Ayat Hari Ini:

Friday, December 24, 2010

Sudah Siap?

Setiap manusia mempunyai pandangan sendiri untuk apa dia hidup di dunia. Begitu juga dengan pandangan tentang siapa dirinya dan siapa yang menciptakan dirinya.
Bagi orang Kristen meskipun Alkitab memberikan penuntun untuk mengerti semuanya, tapi dalam kenyataan hidup ini banyak orang Kristen tidak mengerti, lupa, atau bahkan kehilangan arah.
Natal, biasanya menjadi salah satu momen yang bisa dipakai untuk mengingatkan tentang siapa yang memberi hidup, untuk apa hidup ini, siapa kita yang diberi hidup, dan sudahkah kita melakukan tugas kita dalam hidup ini.


3 Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."
Matius 3:3


Untuk Siapa?
Untuk Tuhan! Sederhana, biasa kita dengar, biasa kita ucapkan, tapi biasakah kita melakukannya? Karena banyak hal yang dilakukan orang Kristen yang mengatakan melakukannya untuk Tuhan, kalau ditelusuri dan dipikirkan lebih jauh sebenarnya berpusat kepada diri kita dan keinginan kita. Misalnya, mana yang lebih kita pedulikan: menyenangkan hati Tuhan (dan mungkin menyakitkan hati kita) atau menyenangkan hati kita; menyakitkan hati Tuhan atau menyakitkan hati kita; rencana Tuhan atau rencana kita; jalan Tuhan atau jalan kita? Lebih banyak mana dalam doa-doa kita, bertanya kehendak Tuhan yang harus kita lakukan atau membawa segala kehendak dan keinginan kita?

Yohanes Pembaptis mengerti bahwa hidupnya dipersiapkan oleh Tuhan untuk Tuhan. Itu sebabnya, pusat perhatian dalam hidupnya adalah Tuhan, kehendak-Nya, pertobatan manusia dan Kerajaan Sorga. Dia diberi hidup oleh Sang Pencipta untuk Sang Pencipta itu sendiri, melakukan tugas yang diberikan oleh Sang Pencipta meskipun hanya sebentar dan Yohanes harus jadi korban.
Yohanes Pembaptis hidup untuk Tuhan yang mengasihi dan dikasihinya. Mengapa ia bisa hidup seperti itu, siapakah dia?

Siapa Saya?
Hidup Yohanes Pembaptis adalah hidup yang sangat unik. Lahir melalui keajaiban, berasal dari keluarga imam yang seharusnya membuat ia mendapatkan kehidupan yang sangat layak. Tapi anehnya ia pergi ke padang gurun, memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Kehidupannya terlalu sederhana untuk orang yang berasal dari keluarga yang status sosialnya terpandang. Mengapa ia tidak menjadi imam seperti ayahnya dan menikmati segala fasilitas yang ada? Mengapa ia tidak mengejar banyak hal seperti orang kebanyakan? Panggilan!?

Menunggu 30 tahun (karena dari hukum Taurat sudah ditetapkan untuk para imam yang melayani) dan dipersiapkan selama itu di padang gurun bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi semua orang. Dan ketika waktunya tiba, seluruh potensi, karunia dan energinya dicurahkan untuk menyatakan kehendak Tuhan bagi umat-Nya. Dengan penuh kuasa, ia menarik perhatian banyak orang. Bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya, ia menjadi sangat populer. Terlalu cepat populer, bisa membuatnya lupa siapa dirinya dan tugas dari Penciptanya. Ketika orang banyak bertanya, "Siapa Rabbi muda ini? Messiaskah?"

Jawaban Yohanes menunjukkan ia mengenal siapa dirinya dan siapa yang lebih besar darinya yang harus disaksikannya. Ia menunjuk kepada nubuat nabi Yesaya tentang dirinya yang hanya menyiapkan jalan untuk pribadi yang Agung dan tidak bisa dibandingkan dengan dirinya. Jadi budakpun yang membuka kasut Messias, baginya pun masih tidak layak. Yohanes masih tahu diri.

Di kamar mandi tempat saya tinggal, ada cermin yang besar. Tepatnya, satu2nya cermin yang ada di tempat saya tinggal. Setiap kali mau mandi, ada satu pertanyaan yang selalu muncul, "Siapa saya?"
Kebanyakan orang lupa siapa dirinya dalam segala anugerah, berkat dan kelimpahan yang diberikan Sang Pencipta. Banyak orang lupa bagaimana ia lahir dan tidak tahu bagaimana akan berakhir hidupnya. Kita semua tidak lebih dari budak, yang hanya diberi kesempatan oleh Tuan kita untuk tugas yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Tugas apa?

Untuk Apa?
Membicarakan tugas biasanya bukan sesuatu yang menyenangkan karena yang terbayangkan adalah beban dan sesuatu yang sulit. Tapi berbeda dengan Yohanes, karena hidupnya, dipersiapkan 30 tahun, demi untuk tugas yang harus dilakukan dalam beberapa bulan sebelum hidupnya akan berakhir. Apa tugas Yohanes?

Mempersiapkan jalan untuk Tuhan. Ia hidup bukan untuk kesuksesan hidupnya. Tapi, ia hidup untuk menyaksikan Penciptanya yang sedang membawa kesuksesan yang bernilai kekal yang jauh lebih tinggi dan indah dibandingkan kesuksesan palsu dan sementara yang ditawarkan oleh dunia. Yohanes hidup biar orang-orang bisa bertobat dan melihat Sang Raja yang membawa Kerajaan Sorga. Yohanes hidup untuk Natal yang sejati, kedatangan sang Raja Sorgawi.

Bagaimana dengan Saya? Untuk apa saya hidup di dunia? Adakah misi khusus? Mengapa saya hidup lebih lama dari Yohanes Pembabptis? Terlalu banyakkah tugas yang harus dilakukan sehingga hidupnya harus lebih lama? Atau belum bereskah yang harus dilakukan sehingga masih harus tetap hidup?

Sudah Siap?
Saya belum siap! Bukan soal kita siap atau tidak siap, tapi jalan Tuhan yang harus dipersiapkan. Kita siap atau tidak siap, tugas harus dilakukan dan diselesaikan. Manusia siap atau tidak, Tuhan tetap datang ke dunia. Setiap tahun, kita siap atau tidak, Natal tetap dirayakan.

Ketika terlalu banyak waktu kita dicurahkan dan dihabiskan untuk menyiapkan diri kita, maka terlalu sedikit waktu dan tenaga untuk mempersiapkan jalan Tuhan. Kita tidak bisa menyiapkan diri kita, hanya Tuhan yang bisa bekerja, mempersiapkan dan mengubah hidup kita. Tugas kita mengenal dan mengasihi Tuhan kita, mempersiapkan jalan-Nya biar banyak orang bisa melihat kemuliaan-Nya dan memuji kemuliaan-Nya.

Sudah siapkah jalan Tuhan yang harus kita persiapkan? Biarlah banyak orang bisa melihat Sang Raja yang datang membawa kerajaan-Nya. Selamat Natal.

2 Komentar:

Ida Ratna said...

kak ronald, izin share ya ^^

Anonymous said...

Thanks a lot...
email (yellow)

Post a Comment