Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Manusia dan Dosa. Show all posts
Showing posts with label Manusia dan Dosa. Show all posts

Thursday, July 31, 2008

Tolong! Saya sudah duduk!

Di televisi2 Indonesia beberapa minggu terakhir ini sibuk memberitakan tentang pembunuhan berantai. Kelihatannya porsinya lebih banyak dibandingkan berita penangkapan pejabat-pejabat yang korupsi dan anggota DPR oleh KPK. Semua berita-berita buruk ini sebenarnya tidak menarik untuk ditonton. Tapi, ada yang menarik dari wawancara terhadap keluarga dan tetangga dari sang pembunuh berantai di Jombang.

Mereka mengatakan bahwa dulunya si pembunuh itu baik dan bahkan mengajarkan agama, tapi kemudian sesudah bergaul dengan beberapa orang dan pergi ke kota, ia menjadi berubah. Banyak yang kaget kalau ia adalah pembunuh berantai dan sadis.
Alasan yang sama juga akan diberikan oleh saudara dan orang-orang dekat dari para koruptor dan orang-orang yang berdosa. Alasannya, pergaulan dan lingkungan yang buruk yang mempengaruhi semuanya. Benarkah lingkungan penyebab utamanya?

1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Mazmur 1:1-2


Perlahan tapi menghanyutkan
Sedikit orang yang menyadari seperti pemazmur, bagaimana dosa itu bekerja perlahan-lahan. Ada dosa-dosa yang berlangsung cepat, tapi umumnya dosa-dosa kita dibentuk dari awal dan terus bertumpuk tanpa disadari menjadi budaya dan kebiasaan. Sadarnya, ketika sudah terjebak dan terhanyut. Saat itu, baru merasakan tidak sanggup keluar dari arus yang terlalu kuat yang sudah menghanyutkan.

Pemazmur menggambarkan seperti orang yang pertama-tama orang itu baru berjalan menurut nasehat orang berdosa. Ini namanya proses mencoba dan ingin tahu. Enak ga sih? Sambil ada perasaan bersalah dan pertanyaan berdosa ga ya?

Setelah itu mulai berdiri di jalan orang berdosa. Kali ini mulai menunggu untuk mencoba lagi dan melakukannya. Ternyata enak. Sekali-kali kan tidak apa-apa. Semua orang juga melakukannya. Namanya juga manusia berdosa, masa harus menolak yang enak?

Sesudah itu, masuk dalam jebakan dan sudah duduk di dalm kumpulan orang berdosa. Sekarang menjadi aktif dan terikat, sama seperti orang-orang berdosa lainnya. Dosa sudah menjadi budaya, gaya hidup dan tidak ada pilihan lainnya. Tanpa berdosa, hidup serasa hampa!?
Mungkin deskripsinya seharusnya tidak sesadis ini. Tapi, ini yang terjadi pada orang yang sudah masuk dalam kumpulan orang berdosa, tidak ada jalan keluar dan tidak ada jalan untuk berbalik, hanya tinggal berdosa terus sampai mati!? Hanya beginikah hidup?

Apa kesukaanmu?
Problem awal dari dosa sebenarnya adalah masalah kesukaan, atau kenikmatan. Apa yang saudara sukai dan nikmati? Hawa suka buah pengetahuan yang baik dan jahat itu! Dia masih mengingat firman Tuhan, tapi sepertinya bisa menikmati buah itu dan menjadi seperti Allah lebih nikmat dibandingkan firman Tuhan dan segala berkat2-Nya yang sudah disediakan melimpah. Apa kesukaanmu?

Pemazmur mengatakan orang yang diberkati bukan mengikuti pola hidup dan kesukaan orang berdosa. Kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam. Jika pemazmur hidup di zaman ini yang penuh dengan hiburan palsu, apakah kesukaannya akan tetap lebih menyenangkankah dibandingkan segala komik, novel, buku2 bacaan yang lain, dugem, nonton di bioskop, nonton DVD, browsing, chatting, nonton bola dan berbagai macam olahraga lainnya, dan segala hobby dan kesukaan manusia..??? Tentu saja maksudnya bukan melakukan yang satu dan meniadakan yang lain. Tapi, bagaimana melihat bahwa kesukaan akan firman Tuhan menjadi dasar dari segala kesukaan/hobby. Bagaimana caranya agar bisa melihat kesukaan akan firman menjadi dasar dari semuanya?

Meditasi
Pemazmur mengatakan bahwa caranya adalah dengan merenungkannya (meditasi) siang dan malam. Ga ada kerjaan banget?! Tentu saja bukan itu maksudnya. Tapi, maksudnya firman Tuhan yang menjadi dasar di dalam melakukan segala aktivitasnya. Firman itu bukan hanya dibaca, didengar dan dilupakan ketika melakukan segala aktivitas. Karena terlalu banyak orang memulai hidupnya dengan membaca firman, tapi ketika melakukan segala aktivitasnya, persis sama dengan orang-orang berdosa.

Seharusnya prinsip-prinsip dari firman Tuhan yang menjadi dasar dalam segala aktivitasnya. Firman itu bukan hanya diingat, tapi dipikirkan prinsip-prinsipnya dan diperjuangkan dalam segala aspek untuk diterapkan dan dilakukan dalam hidup sehari demi sehari.

Masalahnya, ditengah segala kesibukan dan begitu banyak hiburan, masih bisakah kita menikmati, bersuka di dalam firman-Nya dan merenungkannya. Membuat hidup ini bukan hanya berjuang untuk diri biar bisa tetap hidup dengan terjebak di dalam segala keberdosaan, tapi hidup untuk melakukan kebenaran-kebenaran firman.

Jika saudara sudah duduk dalam keberdosaan dan merasa tidak ada jalan keluar lagi, maka saudaralah yang harus berteriak kepada Tuhan, "Tolong! Saya sudah duduk!" Maka IA-lah yang akan membuat saudara berdiri dan berjalan di dalam terang firman-Nya serta merenungkannya siang dan malam.

Your word is a lamp to my feet and a light to my path.
(Psalm 119:105, ESV)