Ayat Hari Ini:

Wednesday, November 14, 2007

Congkak dan Sombong

"Bukan yang congkak, bukan yang sombong,
yang disayangi, handai dan taulan..."

Kalimat di atas ini adalah sepotong lagu di masa kecil yang masih terus terngiang-ngiang. Kenyataannya, dosa membuat kecongkakkan dan kesombongan masih terus mengganggu di dalam hati ini. Semua orang pada dasarnya sombong. Bahkan orang yang kelihatan rendah hatipun sering menyombongkan kerendahan hatinya, meskipun itu dilakukan di dalam hatinya.

Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.
Amsal 21:4

Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
1 Petrus 5:5

Dalam Amsal 21:4, kecongkakkan dan kesomobongan ditunjukkan melalui mata dan hati. Mata seseorang ternyata bisa menunjukkan betapa berdosanya orang itu. Dari cara memandang, entah memandang terlalu tinggi kepada orang-orang tertentu, ataupun merendahkan orang-orang tertentu. Mata kita berbicara, betapa sombong dan congkaknya diri kita. Mata kita mewakili hati kita yang sombong. Itu sebabnya sangat gampang untuk mengenali orang sombong. Seseorang tidak perlu berbicara untuk memperlihatkan kesombongannya. Cara melihat kepada seseorang bisa menunjukkannya. Mata seseorang kadang-kadang bisa kelihatan menipu, tapi kalau diperhatikan lebih jelas dan teliti, maka hati seseorang bisa terlihat, karena mata adalah jendela hati. Itu sebabnya penulis Amsal mengaitkan antara mata dan hati yang sombong.

Yang lebih menarik, waktu penulis Amsal mengaitkan mata yang congkak dengan dosa. Bagi zaman ini, kesomobongan sudah dianggap lumrah. Memang ada yang kurang enak kalau melihat orang yang terlalu sombong. Tapi, kalau kesombongan yang wajar (emang ada?), yang tidak terlalu berlebihan akan kita anggap wajar-wajar saja. Apalagi kalau orang yang menunjukkan kesombongannya dan menunjukkan betapa hebatnya dirinya adalah orang yang memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Bagi kita, mungkin tidak apa-apa kalau orang itu kemudian menceritakan kehebatan dan kemampuannya, dan bahkan mempertontonkan semuanya yang akan membuat kita kagum.
Haruskah seseorang yang mempunyai banyak kelebihan dan kemampuan menunjukkan semua kemampuan dan kelebihannya? Motivasinya apa? Untuk menunjukkan betapa hebatnya dirinya? Ataukah ingin menunjukkan anugerah Tuhan yang harus dipakai memuliakanNya (yang ini jarang ada orang melakukannya)?

Ada perbedaan yang besar yang bisa dilihat dari cerita seseorang tentang kemampuan2 di dalam dirinya. Yang berpusat pada diri, akan menunjukkan semuanya dengan kebanggaan dan banyak menggunakan kata 'saya', bahkan penekanannya kepada usaha dan perjuangannya sendiri. Akibatnya, menjadi kurang menghargai orang-orang yang memiliki kemampuan yang hanya sedikit dan bahkan bisa menghina orang-orang seperti itu.
Sedangkan yang berpusat kepada Tuhan, tidak merasa terlalu perlu untuk menunjukkan kemampuan-kemampuannya yang hebat, kecuali pada saat dibutuhkan. Pada saat menunjukkannya, maka orang itu akan menunjukkan bahwa semuanya berasal dari Tuhan dan dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Ia tidak akan kurang menghargai orang-orang yang kemampuannya kurang, apalagi menghinanya. Ia juga tidak akan iri dengan orang-orang yang melebihi dirinya. Bahkan, kemampuan dan kelebihannya akan dipakai untuk menolong orang yang kurang dan orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih darinya tapi belum menyadari potensi kemampuan dan kelebihannya itu. Hal ini seringkali hanya menjadi mimpi di dunia yang berdosa ini. Karena semua manusia congkak dan sombong.

Penulis-penulis Alkitab bukan hanya mengatakan bahwa kecongkakkan adalah dosa, ternyata Allah sendiri menentang orang-orang congkak. Orang yang congkak dan sombong harus berhadapan dengan Allah. Mengapa? Kenapa dosa yang satu ini menjadi begitu serius? Sebagian besar orang mencoba menghubungkan dengan awal dari dosa yang disebabkan oleh Iblis. Kalau kita memperhatikan pelayanan Tuhan Yesus, maka Ia menerima dan melayani pemungut cukai, orang-orang berdosa dan bahkan para pezinah. Tetapi, ketika berhadapan dengan imam-imam, ahli Taurat dan orang Farisi yang sombong dan congkak, maka perkataan Tuhan Yesus, "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu" (Yoh 8:44).
Begitu juga dengan kesombongan Hawa yang tidak mengikuti perintah Allah dan memakan buah yang dilarang, karena ingin menjadi seperti Allah. Kesombongan yang membuat dosa hadir dan juga masuk ke dunia ini.

Selain itu, kesombongan ada kemiripan dengan penyembahan berhala. Kesombongan manusia menyebabkan manusia menyembah dirinya dan segala kemampuannya, yang sebenarnya adalah anugerah Allah. Pemberian Allah yang seharusnya dipakai untuk memuliakan dan menikmatiNya, ternyata diklaim sebagai milik pribadi, pencarian pribadi, usaha pribadi dan perjuangan pribadi, untuk menyembah diri sendiri dan mencari pujian dan penyembahan dari orang-orang disekelilingnya. Sama persis dengan penyembahan berhala.

Mengapa kita menjadi sombong? Jika yang kita miliki semuanya adalah anugerah Allah, apa yang bisa kita sombongkan? Waktu kita lahir, kita miskin dan belum bisa melihat semua yang sudah Tuhan anugerahkan dan siapkan bagi kita. Waktu kita mati, kita akan kehilangan semua yang sudah kita miliki dan menjadi miskin kembali. Lahir dalam keadaan telanjang, bodoh, miskin dan tidak bisa apa-apa. Matipun membuat kita miskin dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi di dunia. Adakah yang bisa dibanggakan manusia selama hidup di dunia? Ada! Tuhan satu-satunya yang harus dibanggakan, dipuji dan dimuliakan. Karena Ia adalah sumber segala sesuatu.
Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.
Mazmur 20:8

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Rom 11:36

1 Komentar:

sigid said...

"Mata kita berbicara, betapa sombong dan congkaknya diri kita. Mata kita mewakili hati kita yang sombong. Itu sebabnya sangat gampang untuk mengenali orang sombong.
Begitulah pak, begitu mudah mengenali orang yang sombong.
Namun begitu sulit mengenali kesombongan dalam diri sendiri.
Di "jaman informasi" seperti sekarang ini kadang mausia dengan mudah menemukan informasi dan mengetahui segala hal.
Kecuali mungkin diri sendiri, terlebih jika mata kita dibutakan oleh ego dan kebangganggan diri.
Kotbah yang mencerahkan pak.
Semoga tidak keberatan jika saya sering mampir ke sini :-)

sigid
(manusia.wordpress.com)

Post a Comment