Ayat Hari Ini:

Tuesday, September 4, 2007

Lebih dari Kristus

Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.
Mat 10:24


Memperhatikan diri sendiri dan juga memperhatikan kehidupan hamba-hamba Tuhan yang semakin terkenal, kelihatannya semakin jauh berbeda dengan Kristus.
Ada kecenderungan untuk kelihatan semakin sibuk dan dalam kotbah-kotbah semakin ingin menunjukkan bahwa pelayanan sebagai hamba Tuhan itu menderita dan capek sekali. Sampai-sampai kemudian tidak ada waktu lagi untuk melayani orang-orang yang harus dilayani.

Dalam Mat 10:24, Tuhan Yesus berbicara di dalam konteks penderitaan. Tidak ada seorang murid yang lebih dari pada gurunya. Maksudnya, penderitaan yang akan dialami oleh murid-murid Kristus tidak akan pernah melebihi penderitaan Kristus. Seharusnya, kalau kita menjadi serupa Kristuspun tetap tidak bisa dibandingkan penderitaan yang kita alami dengan penderitaan Kristus. Ia adalah Pencipta, jadi sama dengan ciptaan, menderita, berkorban dan mati bagi ciptaanNya. Kalau kita menderita dan mati bagi Kristuspun, tetap tidak sebanding dengan apa yang Ia telah lakukan.

Akhir-akhir ini dapat beberapa SMS yang memberikan informasi tentang gereja yang diserbu dan Pendetanya dianiaya. Banyak orang yang terkejut dengan berita-berita seperti ini. Tapi, bukankah hal-hal seperti ini adalah hal yang biasa. Sejak dari gereja mula-mula, murid-murid Kristus dikejar-kejar, dianiaya dan banyak yang disalibkan. Dilihat dari sisi kemanusiaan dan keadilan di dalam berbangsa dan negara, memang perlu disesali. Tapi dilihat dari sisi sejarah Kekristenan, hal itu biasa-biasa saja. Kematian Kristus yang adalah Pencipta yang menjadi ciptaan, itu yang luar biasa.

Melihat hidup Kristus sebagai manusia, seharusnya kita akan terheran-heran. Ia menderita dan terus-menerus dilawan oleh pemimpin2 politik dan agama. Tapi, ajaran-ajaranNya dikagumi tapi juga dilawan. Mujizat-mujizatNya ditunggu-tunggu, tapi orang-orang hanya membutuhkan mujizat bukan diriNya. Dalam keadaan-keadaan yang sangat melelahkan dan menderita, Ia selalu ada waktu untuk murid-muridNya, orang2 banyak, orang-orang sakit, dan orang-orang yang harus dilayani secara pribadi, bahkan anak-anak.

Membandingkan Kristus dengan pelayanan dan hidup saya serta hamba-hamba Tuhan yang lain, sepertinya bukan makin mirip, tapi jadi lebih bertentangan.
Semakin sibuk, bukan semakin melayani orang, tetapi semakin melayani pelayanan itu sendiri (yang ujung-ujungnya meberikan uang yang lebih banyak).
Kalau diundang untuk berkhotbah, ditanya dulu berapa banyak orang yang akan hadir?! Semakin terkenal seorang Hamba Tuhan, sudah menjadi pendapat umum bahwa harus lebih banyak orang mendengarkan kotbahnya. Kecuali untuk orang-orang penting/kaya, selalu ada waktu untuk duduk makan dan berbicara/konseling. Bagaiamana dengan orang-orang yang terpinggirkan? Adakah waktu untuk mereka? Bukankah Kristus justru selalu punya waktu dan bahkan duduk makan dengan mereka?

Tanpa sadar (atau banyak juga yang melakukannya dengan sadar), banyak hamba Tuhan hidup dan pelayanannya melebihi Kristus. Yang ditunjukkan sepertinya lebih menderita dan berkorban, lebih capek dan melakukan pekerjaan-pekerjaan pelayanan yang lebih besar (karena berkotbah kepada orang yang lebih banyak) dan bahkan waktu-waktunya lebih sibuk, sehingga orang-orang semakin sulit mendekatinya, termasuk jemaatnya sendiri. Begitulah hidup saya ketika menjadi Gembala Jemaat di salah satu gereja. Sepertinya ketika semakin sibuk dan banyak pelayanan, maka jemaat harus maklum kalau mereka tidak bisa dilayani. Masing-masing harus bisa melayani diri sendiri dan saling melayani. Masih banyak pekerjaan-pekerjaan besar yang harus saya lakukan. Di suatu waktu, saya sadar. Saya bukan mengikuti caranya Kristus. Saya hanya ingin melebihiNya. Dan kelihatan lebih sibuk lagi. Sepertinya seorang Hamba Tuhan yang ingin sekali menggenapkan kehendak Allah yang begitu banyak dan begitu besar. Semakin banyak yang saya lakukan, dan semakin banyak orang yang diberkati (apalagi orang-orang penting/kaya), sepertinya semakin dipakai Tuhan. Dan ternyata yang dinikmati: banyaknya pelayanan, perasaan berarti (apalagi kalau sesudah kotbah dan ngajar dipuji-puji) dan tentu saja uang yang dianggap sebagai berkat dari pelayanan dan pemeliharaan Tuhan. Berbeda sekali dengan yang dilakukan oleh Kristus.

Kristus tidak pernah memberikan syarat bahwa harus banyak orang dulu baru Ia akan berkotbah. Ia juga tidak pernah menolak pelayanan di dalam keadaan yang sangat sibuk dan meletihkan. Ia bisa didekati siapa saja, tapi Ia tidak bermulut manis kepada orang kaya dan pemimpin2 politik/agama (demi utk mendapatkan kesuksesan dan pengakuan yang lebih besar). Ia juga tidak perlu jaim (jaga image), dengan tdk mau berbicara dgn pemungut cukai, pelacur dan bahkan duduk makan dengan mereka yang terkenal sebagai orang-orang berdosa. Ia tetap bisa melakukan semuanya tanpa iming-iming kesuksesan, hidup yang lebih enak, dll. Dan Kristus betul-betul menderita dan berkorban bagi umatNya. He is the good Shepherd.
Bagaimana dengan saya? Masih terlalu jauh dari semuanya...

More like the Master I would ever be,
More of His meekness, more humility;
More zeal to labor, more courage to be true,
More consecration for work He bids me do.

Take Thou my heart, I would be Thine alone;
Take Thou my heart, and make it all Thine own.
Purge me from sin, O Lord, I now implore,
Wash me and keep me Thine forevermore.

(Words & Music: Charles H. Gab­ri­el, 1906)
Text selengkapnya dan MIDI bisa dilihat dan didengar di Cyber Hymnal

1 Komentar:

Anonymous said...

Hey hey hey... its been long hehehhe
Pa kabar nya?
BIngung mo manggil kamu sapa....
Anyway, post yang ini mengingatkan aku ama pendeta ku. THank God aku dikasih sebuah gereja tempat untuk melayani dan dilayani. Khusus nya dilayani ama seorang pendeta yang masih bisa didekati untuk diajak curhat.

Its good to know that u've been changed. Aku berdoa semoga kamu makin bisa bagi waktu buat melayani Tuhan (termasuk sesama) amin...

Post a Comment