Ayat Hari Ini:

Monday, December 14, 2009

Nuh (2): Tiga Cara Melawan Dosa

Dosa tidak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia. Termasuk dalam kehidupan orang percaya, pergumulan melawan dosa menjadi salah satu bagian pegumulan yang sulit untuk dihadapi.Mampukah manusia melawan dan mengalahkan dosa, yang dari awal bumi ini diciptakan sudah masuk dan merusak seluruh aspek kehidupan?
Cerita dan kehidupan Nuh setidak-tidaknya mengajarkan tiga cara melawan dosa kepada orang percaya yang sudah menerima anugerah keselamatan.

Pertama: Tepat Sesuai perintah Allah (Kej 6:22)

22 Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.
Kejadian 6:22

Kebanyakan orang berpikir bahwa dosa bisa dilawan dengan perbuatan baik. Semakin banyak perbuatan baik akan semakin membuat dosa jadi lebih berkurang. Kenyataannya, perbuatan yang dianggap baikpun ternyata bisa juga hanya menambah dosa. Karena permasalahannya adalah, bagaimana kita bisa tahu bahwa perbuatan baik itu adalah perbuatan yang benar dan berkenan kepada Allah?

Nuh mengajarkan sesuatu yang melampaui perbuatan baik, yaitu melakukan tepat sesuai perintah Allah. Kata dosa yang paling menonjol di dalam bahasa aslinya, baik bahasa Ibrani maupun Yunani, mempunyai pengertian meleset dari sasaran. Jadi, cara terbaik untuk melawan dan mengalahkannya dengan melakukan yang tepat sasaran; melakukan dengan tepat sesuai dengan perintah Allah.
Kalau hanya sekedar melakukan perbuatan2 baik, tidak membereskan dosa. Tapi, dengan melakukan tepat sesuai dengan perintah Allah bisa mengembalikan arah dan tujuan yang benar dan seharusnya.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya, bagaimana kita bisa tahu yang tepat sesuai dengan perintah Allah? Jawabannya, ada di dalam Alkitab. Bukankah perlu penafsiran? Belajarlah menafsirkan dengan benar dan tepat, dan percaya bahwa ada pekerjaan Allah Roh Kudus yang akan memimpin kita kepada seluruh kebenaran.

Kedua: Ingat Tuhan, Bersyukur, Persembahan (Kej 8:20)
20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
Kejadian 8:20

Membayangkan Nuh yang keluar dari bahtera sesudah air bah, seharusnya banyak hal dalam pikirannya yang berkecamuk. Nuh seharusnya menanyakan kepada Allah apa yang harus diperbuat dengan bumi yang kosong, modalnya mana dan harus kerja apa, jaminannya apa bahwa tidak akan terjadi lagi air bah dan ia tidak kehilangan pekerjaan lagi?! Tapi, respon Nuh ternyata berbeda.

Nuh lebih memikirkan Tuhan dibandingkan diri dan kebutuhannya, bahkan ia mempersembahkan binatang yang seharusnya bisa menjadi modal baginya untuk berusaha di bumi yang baru. Nuh memulai dengan ucapan syukur dan memberikan persembahan; mengajarkan kepuasan kepada Tuhan untuk hidup dan kesempatan yang diberikan-Nya.

Mengingat Tuhan, puas, bersyukur dan bahkan memberikan persembahan adalah cara lain untuk mengalahkan dosa! Iblis dan manusia pertama jatuh dalam dosa karena ketidakpuasan dan menginginkan yang lebih dari seharusnya. Dan Iblis terus bekerja membuat manusia tidak pernah bisa puas dengan hidup dan bahkan anugerah yang sudah Tuhan beri. Hanya dengan mengingat Tuhan, puas kepada-Nya dan bahkan memberikan persembahan, akan membuat kita melihat bahwa anugerah yang Tuhan beri sudah terlalu banyak dibandingkan dengan seharusnya hukuman yang harus kita terima. Hal ini akan membuat godaan dosa tidak terlihat lebih besar dibandingkan dengan anugerah dan berkat2 dari Tuhan.

Ketiga: Keteraturan (Kej 8:22)
22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."
Kejadian 8:22

Bayangkan kalau dalam satu sekolah, seluruh murid dan guru dibiarkan bebas melakukan apa yang diinginkan mereka masing-masing. Tidak ada aturan, tidak ada keteraturan dan ketertiban. Apakah yang akan terjadi?

Dari awal mencipta bumi ini, Tuhan memberikan keteraturan. IA membuat semuanya indah karena ada keteraturan. Tapi, ketika dosa masuk menghancurkan tatanan yang ada dan berusaha merusak semuanya. Dosa membuat seolah-olah keteraturan menjadi keterikatan dan pengekangan atas kebebasan. Itu sebabnya, kebebasan yang tak terkendalikan membuat bumi ini makin hari makin rusak dan hancur.

Sebenarnya kalau manusia bisa hidup dalam keteraturan yang sudah dirancang Tuhan akan membuat manusia bisa menikmati keindahan anugerah Tuhan dan bahkan kebebasan yang sejati. Kebebasan yang bukan berdasarkan pemberontakan karena mengikuti nafsu yang berdosa, tapi kebebasan menikmati hidup untuk memuliakan dan menikmati Allah. Hidup manusia sudah dirancang Tuhan untuk ada dalam keteraturan yang harus berulang setiap hari, minggu, bulan, tahun. Sekalipun berulang, tetap ada keindahan yang berbeda hari demi hari. Jikalau kita bisa melihat keindahan dalam keteraturan, maka tidak ada tempat untuk pemberontakan kepada Allah demi kebebasan yang palsu.

Kegagalan Nuh
Sekalipun Nuh yang dikatakan orang benar dan tidak bercela dapat kesempatan yang baru dalam bumi yang baru dan mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi dan mengalahkan dosa, tetapi bukan berarti Nuh tidak pernah gagal dan berdosa.
Kejadian 9:18-27 menceritakan kegagalan Nuh karena mabuk berkat. Nuh mabuk oleh anggur hasil kebunnya dan telanjang. Karena perbuatan Nuh ini membuat Ham anaknya berdosa dan dikutuk oleh Nuh.

Nuh mengulang cerita lama kejatuhan manusia dalam dosa. Manusia berdosa bukan karena kekurangan, tapi dalam kelimpahan berkat. Dalam kelimpahan manusia bisa lupa diri dan mabuk dengan segala berkat pemberian Allah. Itu sebabnya, orang percayapun dalam segala kelimpahan anugerah Allah masih bisa berdosa dan bahkan banyak yang lupa diri dan berdosa.

Semoga anugerah dan berkat2 Allah yang terus berkelimpahan dalam hidup ini membuat kita makin bisa melihat apa yang Tuhan kehendaki, sehingga kita bisa makin peka melakukan apa yang tepat sesuai dengan perintah Allah, terus mengingat-Nya, puas dan bersyukur kepada-Nya, mepersembahkan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya dan menikmati kebebasan dalam keteraturan yang sudah dirancangkan-Nya. Soli Deo Gloria.

1 Komentar:

ahestin tineke said...

wonderful...that was really deep thought. i thank God to enable me to read this...if you dont mind Mr. Oroh..may i know how to contact you.

warm regards,

ahestin

Post a Comment