Ayat Hari Ini:

Wednesday, July 4, 2007

Allah adalah Pribadi yang paling Menikmati

Dikutip dari buku Mari Menikmati!

Dalam hidup ini manusia biasanya hanya ingin melihat segala hal yang baik terjadi dalam hidupnya.Manusia biasanya menganggap dirinya tidak layak mengalami segala kesulitan, masalah, penyakit, bahaya, bencana alam dan segala hal yang negatif. Manusia menganggap dirinya bisa mendapatkan segala yang baik dalam hidupnya. Manusia jarang memikirkan bagaimana keinginan dan perasaan Allah dalam segala hal yang terjadi dalam hidup ini. Apakah Allah menikmati di dalam segala hal yang terjadi? Apakah Allah tidak berhak melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginanNya dan kenikmatanNya? Bukankah Ia yang merencanakan, mencipta, memelihara dan menyempurnakan semuanya untuk diriNya sendiri?!

Berbagai pandangan terhadap Allah bisa kita lihat di dalam berbagai macam agama dan kepercayaan. Allah bisa digambarkan dengan berbagai macam karakter yang menonjolkan kepada satu sisi. Kalau bukan Allah yang pengasih dan pemurah, maka Allah adalah Allah yang kejam, pemarah, gampang tersinggung, sering menyatakan murkaNya dan akan tenang kalau manusia memberikan persembahan atau korban. Hampir tidak ada yang menggambarkan Allah sebagai Allah yang menikmati, kecuali di dalam karakter dewa-dewi Yunani yang dianggap bersenang-senang dengan kenikmatan (sementara).

Kalau menyelidiki Alkitab, kita akan menemukan bahwa dalam beberapa bagian menggambarkan bahwa Allah adalah Allah yang menikmati.

Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dinikmati-Nya.
Maz 115:3 ROT (Ronald Oroh Translation)

Jarang ada orang yang memperhatikan kenikmatan Allah, karena manusia biasanya hanya memperhatikan kenikmatan dirinya sendiri dan hanya mempergunakan Allah untuk kenikmatan sendiri. Seharusnya kita melihat terlebih dahulu tentang kenikmatan Allah, baru bertanya tentang kenikmatan kita sebagai ciptaan.

Jika Allah bukan pribadi yang paling menikmati, maka hidup ini akan betul-betul terasa hambar dan tanpa kenikmatan sama sekali. Hidup menjadi seperti robot yang tanpa perasaan dan tidak mengerti apa itu kepuasan. Semuanya biasa dan tidak berarti. Tetapi, justru karena Allah adalah pribadi yang paling menikmati, maka hidup ini menjadi hidup yang penuh kenikmatan. Allah menyatakan kemuliaanNya, menikmatiNya dan bahkan membuat dunia ini penuh dengan kelimpahan kenikmatan, karena Allah adalah pribadi yang paling menikmati.

Sebelum dunia diciptakan Allah begitu menikmati keberadaanNya. Karena Allah memiliki tiga pribadi yang berada di dalam satu kesatuan keberadaan. Kalau Allah hanya satu pribadi, maka tidak ada persekutuan dan tidak ada kenikmatan. Ia baru bisa menikmati kalau ada ciptaan. Tapi, kalau banyak pribadi dan banyak keberadaan Allah akan membuat peperangan, kekacauan dan kebencian. Karena Allah adalah Tritunggal maka Allah menikmati tanpa membutuhkan ciptaan, dan kenikmatanNya adalah kenikmatan sempurna di dalam satu kesatuan.

John Piper di dalam bukunya Desiring God, mengubah pertanyaan pertama dan jawaban dari Katekismus Singkat Westminster. Apa yang menjadi tujuan paling akhir dari Allah (seharusnya manusia)? Jawabannya, tujuan paling akhir dari Allah adalah memuliakan diriNya dan menikmati kemuliaanNya.
Allah merencanakan, mencipta, memelihara dan tidak pernah meninggalkan ciptaanNya, serta menyempurnakan ciptaanNya bagi kemuliaan dan kenikmatanNya. Hal ini yang sulit dimengerti dan jarang ada orang yang mau mengerti. Tanpa menciptakan segala sesuatu (termasuk manusia), kemuliaan Allah sempurna dan Allah menikmati semuanya. Penciptaan sampai Penyempurnaan tidak membuat kemuliaan dan kenikmatan Allah berubah atau bertambah. Artinya, kalau Allah tetap menciptakan dunia dan segala isinya, menebusnya setelah jatuh dalam dosa, kemudian menguduskan, memelihara dan menyempurnakannya sampai pada akhirnya, untuk menunjukkan kepada ciptaanNya (khususnya manusia), betapa besar kemuliaan Allah dan bagaimana Allah menikmati semuanya. Tentu saja untuk mengajar manusia belajar menikmatinya juga.

Jadi kenikmatan Allah tidak bergantung dan berdasarkan kepada ciptaanNya begitu juga dengan manusia. Kenikmatan Allah tidak bergantung kepada seberapa besar manusia berespon. Allah bebas memuliakan diriNya dan menikmati semua kemuliaanNya. Termasuk dalam berbagai-bagai bencana alam dan musibah, Allah-pun bisa memuliakan diriNya dan Ia menikmatiNya. Mungkin sebagian orang bertanya, “Mengapa Allah menikmati di tengah penderitaan manusia?” Allah bukan menikmati penderitaan manusia, tetapi Ia menikmati ketika rencana-rencanaNya dilaksanakan, meskipun terlihat di mata manusia yang tidak bisa melihat big picture-nya sebagai musibah. Sebenarnya Allah mengijinkan/membiarkan semua bencana itu terjadi karena bisa menggenapi dan melaksanakan rencanaNya sampai pada akhirnya.
Banyak orang yang hanya bisa mengeluh, marah dan kecewa kepada Allah di dalam segala penderitaan, kesulitan dan bencana. Tetapi ketika melihat dalam jangka waktu berikutnya hal-hal yang terjadi akan membuat orang-orang yang percaya kepada Allah akan bersykur kepadaNya atas semua bencana dan kesulitan yang pernah dialami dan dilaluinya. Manusia marah dan kecewa karena hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak bisa melihat segala sesuatu sampai pada akhirnya.
Padahal sebenarnya segala bencana dan permasalahan yang terjadi dalam hidup manusia masih terlalu sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang sudah kita perbuat. Kalau dilihat sebagai penghukuman atas dosa-dosa kita, harusnya lebih banyak lagi musibah, bencana dan permasalahan yang harus dialami oleh manusia.

Ketika Allah menikmati semua yang dilakukan untuk kemuliaanNya, manusia tidak berhak untuk mengganggu dan memprotesnya. Karena semuanya adalah hak Allah untuk melakukan sebagai Pencipta. Sekalipun manusia menjadi korban, manusia tetap tidak berhak untuk memprotes Allah. Manusia biasanya tidak fair. Ketika manusia mengejar kenikmatan sementara dan tidak menghiraukan Allah dan bahkan melawan Allah, seringkali Allah membiarkannya dan tidak mengganggu, bahkan menyediakan segala kenikmatan yang dibutuhkan! Tetapi, mengapa kita memprotes kehendak Allah yang menikmati semua perbuatanNya sekalipun bertentangan dengan kehendak manusia?! Bukankah Allah berhak melakukan semuanya tanpa gangguan sedikitpun dari manusia yang merasa terganggu?!
Sebagian orang mengatakan, karena apa yang dilakukan Allah merugikan diri mereka. Bukankah yang kita lakukan sangat-sangat merugikan Allah dan sesama manusia? Kenapa kita bisa melakukan apa yang merugikan Allah dan sesama manusia, tetapi Allah tidak bisa melakukan apa yang dinikmatiNya, yang kelihatan sepertinya merugikan, tetapi sebenarnya untuk menggenapkan rencanaNya yang baik dan sempurna?

Meskipun kenikmatan Allah tidak bergantung sedikitpun kepada ciptaanNya, tetapi ketika ciptaanNya memuliakan dan menikmatiNya, maka Allah menikmatinya. Apakah hal ini akan menambah kemuliaan dan kenikmatan Allah? Jawabannya, tidak. Kalau begitu, untuk apa semuanya ini? Untuk manusia belajar tentang kemuliaan dan kenikmatan Allah serta bagaimana memuliakan dan menikmati Allah. Manusia mempunyai tanggung jawab sebagai ciptaan untuk semakin membesarkan Allah dan kemuliaanNya, melihat bagaimana Allah menikmati di dalam menyatakan kemuliaanNya dan manusia belajar menikmati seperti Allah menikmati dan tentu saja menikmati Allah yang merupakan sumber segala sesuatu. Tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab yang besar yang seharusnya dipelajari manusia seumur hidupnya.

1 Komentar:

Gati Siahaya said...

Thanks, jadi lebih mengerti tentang rejoice in God's will, dasarnya mmg segala sesuatu akhirnya bermuara kepada untuk kemuliaanNya bukan karena Dia membutuhkan hal itu ttp karena mmg hanya Dia yg paling layak menerima segala kemuliaan dan hormat, hahahaaa...beneer bangeut, astaga...betapa manusia ini (baca: saya) seringkali ga tau diri banget ternyata, hehehe.

Post a Comment