada sih!)?
Ataukah, mungkin perayaan2 Natal yang sekarang ini jauh lebih penting? Harus menyewa tempat2 yang besar dan lumayan mahal. Kenapa tempat yang besar dan mahal? Ada yang terus terang mengakui, biar yang datang adalah orang2 yang berkelas dan berduit. Bukan sedang bersaing dengan gereja2 yang lain untuk menarik orang baru (dan kaya) lebih banyak lagi, tapi kenyataannya sedang bersaing. Masing-masing dengan cara dan keinginan sendiri. Adakah Yesus Kristus yang menjadi pusat di dalam semuanya? Adakah Allah menyertai umatNya? Semua pasti menjawab, "Ya! Kami memberitakan Yesus Kristus yang lahir dengan segala sukacitanya dan semuanya untuk kemuliaan Allah"

Natal zaman sekarang ini berusaha menghadirkan sukacita. Dan sukacita itu diusahakan bisa didapatkan dari berbagai sumber. Entah itu tempat perayaan yang lebih enak, besar dan megah, acara2 yang lebih variatif dan menghibur, musik, drama, konser, dan tentu saja diharapkan bersifat kekeluargaan. Di sisi yang lebih ekstrim, sukacita itu coba didapatkan melalui Santa Claus, kasih dan perhatian lewat kartu Natal, pemberian kado, film-film dan lagu2 yang bernuansa Natal, tapi tanpa Kristus. Adakah manusia bersukacita dengan Natal? Adakah penyertaan Allah kepada umatNya?

Sukacita lewat perayaan yang sedang ditawarkan sekarang ini kebanyakan adalah sukacita palsu. Karena sukacita yang sejati didapatkan lewat Imanuel. Ya, Allah menjadi manusia, mengubah hidup manusia yang berdosa. Bukan lagi menjadi sama dengan dunia ini yang hanya ingin terus dilayani, tapi melayani. Bukan mengandalkan segala kebesaran, kemegahan dan kemewahan, tapi justru kesederhanaan dan kasih yang tidak menuntut balas. Mencari orang-orang yang terhilang, yang tersingkir karena keberdosaan dan bukan karena mereka orang-orang kaya yang bisa mendukung perkembangan gereja. Bukan dengan motivasi untuk mendapatkan orang lebih banyak untuk perkembangan gereja sendiri (yang berimplikasi kpd jumlah persembahan yg lebih banyak), tapi untuk menggenapi apa yang menjadi kehendak Allah.
Sukacita ini didapatkan bukan dengan jaminan dalam hidup yang pasti enak, penuh kemewahan dan kegembiraan, seperti dalam perayaan2 Natal. Sukacita itu akan menguap sesudah perayaan dan kebersamaan selesai. Tapi, sukacita yang sejati berpusat pada Yesus Kristus yang menjadi gembala jiwa dalam segala keadaan dan setiap saat. Kalau Tuhan sudah menyertai kita, apalagi yang kita butuhkan? Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Tanpa Kristus dan penyertaanNya, perayaan natal dengan segala variasi dan hiburannya hanya akan menjadi sukacita palsu yang akan berakhir dengan kesedihan. I'll have a blue Christmas without YOU.

Tuesday, May 15, 2007

Lupakan Masa Lalu yang terindah!?

Sejarah dan masa lalu biasanya mengandung banyak kejadian yang sangat berguna untuk hidup ini. Banyak orang sudah belajar dari sejarah dan masa lalu dan mendapatkan berbagai macam kebaikan bagi hidup.

Sebagian orang yang masa lalunya suram, berjuang untuk melupakan masa lalunya. Ada yang bisa melupakan sesudah mengambil pelajarannya dan ada yang melupakan semuanya tanpa belajar sedikitpun, karena mungkin masa lalunya terlalu pahit.

Bagaimana dengan masa lalu yang memberikan kebanggaan, kejayaan dan sukacita yang besar? Adakah yang melupakan semuanya itu? Tentu saja tidak ada yang mau melupakan itu! Biasanya semuanya disimpan di dalam album-album kenangan dan kalau tidak ada album, maka semuanya tetap disimpan di dalam hati sebagai kenangan yang terindah.
Apakah semua masa lalu yang indah harus diingat? Adakah yang harus dilupakan? Yang mana? Mengapa?

16 Beginilah firman TUHAN, yang telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat, 17 yang telah menyuruh kereta dan kuda keluar untuk berperang, juga tentara dan orang gagah mereka terbaring, tidak dapat bangkit, sudah mati, sudah padam sebagai sumbu , 18 firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! 19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. 20 Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; 21 umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku."
Yes 43:16-21

Ay. 16-17 berbicara tentang karya Tuhan yang luar biasa pada saat membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, dengan membelah laut dan membuat para prajurit Firaun tenggelam di dalam laut. Cerita ini merupakan kenangan yang terindah bagi orang Israel. Cerita ini terus diceritakan kepada anak cucu mereka untuk mengingat perbuatan2 Tuhan yang luar biasa terhadap Israel. Tuhan memerintahkan kepada bangsa Israel untuk mengajarkannya kepada keturunan mereka di dalam Ulangan 6.
Tetapi, mengapa sekarang Tuhan mengatakan jangan mengingatnya?! (ay.18). Apa yang salah dalam mengingat anugerah dan karya Tuhan yang luar biasa dalam hidup ini?

Orang Israel yang sedang berada di dalam penghukuman karena kesalahan dan dosa2 mereka, mengingat kembali apa yang dilakukan oleh Tuhan terhadap nenek moyang mereka dan berharap Tuhan melakukan hal yang sama terhadap mereka. Tetapi itu bukan kehendak Tuhan. Tuhan ingin membuat sesuatu yang baru, yang jauh sekali berbeda dengan keajaiban yang pernah dilakukan (19-20). Tuhan ingin membuat sesuatu yang berbeda, dan hal-hal ini bukan berdasarkan keinginan manusia.
Ingatan masa lalu yang indah yang akhirnya hanya melihat Tuhan hanya bisa melakukan hal itu dalam hidup bangsa Israel, itulah yang dilarang untuk diingat oleh Tuhan. Karena Tuhan bukan hanya melakukan itu saja dan hanya seperti itu.

Zaman sekarang ini, banyak orang yang hanya mengalami satu 'pengalaman rohani' dengan Tuhan. Kemudian hal itu yang terus-menerus diceritakan dan diingat-ingat. Kemana-mana hanya menceritakan hal itu. Seolah-olah Tuhan hanya berkarya kepadanya dengan satu pangalaman rohani yang dia anggap luar biasa. Sementara hal-hal lain di dalam hidupnya, tidak pernah diingat, dan tidak bisa melihat bahwa Tuhan berkarya di dalamnya. Selain itu, ada banyak pengalaman yang lain lagi yang akan terjadi di dalam hidupnya, tetapi hidupnya sudah ditutupi dengan satu pengalaman yang hebat dan ajaib, sehingga sulit menyaksikan lagi kehebatan2 dan kuasa Tuhan yang terus bekerja.

Begitu juga dengan orang-orang yang terus memikirkan relasi masa lalunya yang indah dan ingin mengulangi semuanya. Seandainya kenangan yang indah tidak membuang masa sekarang dan masa depan, it's OK. Kenyataannya, banyak yang hanya ingin mengulang realsi masa lalu dan tidak bisa menerima masa sekarang ini dan tidak bersiap untuk kemungkinan masa depan. Sayang sekali!

Maka, seringkali pengalaman2 dan kenangan2 yang terindah membuat seseorang sulit untuk bertumbuh dan melihat karya Tuhan yang lebih besar lagi yang akan Tuhan kerjakan untuk kemashyuran namaNya. Kenangan terindah dimana Tuhan bekerja luar biasa dalam hidup kita, seringkali harus dilupakan dulu supaya kita bisa melihat lagi karya-karya Tuhan yang besar dalam hidup kita.

Saya memiliki pengalaman berhubungan dengan hal ini. Pada saat lulus dari sekolah teologi, saya mendapatkan banyak pujian. Saat wisuda, dipuji oleh pendeta sekaligus rektor dan pemimpin yang saya kagumi. Pujian itu diucapkan di dalam kotbah saat wisuda. Sesudah itu, karena saya akan keluar dari gereja tempat saya praktek pelayanan, maka diadakan acara perpisahan. Pendeta yang menjadi Gembala Sidang pun memuji hasil akademik dan pelayanan yang saya kerjakan. Pujian2 ini merupakan hal2 yang terindah yang pernah terjadi di dalam hidup saya sampai saat itu. Tetapi, akibat dari pujian2 itu membuat saya sulit berkembang di dalam pelayanan. Ada perasaan bangga, puas atas apa yang sudah dicapai dan hasil yang diterima.
Beberapa tahun akhirnya tidak bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja yang lebih besar dalam hidup saya, hanya karena terus mengingat peristiwa wisuda dan perpisahan. Saya akhirnya belajar untuk melihat bahwa Tuhan bisa membuat yang lebih lagi, bukan untuk pujian yang lebih lagi untuk diri saya, tetapi untuk menunjukkan kebesaranNya yang bisa membentuk siapa saja yang mau Ia bentuk dan pakai demi kebesaran dan kemuliaan namaNya.

Jadi, ada hal2 yang tidak bisa kita lupakan. Keselamatan yang Tuhan sudah anugerahkan dalam hidup kita, pemeliharaan, kenangan2 indah dan karya2Nya dalam hidup ini. Tetapi, kalau karyaNya dan kenangan2 yang indah dalam hidup kita menghalangi kita untuk bertumbuh dan melihat karya2Nya yang akan terus bekerja dalam hidup kita, lebih baik kita lupakan dulu masa lalu itu, menerima apa yang ada sekarang dan melihat masa depan dan karya2 Tuhan yang akan terus bekerja dan tidak akan pernah berhenti untuk memashyurkan namaNya. Soli Deo Gloria.

Friday, March 16, 2007

Telinga dan Lidah Seorang Murid

Di dalam Kekristenan sekarang ini banyak yang cepat tertarik dengan berbagai fenomena yang diperlihatkan oleh orang-orang yang bertalenta, apalagi kalau kelihatan mempunyai kemampuan yang supranatural. Tetapi dengan berjalannya waktu, orang-orang seperti itu kemudian sepertinya menghilang, karena lama-kelamaan semua yang kelihatan hebat dan mengagumkan menjadi sesuatu yang biasa dan cenderung membosankan. Ada perbedaan dari orang yang ingin belajar firman dan ingin menjadi serupa Kristus. Semakin hari semakin merasa kekurangan dan membutuhkan pengenalan dan pengetahuan yang lebih. Semakin hari semakin kagum dan semakin takjub kepada Allah kita. Di samping itu, kita semakin mengenal firman, maka kitapun semakin memiliki kesempatan dan kemampuan menceritakan kebenaran firman. Bukan orang-orang yang kelihatan hebat dengan femonenanya, tetapi Tuhan sendiri dengan kuasa dan kebenaranNya yang diceritakan. Mengapa bisa seperti itu? Nabi Yesaya menjelaskan pergumulan seorang hamba di dalam Yes 50:4. Kita bisa belajar dari pergumulan ini.

The Lord GOD has given me the tongue of those who are taught, that I may know how to sustain with a word him who is weary. Morning by morning he awakens; he awakens my ear to hear as those who are taught.
ESV Isaiah 50:4

Di lihat dari sudut kedaulatan Allah, Tuhan yang memberikan Firman kepada seseorang. Kepada siapa Ia mau memberikan Ia akan memberikan pencerahan sehingga bisa mengerti akan firmanNya dan diberikan kuasa untuk mengajarkannya. Itu sebabnya, Yesaya mengatakan bahwa Tuhan Allah memberikannya lidah yang diajar, sehingga bisa memberikan semangat baru dan membangkitkan orang yang sudah lemah dan tidak berdaya.
Lidah yang memiliki pengajaran dan kuasa itu, adalah anugerah Tuhan yang melalui proses setiap pagi diajar oleh Tuhan. Yesaya mengatakan, Tuhan membangunkan (diulang dua kali, berarti ada hal yang penting) telinganya untuk mendengar seperti seorang murid. Dari sisi kedaulatan Allah, dua hal ini yang dilakukan oleh Tuhan untuk orang-orang yang akan dipakaiNya. Setiap hari mengajar umatNya dengan firman, memproses umatNya sehingga memiliki lidah yang sudah diajar dan bisa menjadi berkat dan melayani orang-orang yang lemah dan membutuhkan kebenaran dan perlu di ajar. Kesalahan dari kebanyakan orang percaya adalah pemikiran bahwa ia bisa bertumbuh dengan mendengar banyak kesaksian orang-orang yang dipakai Tuhan, mencontoh hidup dari orang-orang beriman, semakin aktif dalam pelayanan-pelayanan yang ditawarkan, banyak berdoa ataupun melihat banyak mujizat. Memang hal-hal demikian akan membuat seorang percaya bertumbuh jika dipimpin oleh firman.
Firman Tuhan yang mencipta kita, menopang kita dan membukakan kepada kita jalan-jalanNya. Tuhan mengajar kita dengan firmanNya hari demi hari, mengubah kita dan memimpin hidup kita. Tanpa dipimpin oleh firman, maka banyak aktifitas pelayanan justru mendukakan hati Tuhan karena banyak orang yang merasa beribadah dan melayani, sebenarnya sedang melawan rencana Tuhan dan bahkan bertentangan dengan firman Tuhan!?
Maka mari kita melihat dari sisi tanggung jawab manusia, apa yang sebaiknya kita lakukan. Yesaya mengatakan bahwa dia memiliki lidah dan telinga yang diajar setiap hari. Artinya, kita harus bersiap setiap hari. Membaca firman dan mendengar apa yang akan diajarkan Tuhan setiap hari di dalam firman dan meminta biar kita ada kuasa untuk mengajar diri kita terlebih dulu dengan firman, kemudian bisa membagikannya kepada orang lain. Kita tidak perlu menjadi teolog dan telah membaca dan menguasai banyak buku teologi (meskipun saya melakukan hal ini) untuk bisa dipakai oleh Tuhan untuk membangkitkan dan memberi pengertian firman kepada banyak orang.. Tetapi kita perlu mendengar dan mengerti firman hari demi hari sebagai persiapan untuk berbicara hal-hal yang benar di dalam Alkitab.
Yang saya bicarakan tentang mendengar dan mengerti firman, bukan dalam pengertian banyak orang, yang selalu ingin menafsirkan firman sesuai dengan keinginan dan pengertiannya sendiri. Tetapi, mencoba melihat apa maksud Tuhan bagi kerajaan Allah secara keseluruhan untuk menggenapkan rencana Allah dan di mana bagian yang harus saya genapi selama ada anugerah Tuhan. Banyak orang sebenarnya membaca Alkitab, tetapi tidak mau diajar dan ingin mengajar Tuhan. Kalau seseorang ingin diajar, maka ia pasti ingin mengerti seluruh rencana Allah (mau membaca dan mengerti keseluruhan Alkitab), dan membacanya dengan Tuhan sebagai pusat yang sedang ingin mengubah dan mengoreksi umatnya. Orang yang tidak ingin diajar, hanya ingin melihat firman sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya dan tidak ingin melihatnya sebagai satu keseluruhan. Yang penting apa yang berguna bagi dirinya sendiri. Akibatnya, di dalam kesaksian hidup sehari-hari, bukan bicara tentang firman yang begitu agung, mulia, menyenangkan dan Allah yang sedang bekerja, melainkan hanya menceritakan dirinya yang begitu istimewa dan Tuhan makin membuatnya istimewa karena membaca firman. Kalau diteliti dan dipikirkan, sebenarnya ada dua hal yang sangat berbeda dan bertentangan. Yang pertama, adalah murid yang berpusat kepada Tuhan. Sedangkan yang kedua, hanya ingin memanfaatkan Tuhan bagi dirinya. Yang pertama, bisa membuat orang-orang akan mengerti dan mencintai firman. Yang kedua, akan memotivasi orang-orang untuk ikutan memanfaatkan Tuhan untuk diri sendiri. Kelihatannya, sama-sama melayani dan sama-sama berpengaruh, tetapi bila waktunya tiba, Tuhan akan menunjukkan mana yang sejati dan mana yang bukan. Mana yang betul-betul telinganya terbuka untuk kehendak Tuhan dan mana yang hanya mau telinga Tuhan terbuka untuk kehendaknya sendiri.
Dunia sering menipu kita dengan fenomena yang kelihatan mirip sekali. Tetapi orang-orang yang mendengarkan firman, matanya akan terbuka dan sanggup membedakan mana yang fenomena dan mana yang fakta sebenarnya. Mengapa? Karena kuasa dan kekuatan di dalam firman yang sangat tajam melebihi pedang bermata dua, yang sanggup membedakan semuanya itu. Maka mari kita berdoa supaya Tuhan membangkitkan kita untuk mendengar firmanNya setiap hari, dan kita meminta Tuhan menganugerahkan lidah yang sudah diajar untuk melayani dan menguatkan orang-orang yang lemah lesu, orang-orang yang perlu dibangkitkan dari kematiannya di dalam dosa. Tanpa firman kita terlalu lemah untuk melakukan semuanya itu. Hanya firman yang bisa melakukan itu di dalam kelemahan dan keterbatasan kita.

1 Blessed is the man who does not walk in the counsel of the wicked or stand in the way of sinners or sit in the seat of mockers. 2 But his delight is in the law of the LORD, and on his law he meditates day and night. 3 He is like a tree planted by streams of water, which yields its fruit in season and whose leaf does not wither. Whatever he does prospers.
Psalm 1:1-3

Monday, February 19, 2007

I did it HIS Way

"And now, as tears subside, I find it all so amusing..."
"To think, I did all that, and may I say, not in a shy way"
"Oh no, oh no not me, I did it my way"


Pernah baca atau denger lagu ini? Ditulis oleh Paul Anka ke dalam bahasa Inggris dari versi aslinya bahasa Perancis Comme d'habitude. Kemudian lagu ini menjadi sangat populer melalui Frank Sinatra. Lagu ini bercerita tentang seorang pria yang sudah mendekati kematian dan mulai evaluasi hidupnya yang diceritakan kepada sahabatnya. Dan dengan bangga dia menceritakan semuanya.. Bagaimana dengan saya? Banggakah saya dengan 'my way' pada saat menjelang kematian? What about you my friend? Are you in the correct way?

8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Yes 55:8-9

11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yeremia 29:11


Siapapun manusia karena kejatuhan dalam dosa membuat kita tidak ingin melibatkan Tuhan dalam rencana, rancangan dan jalan-jalan kita. Kecuali ketika kita melihat rancangan kita sangat sulit untuk terjadi, ataupun hidup kita ini selalu gagal, maka kita biasanya berpaling kepada Tuhan untuk meminta Dia menggenapi rencana kita dan membuat kita berhasil.

Banyak orang mengatakan ingin mencari dan melakukan kehendak Allah. Sebenarnya hanya ingin memanfaatkan Allah untuk melakukan kebaikan baginya. Sangat sedikit orang-orang yang ingin melakukan kehendak Allah apalagi sampai harus mengorbankan dirinya sendiri.. Dalam agama-agama, sebagian orang yang mengorbankan diri sendiri, biasanya motivasinya sangat egois. Seolah-olah ingin berkorban bagi Allah, tapi ada iming2 kenikmatan dan kebahagiaan atau balasan dan upah yg lebih yang bisa didapatkan sesudah berkorban.

Dalam Alkitab, kalau melihat contoh-contoh yang benar, biasanya jauh berbeda dengan praktek-praktek yang sangat egois yang dilakukan oleh sebagian orang Kristen. Alkitab bicara tentang anugerah, semuanya sudah disediakan dan diberikan kepada kita (already), tapi dalam kesementaraan masih harus menunggu kegenapannya (not yet). Kehendak ALlah yang diberikan kepada manusia, semuanya yg diperlukan oleh manusia sudah dibukakan kepada manusia dalam Alkitab. Prinsip-prinsip dan nubuat2 yang pasti akan terjadi pada waktunya. Tapi, banyak orang Kristen tidak/belum bisa melihat hal ini. Lebih banyak menginginkan kehendak Allah yang tersembunyi, yang mungkin tidak akan dibukakan ataupun yang belum waktunya dibukakan.
Maka ketika berdoa dan meminta sesuatu, biasanya memaksakan keinginan dan kehendak, bahkan 'memaksa' Allah untuk melakukan dan memenuhinya. Bukannya berusaha melihat bagaimana cara Allah bekerja, prinsip2Nya dan menunggu apa yang sudah ditetapkan akan digenapi dan hidup dalam rencana yang digenapi. Dengan memaksa kita membawa rancangan2 kita, jalan-jalan kita, yang dalam sepanjang sejarah dan kalau kita membandingkan dengan Alkitab, sebenarnya jelas2 jauh, sangat berbeda dan bahkan bertentangan dengan rancangan dan jalan2 Allah. Sebagian orang Kristen sesudah menyatakan keinginan dan rancangannya, menutupnya dengan doa Tuhan Yesus, "bukan kehendakku, tapi kehendakMulah yang jadi" Kelihatannya sangat rohani, padahal mungkin tidak mengerti maksud doa Tuhan Yesus.
Doa Tuhan Yesus dalam Luk 22:42, bukan dalam pengertian Kristus tidak mengetahui kehendak Bapa. Tuhan Yesus mengetahui kehendak Bapa, tapi Dia tetap menyatakan keinginanNya untuk mengajarkan kepada kita bagaimana keinginan dan kehendak kita seharusnya tunduk kepada kehendak Bapa. Tapi, sebagian orang yang berdoa seperti doa Tuhan Yesus, tidak tahu kehendak Bapa, dan hanya menutup doanya dengan kalimat itu untuk menunjukkan bahwa mereka tidak memaksa kepada Bapa. Sesudah selesai berdoa tetap tidak tahu kehendak Bapa dan tidak ada perubahan dalam kehendaknya apalagi ingin melakukan kehendak Bapa.. Ah.. terlalu jauh dari kebenaran, dan lebih dekat dengan kemunafikan..

Firman Tuhan, rancangan dan jalanNya jauh sekali berbeda dari rencana dan jalan kita. Bukan hanya itu, tapi rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera (syalom), bukan kejahatan dan memberikan hari depan yang penuh harapan.
Maka, kalau hidup kita penuh dengan segala kejahatan, sebagian besar berasal dan akibat dari rancangan2 kita sendiri, di tambah dengan pekerjaan iblis dan pengikutnya dalam dunia yg berdosa ini.

Sebagian orang Kristen menafsirkan Yer 29:11, sebagai janji Tuhan bahwa dibalik segala kesulitan, bencana dan masalah, Tuhan akan memberikan hari depan yg lebih baik. Tapi, ternyata banyak orang Kristen yang tetap hidup dalam kesulitan, bencana dan musibah terus-menerus sampai mati. Kapan masa depannya? Dan mana masa depan yang penuh harapan?
Kata yang dipake dalam bahasa Ibrani untuk masa depan adalah 'achariyth {akh-ar-eeth'}. Kata ini sebenarnya bisa menunjuk kepada akhir zaman ataupun kepada kekekalan. Maka, seharusnya masa depan bukan di dalam bentuk kesementaraan. Karena pada akhirnya, semua yang kita pikir tentang masa depan adalah masa lalu pada saat kita akan mati. Contohnya: dari kecil/muda banyak orang berpikir tentang masa depan. Tetapi sesudah menjadi tua, tahun-tahun yang dipikirkan sebagai masa depan semuanya menjadi masa lalu. Dan kapan masa depan bagi orang-orang tua dan orang yang akan segera mati? Jawabannya pasti bukan dalam kesementaraan ini. masa depan yang sesungguhnya adalah kekekalan. Masa depan yang penuh harapan.
Tuhan sudah merancang semuanya bagi orang-orang pilihanNya, kalau kita mengerti, maka keadaan yang tersulit dalam hidup kita tidak akan mengubah dan menghilangkan damai sejahtera yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Karena mata yang memandang kepada pengharapan kekekalan tidak bisa ditipu oleh fenomena kesementaraan, yang hari ini ada dan berlimpah, tapi besok bisa hilang dan menguap, karena banjir, gempa, tsunami, angin topan (dan bencana alam lainnya). Semasa jaya kita akan dapat semuanya, tapi ada waktunya kita akan kehilangan satu demi satu dan akhirnya kehilangan semuanya. Apapun itu. Orang-orang yang kita kasihi, keluarga, pekerjaan, jabatan dan kedudukan kita, materi dan benda-benda yang kita kasihi, lingkungan kita, apapun yang bisa kita pikirkan, kecuali kasih Tuhan dan Tuhan sendiri tidak akan pernah hilang dalam hidup kita (Rom 8:31-39). Itu sebabnya damai sejahtera tidak akan pernah hilang dalam rancangan Tuhan bagi kita.
Pertanyaannya, are you in His way? Have you done His way?
Kalau ada kesempatan untuk menyanyikan sebuah lagu sebelum mati (tentu saja saya pengen nyanyi banyak lagu:), salah satu yang akan dipilih adalah My Way), maka saya akan menyanyikan lagu ini, dengan sedikit perubahan:

"And now, as tears subside, I find it all so amusing..."
"To think, I did all that, and may I say, not in a shy way"
"Oh no, oh no not me, I did it HIS way"


Kotbah yang berhubungan dengan tema di atas. Download Kotbah