Ayat Hari Ini:

Showing posts with label Mazmur. Show all posts
Showing posts with label Mazmur. Show all posts

Friday, April 22, 2011

Allahku, Allahku, Mengapa Aku meninggalkan Engkau?

Pertanyaan ini adalah pembalikan dari doa Daud dalam Mazmur 22:2 dan Tuhan Yesus dalam Matius 27:46. Pembalikan sengaja dilakukan untuk melihat dari sudut yang berbeda dan menghubungkannya dengan relasi Allah dan manusia.
Ketika mencoba mengingat kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib, yang sering menjadi pertanyaan adalah, "Kalau saya menjadi salah satu murid Kristus, hadirkah saya di bawah kayu salib atau larikah saya meninggalkan-Nya?" Jawaban terbaik yang saya bisa terpikirkan, "Kemungkinan besar akan lari meninggalkan Tuhan Yesus kalau tidak ada anugerah yang menahanku!"
Mengapa manusia sering lari dari Allah-nya tapi lebih banyak menuduh Allah-nya meninggalkan dirinya?


7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? 8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. 9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, 10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. 11 Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," 12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
Mazmur 139:7-12

Siapa meninggalkan Siapa?
Ada dua pertanyaan yang perlu dipikirkan untuk mengerti relasi Allah dan umat-Nya:
1) Jika Allah adalah Maha Hadir, mungkinkah Ia akan meninggalkan umat-Nya, karena kesalahan dan keberdosaan manusia yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus?
2) Jika Allah adalah Maha Hadir, mungkinkah umat-Nya meninggalkan-Nya sehingga Allah akan kehilangan umat-Nya?
Sepertinya, jawaban dari kedua pertanyaan ini adalah sama, tidak mungkin!

Jika Allah tidak mungkin meninggalkan umat-Nya yang sudah ditebus dan umat-Nya tidak bisa meninggalkan Allah-nya, mengapa seringkali manusia merasakan Allah meninggalkan dirinya dan juga seringkali merasa meninggalkan Allah-nya?
Untuk pertanyaan yang pertama, sumbernya adalah perasaan yang dibentuk dari pengenalan yang salah akan Allah. Sementara untuk kasus kita meninggalkan Allah, memang berdasarkan kenyataan hidup kita yang berdosa, yang sering lari menjauhkan diri dari-Nya.

Ditinggalkan tapi tidak akan pernah meninggalkan
Yesus Kristus pernah ditinggalkan oleh Allah Bapa, ketika murka Allah harus dibalaskan untuk menghukum keberdosaan umat-Nya. Hanya sekali pernah terjadi, Allah Bapa harus meninggalkan Allah Anak.

Karena penghukuman atas semua dosa umat-Nya sudah dibereskan di atas kayu salib, maka Bapa tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Begitu juga dengan Tuhan Yesus, Ia sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Buktinya adalah dengan pemberian Roh Kudus yang sudah memeteraikan umat-Nya, yang menjadi jaminan atas keselamatan kekal dan penyertaan Allah selama-lamanya.
Doa Tuhan Yesus, "Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?" tidak akan pernah lagi dipakai oleh umat-Nya. Pengalaman Tuhan Yesus di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia tidak akan terulang lagi dan diikuti oleh umat-Nya. Umat-nya bisa dianiaya, menderita dan mati di salib, tapi tidak untuk ditinggalkan Allah karena penebusan dosa.

Daud dalam Mazmur 139:8-12 membicarakan tentang penyertaan Allah sampai dalam kematian sekalipun. Jikalau yang paling menakutkan bagi manusia, yaitu kematian, sudah ada jaminan penyertaan Allah, apalagi dengan kehidupan (meskipun ada musibah, masalah, sakit, dll) yang seharusnya bisa dipakai oleh Allah untuk kemuliaan-Nya. Tangan Tuhan akan menuntun umat-Nya, dan tangan kanan-Nya memegang kita.

Mengapa Aku meninggalkan Engkau?
Mengapa kita sering dan suka lari dan menghindar dari Allah? Mengapa Aku meninggalkan Allah?
Alasan utama adalah DOSA. Sekalipun sudah ditebus, umat Allah adalah manusia berdosa yang belum sempurna dalam pikiran, perasaan dan perbuatannya. Dosa membuat kita takut, malu dan ingin menghindar dari Allah. Sayang sekali umat Allah sering tidak mengerti atau lupa, bahwa kita tidak bisa lari dan bersembunyi dari Allah. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Maz 139:7)

Sejak manusia berdosa dan bersembunyi karena takut, Allah justru datang mencari umat-Nya. Ketika berdosa, seharusnya umat Allah bukan lari, bersembunyi dan merasa meninggalkan Allah, tapi umat Allah justru datang kepada Allah untuk mengakui, meminta ampun dan mengalami anugerah penebusan dosa yang diberikan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib terjadi dalam hidupnya.
Daripada menyusahkan diri dengan pelarian, perasaan bersalah, malu dan takut, mengapa tidak membawa segala beban yang tidak perlu kepada Kristus yang sanggup dan sudah menanggung beban itu?!

Jika kita bisa hidup dalam terang dalam Kristus yang membahagiakan, mengapa tetap mempertahankan hidup dalam kegelapan yang menyusahkan?
11 Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," 12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. (Maz 139:11-12).
Ada anugerah yang sudah disediakan untuk umat-Nya, anugerah yang seharusnya bisa dinikmati dalam sukacita yang sejati.

Kematian Tuhan Yesus memberikan jaminan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya dan memberikan pengharapan bahwa umat-Nya tidak perlu dan tidak akan meninggalkan Allah, sebaliknya bisa menikmati terang dalam Kristus. Soli Deo Gloria.

Thursday, July 31, 2008

Tolong! Saya sudah duduk!

Di televisi2 Indonesia beberapa minggu terakhir ini sibuk memberitakan tentang pembunuhan berantai. Kelihatannya porsinya lebih banyak dibandingkan berita penangkapan pejabat-pejabat yang korupsi dan anggota DPR oleh KPK. Semua berita-berita buruk ini sebenarnya tidak menarik untuk ditonton. Tapi, ada yang menarik dari wawancara terhadap keluarga dan tetangga dari sang pembunuh berantai di Jombang.

Mereka mengatakan bahwa dulunya si pembunuh itu baik dan bahkan mengajarkan agama, tapi kemudian sesudah bergaul dengan beberapa orang dan pergi ke kota, ia menjadi berubah. Banyak yang kaget kalau ia adalah pembunuh berantai dan sadis.
Alasan yang sama juga akan diberikan oleh saudara dan orang-orang dekat dari para koruptor dan orang-orang yang berdosa. Alasannya, pergaulan dan lingkungan yang buruk yang mempengaruhi semuanya. Benarkah lingkungan penyebab utamanya?

1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Mazmur 1:1-2


Perlahan tapi menghanyutkan
Sedikit orang yang menyadari seperti pemazmur, bagaimana dosa itu bekerja perlahan-lahan. Ada dosa-dosa yang berlangsung cepat, tapi umumnya dosa-dosa kita dibentuk dari awal dan terus bertumpuk tanpa disadari menjadi budaya dan kebiasaan. Sadarnya, ketika sudah terjebak dan terhanyut. Saat itu, baru merasakan tidak sanggup keluar dari arus yang terlalu kuat yang sudah menghanyutkan.

Pemazmur menggambarkan seperti orang yang pertama-tama orang itu baru berjalan menurut nasehat orang berdosa. Ini namanya proses mencoba dan ingin tahu. Enak ga sih? Sambil ada perasaan bersalah dan pertanyaan berdosa ga ya?

Setelah itu mulai berdiri di jalan orang berdosa. Kali ini mulai menunggu untuk mencoba lagi dan melakukannya. Ternyata enak. Sekali-kali kan tidak apa-apa. Semua orang juga melakukannya. Namanya juga manusia berdosa, masa harus menolak yang enak?

Sesudah itu, masuk dalam jebakan dan sudah duduk di dalm kumpulan orang berdosa. Sekarang menjadi aktif dan terikat, sama seperti orang-orang berdosa lainnya. Dosa sudah menjadi budaya, gaya hidup dan tidak ada pilihan lainnya. Tanpa berdosa, hidup serasa hampa!?
Mungkin deskripsinya seharusnya tidak sesadis ini. Tapi, ini yang terjadi pada orang yang sudah masuk dalam kumpulan orang berdosa, tidak ada jalan keluar dan tidak ada jalan untuk berbalik, hanya tinggal berdosa terus sampai mati!? Hanya beginikah hidup?

Apa kesukaanmu?
Problem awal dari dosa sebenarnya adalah masalah kesukaan, atau kenikmatan. Apa yang saudara sukai dan nikmati? Hawa suka buah pengetahuan yang baik dan jahat itu! Dia masih mengingat firman Tuhan, tapi sepertinya bisa menikmati buah itu dan menjadi seperti Allah lebih nikmat dibandingkan firman Tuhan dan segala berkat2-Nya yang sudah disediakan melimpah. Apa kesukaanmu?

Pemazmur mengatakan orang yang diberkati bukan mengikuti pola hidup dan kesukaan orang berdosa. Kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam. Jika pemazmur hidup di zaman ini yang penuh dengan hiburan palsu, apakah kesukaannya akan tetap lebih menyenangkankah dibandingkan segala komik, novel, buku2 bacaan yang lain, dugem, nonton di bioskop, nonton DVD, browsing, chatting, nonton bola dan berbagai macam olahraga lainnya, dan segala hobby dan kesukaan manusia..??? Tentu saja maksudnya bukan melakukan yang satu dan meniadakan yang lain. Tapi, bagaimana melihat bahwa kesukaan akan firman Tuhan menjadi dasar dari segala kesukaan/hobby. Bagaimana caranya agar bisa melihat kesukaan akan firman menjadi dasar dari semuanya?

Meditasi
Pemazmur mengatakan bahwa caranya adalah dengan merenungkannya (meditasi) siang dan malam. Ga ada kerjaan banget?! Tentu saja bukan itu maksudnya. Tapi, maksudnya firman Tuhan yang menjadi dasar di dalam melakukan segala aktivitasnya. Firman itu bukan hanya dibaca, didengar dan dilupakan ketika melakukan segala aktivitas. Karena terlalu banyak orang memulai hidupnya dengan membaca firman, tapi ketika melakukan segala aktivitasnya, persis sama dengan orang-orang berdosa.

Seharusnya prinsip-prinsip dari firman Tuhan yang menjadi dasar dalam segala aktivitasnya. Firman itu bukan hanya diingat, tapi dipikirkan prinsip-prinsipnya dan diperjuangkan dalam segala aspek untuk diterapkan dan dilakukan dalam hidup sehari demi sehari.

Masalahnya, ditengah segala kesibukan dan begitu banyak hiburan, masih bisakah kita menikmati, bersuka di dalam firman-Nya dan merenungkannya. Membuat hidup ini bukan hanya berjuang untuk diri biar bisa tetap hidup dengan terjebak di dalam segala keberdosaan, tapi hidup untuk melakukan kebenaran-kebenaran firman.

Jika saudara sudah duduk dalam keberdosaan dan merasa tidak ada jalan keluar lagi, maka saudaralah yang harus berteriak kepada Tuhan, "Tolong! Saya sudah duduk!" Maka IA-lah yang akan membuat saudara berdiri dan berjalan di dalam terang firman-Nya serta merenungkannya siang dan malam.

Your word is a lamp to my feet and a light to my path.
(Psalm 119:105, ESV)

Saturday, July 19, 2008

I Miss YOU: Mana Tahan!?


Kerinduan bisa membuat seseorang membunuh orang lain dan juga membuat seseorang bunuh diri. Kerinduan bisa menggerogoti jiwa. Tapi kerinduan juga bisa menjadi motivasi yang besar untuk bertahan di dalam hidup demi untuk bisa bertemu dengan orang yang dirindukannya.
Jika kerinduan kepada manusia bisa mengakibatkan pengaruh yang sangat besar dalam hidup manusia, bagaimanakah dengan kerinduan kepada Allah?

2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 3 Jiwaku haus kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Mazmur 42:2-3

Tidak bisa Tidak, Mana Tahan!?
Pemazmur menggambarkan kerinduannya kepada Allah seperti Rusa yang membutuhkan air minum. Tidak bisa tidak, kerinduan ini sudah menjadi kebutuhan yang utama. Kebutuhan yang bisa mematikan jika tidak bisa dipenuhi. Karena tanpa air, rusa akan mati. Mana tahan!?
Seperti rusa merindukan sungai yang berair, maka seharusnya dan sewajarnya juga manusia merindukan Penciptanya. Kerinduan ini harus terpuaskan dan bukan hanya sekedar bertemu. Sama seperti rusa yang bukan hanya bertemu dengan air dan puas melihat aliran sungai itu. Manusiapun merindukan Tuhan bukan hanya untuk bertemu dan selesai. Tapi, ada suatu kerinduan untuk memuliakan-Nya dan bahkan menikmati-Nya; yang membuat manusia bisa terpuaskan dahaganya.

Sayangnya kerinduan utama yang seharusnya ditujukan kepada Pencipta, sekarang digantikan oleh kerinduan kepada manusia dan benda-benda mati. Seolah-olah ketika tidak bisa bertemu dengan mereka, hidup ini terasa ada yang kurang dan keterpisahan tidak boleh pernah terjadi, karena akan mengakibatkan kerinduan yang sangat dalam.
Bukannya tidak boleh merindukan manusia dan benda, tapi seharusnya kerinduan itu tidak lebih besar dibandingkan dengan kerinduan kepada sumber dari manusia dan benda itu.

Tahukah kita bahwa kerinduan yang utama seharusnya kepada Allah yang merupakan sumber segala sesuatu, bahkan sumber dari orang2 dan benda2 yang kita kasihi? Punyakah kita kerinduan yang lebih besar lagi kepada-Nya? Hauskah kita untuk memuliakan dan menikmati-Nya? Bukankah hal itu adalah kebutuhan utama kita sebagai manusia?

I Miss YOU
Ada tiga hal untuk memuaskan kerinduan itu. Pertama, menunggu Allah datang. Kedua, pergi melihat Allah. Ketiga, sambil menunggu dan ingin pergi melihat, tetap hidup bagi-Nya.

Menunggu Tuhan Yesus datang kembali sudah dilakukan sejak gereja mula-mula. Keinginan untuk segera bertemu dengan sang Pencipta, Penebus, Pemelihara dan Penyempurna, membuat mereka terus menunggu. Tapi, sampai saat ini Tuhan Yesus belum datang kembali. Sebagai umat-Nya kita hanya bisa terus menunggu dan terus bersiap, karena kerinduan ini sudah terlalu besar untuk bertemu muka dengan muka.

Jika Tuhan belum datang kembali, maka kita yang akan terlebih dahulu pergi melihat-Nya. Ini bukan acara besuk, atau sekedar liburan dan jalan-jalan seperti cerita dari beberapa orang yang ingin populer karena mengatakan sudah pergi bertemu Tuhan. Tapi, ini menyangkut kerinduan untuk segera meninggalkan dunia ini, bukan karena kesulitan dan penderitaan yang ada. Kerinduan ini karena ingin bertemu dengan Allah kita dan ingin diam bersama-sama dengan-Nya. Jika kita betul-betul merindukan-Nya mungkinkah kita tidak ingin meninggalkan segala sesuatu di dunia ini dan bertemu dengan-Nya???
(Ada banyak orang mengatakan mencintai Tuhan, tapi tidak mau segera bertemu dengan-Nya (mati). Betulkah orang-orang itu mencintai Tuhan, tapi tidak merindukan-Nya? Jangan2 hanya berkat2-Nya didunia yang dirindukan mereka?)

Jika Tuhan belum datang kembali dan kitapun belum bisa kembali kepada-Nya, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Apakah cukup kita hanya terus merindukan-Nya tanpa melakukan apa2?
Tentu saja tidak. Jika kita betul-betul mencintai dan merindukan-Nya, maka hiduplah bagi Dia. Tuhan Yesus yang menjadi pusat, motivasi dan kerinduan yang besar untuk melakukan segala sesuatu. Apapun yang kita lakukan sekarang, lihatlah sebagai persiapan untuk bertemu dengan-Nya. Karena gereja sebagai pengantin wanita yang harus kudus dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan sang mempelai pria, demikianlah kita mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan-Nya.
Jadi, kerinduan itu seharusnya menghasilkan banyak hal yang baik dan positif selama kita masih hidup di dunia untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya.

Wednesday, June 18, 2008

Mengapa Merayakan?

Mengapa kita suka merayakan hari-hari yang menurut kita penting dalam hidup ini? Dan semua hari penting itu hanyalah hari-hari yang berpusat pada kita sendiri? Seperti ulang tahun, wisuda, pernikahan, dan berbagai macam hari lainnya... Apa yang sedang kita rayakan? Ucapan syukur dan kebahagiaan seperti apa yang kita rasakan?

Agak berbeda dengan zaman dulu yang mungkin tidak pernah merayakan ulang tahun pribadi. Kecuali ulang tahun perayaan-perayaan yang sudah ditetapkan, itulah yang harus diingat dan dirayakan. Itu sebabnya ada aliran2 kepercayaan yang tidak pernah merayakan ulang tahun.
Mengapa ulang tahun pribadi sekarang dirayakan? Untuk apa?

10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. 11 Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu? 12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 90:10-12

Kesukaran dan Penderitaan
Ulang tahun pertama kali dirayakan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Motivasinya tidak jelas, tapi kemungkinan besar berhubungan dengan kebanggaan diri dan kepuasan hidup dan juga untuk merayakan ilah mereka yang akan memberikan banyak hal yang mereka inginkan dalam hidup ini.
Diadopsi oleh kekristenan di zaman Romawi untuk mengingat kedatangan Yesus Kristus sebagai manusia untuk membuktikan bahwa Ia juga manusia sejati. Dan kemudian dipakai juga untuk mengingat dan mengucap syukur untuk tahun-tahun yang sudah Tuhan berikan. Dan kemudian dikomersialisasi.

Masalahnya, hari-hari kita adalah hari-hari yang penuh kesukaran dan penderitaan. Apa yang harus kita rayakan? Bersyukur karena Tuhan yang memberikannya? Bukankah semua penderitaan itu terjadi biasanya karena keberdosaan dan kebodohan kita? Haruskah kita merayakannya? Bukankah kita harus menyesalinya?

Atau karena kita ditipu dengan pengharapan palsu bahwa hari, apalagi tahun yang baru pastilah akan menjadi lebih baik dan bahagia. Happy Birthday! Apanya yang membuat happy? Padahal keadaan hidup di dunia tidak lebih baik, dan jangan-jangan kita makin berdosa dengan pertambahan umur. Itukah yang akan kita rayakan dan membuat bahagia?

Menghitung Tahun
Apa yang harus dihitung dari hari-hari dan tahun-tahun hidup kita? Pertambahannya yang terjadi tanpa henti? Tentu saja akan membuat kita sedikit bijaksana, karena kita akan sadar bahwa hari dan tahun ini tidak akan kembali. Membuat orang bijaksana akan memakai waktunya dengna bijaksana.
Tapi, kenapa ada orang2 yang sudah tahu waktunya akan berlalu tetap saja tidak bijaksana? Mungkin salah hitung! Kita terbiasa berasumsi bahwa umur kita akan panjang, dan itu yang jadi harapan bagi orang-orang yang berulang tahun. Selamat Panjang Umur. Apa maksudnya panjang umur dan apa gunanya? Bukankah panjang umur itu relatif? Ada yang merasa satu tahun itu panjang sekali dan bisa berbuat banyak hal, ada yang tidak berbuat apa-apa selama puluhan tahun, kecuali berdosa dan hidup bagi diri sendiri. Jadi, apa gunanya panjang umur? Apakah menjamin hidup akan lebih berdampak? Jangan2 lebih berdosa! Apa yang harus dirayakan dengan perhitungan seperti itu?

Cara menghitung yang lain adalah menghitung pekerjaan Tuhan dalam hidup ini di masa yang lalu dan berharap bisa lebih memuliakan Tuhan di masa yang akan datang. Perhitungan ini melihat keberdosaan diri yg tidak bisa dirayakan, tetapi merayakan kehadiran dan pekerjaan Tuhan yang terlalu baik dalam hidup ini.
Adakah kita merayakan Dia dalam hidup kita?

Merayakan Kehadiran Tuhan
Jika ingin merayakan dan menghitung tahun-tahun hidup kita, maka rayakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita yang seharusnya tidak bahagia, bodoh, hanya membawa kesulitan, tapi semuanya diubahkan oleh Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bukan hanya merayakan berkat-berkat-Nya yang terus melimpah di dalam hidup ini. Tetapi kita merayakan pengenalan akan Tuhan, penyertaan-Nya dan pengharapan dibalik tahun-tahun yang akan diberikan kepada kita.

Rayakanlah akan kesempatan yang masih diberikan hari ini untuk memuliakan-Nya dan masih bisa mendapatkan anugerah untuk mengambil bagian di dalam pekerjaan dan rencana-Nya yang agung dan mulia.

Semoga semakin banyak kesempatan dan waktu yang masih diberikan akan membuat kita makin bijaksana melihat jalan-jalan-Nya dan masih diberi anugerah untuk ikut berbagian dalam rencana-Nya.

Thursday, May 8, 2008

BBM Naik (Lagi)

Agak bingung juga dengan pemerintah Indonesia. Senang sekali membuat masalah sendiri. Sudah tahu kalau setiap issue kenaikan BBM pasti akan didahului dengan kenaikan berbagai macam hal, tapi tetap saja dibuat issue dulu. Sudah diberitahu kepada publik bahwa kenaikan tidak akan lebih dari 30% (Bagaimana kalau harga minyak dunia, bukan hanya melampaui US$ 120/barrel, tapi sampai US$ 150?, bahkan ada yang sempat memprediksi akan menjadi US$ 200 pada akhir tahun ini). Dan ternyata mengulangi sejarah sebelum2nya, akibat dari issue itu kenaikan harga beberapa barang langsung terjadi dan tentu saja meresahkan masyarakat.

Banyak orang mulai memberi tanggapan dan bertanya. Kenapa pemerintah jadi diperintah sama minyak? Tidak bisakah manusia mencari jalan keluar lain selain bergantung kepada tukang-tukang minyak? Bukankah Indonesia juga anggota OPEC (meskipun sdh bukan pengekspor lagi), tidak bisakah mengontrol para tukang minyak? Lebih banyak lagi pertanyaan dari orang2 yang tidak terlalu mengerti politik dan ekonomi..

Apa yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia?

Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.
Mazmur 22:12

Berharap kepada pemerintah, pasti tidak ada gunanya. Berharap kepada dunia ini akan berubah menjadi lebih baik lagi, lebih tidak berguna lagi. Karena krisis sedang melanda seluruh dunia. Sebenarnya kalau krisis ini terjadi di negara-negara yang tidak mempunyai sumber daya alam yang cukup, maka itu wajar-wajar saja. Tapi, kalau krisis itu terjadi di negara seperti Indonesia yang sangat subur, berlimpah dengan kekayaan alamnya, serta salah satu negara penghasil minyak, maka pasti ada yang salah.

Untuk menguraikan kesalahan satu persatu sama seperti mencoba memperbaiki benang kusut. Semua elemen masyarakat sudah ikut berbagian dalam kehancuran dan krisis bangsa ini. Ketika kepentingan pribadi, suku, golongan, partai, dan agama yang didahulukan maka kita hanya bisa menanggung akibatnya. Tidak ada yang bisa menolong bangsa ini lagi. Kesusahan demi kesusahan harus ditanggung bangsa ini ditengah kelimpahan dan begitu banyaknya berkat Allah.

Yang bisa menolong adalah Allah sendiri. Teriakan pemazmur, "Janganlah jauh dari padaku" adalah teriakan yang bisa menjadi doa kita. Bukan meminta semua kesulitan menjauh dari bangsa ini, tetapi meminta sang Pencipta menyertai bangsa ini menghadapi semua kesulitan yang harus dihadapi. Karena kesulitan-kesulitan yang terjadi akibat kesalahan kita sendiri harus kita hadapi. Kita tidak bisa hanya menginginkan segala yang baik dan enak terjadi dalam kehidupan ini.

Tidak ada yang tidak bersalah di dalam bangsa Indonesia. Semua sedang ikut bersama-sama menjerumuskan bangsa ini. Entah itu secara aktif maupun secara pasif. Entah itu dengan banyak bicara dan tanpa perbuatan ataupun dengan tidak bicara karena tidak peduli. Terlalu banyak orang yang hanya mementingkan kepentingan ekonomi pribadi dan keluarganya. Ketika mengalami saat2 yang baik, tidak memikirkan kepentingan bangsa, bahkan hanya terus memikirkan keinginan2 dan kebutuhannya sendiri yang belum terpenuhi. Dan ketika kekurangan, baru mulai berteriak dan protes.

Sebenarnya agak aneh kalau kenaikan BBM diprotes. Mengapa? Karena itu bukan kenaikan, tapi pengurangan subsidi. Anugerah yang sudah terlalu banyak, ketika dikurangi harusnya tidak membuat marah. Tapi terlalu banyak yang tidak mengerti dan merasa bahwa mereka sudah selayaknya mendapatkan semua anugerah yang bernama subsidi itu. Sebenarnya penyebab dari pengurangan subsidi adalah pemakaian BBM yang berlebihan pada masa-masa subsidi berkelimpahan. Banyak yang dulu sudah menikmati BBM dengan harga murah tidak merasa berdosa malahan marah dengan mahalnya harga BBM yang akan datang. Upss...... Yang salah siapa? Salah kita sendiri yang dari dulu memakai BBM dengan tidak bijaksana. Kita hanya menuai kesalahan kita sendiri. Seharusnya keadaan sekarang ini membuat kita sadar dan menyesali kesalahan2 masa lalu sambil mencari jalan keluar dan alternatif buat masa yang akan datang. Bukannya protes dan marah!

Semakin bingung lagi melihat banyak orang yang bukannya bekerja lebih keras lagi karena kesulitan yang dialami dan mencoba mencari usaha sampingan, malahan demonstrasi menolak kenaikan BBM, menuntut upah lebih tinggi lagi, tapi tidak memberikan sumbangsih apapun bagi bangsa ini. Boro-boro memberikan jalan keluar, yang dipikirkan hanya kebutuhan dan kepentingan diri sendiri.

Alternatif penghematan sudah didengungkan sejak dulu. Tapi apa daya. Hidup dalam negara yang bekelimpahan sumber daya alam dan subsidi berlebihan membuat kita selalu merasa sebagai orang kaya yang bisa menghamburkan semuanya. Akibatnya, di saat harus mengencangkan ikat pinggang dan berhemat, kita tidak terbiasa melakukannya. Bukankah sebagian besar penduduk bangsa Indonesia sudah terbiasa puasa selama satu bulan? Apa susahnya kalau harus mengencangkan ikat pinggang? Bukankah sudah terlatih?

Kita perlu meminta kepada Tuhan untuk menyertai kita. Bukan hanya demi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi agar bisa hidup dengan anugerah dan kekuatan dari-Nya untuk berjuang menghadapi kesulitan hidup ini dengan kerja keras. Di tengah negara Indonesia yang subur ini, masih banyak hal yang bisa dikembangkan. Tapi butuh kerja keras. Hanya orang-orang yang mau bekerja keras dan tidak hanya mencari jalan yang gampang yang bisa melewati kesusahan demi kesusahan. Bahkan bisa membantu yang lain, memberikan jalan keluar bagi orang-orang disekitarnya. Seharusnya, saat ini Indonesia ikut membantu Myanmar yang sedang mengalami kesulitan luar biasa saat ini. Kesulitan di Indonesia tidak sebanding dengan apa yang dihadapi oleh sesama negara Asean ini. Ketika Gempa dan Tsunami di Aceh, banyak negara yang membantu Indonesia. Ketika negara tetangga kita mengalami kesulitan, adakah kita mengingat dan membantu mereka!? Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau membantu bangsa lain yang lebih menderita, meskipun ditengah kekurangan.
Orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan hanya ingin mendapatkan kebutuhan hidupnya dengan sangat gampang adalah orang-orang yang akan membawa kesulitan lebih besar lagi dalam hidupnya.

Mari kita meminta Tuhan untuk tidak segera melepaskan bangsa ini dari kesusahan demi kesusahan. Melainkan meminta Tuhan menyertai bangsa ini dalam menanggung kesusahan yang harus dihadapi yang bisa membuat bangsa ini belajar banyak hal dan bahkan bisa bangkit dari kesulitan2 yang ada dan membantu bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Monday, April 7, 2008

Backpacker (2): BNE-SYD

Brisbane, April 2, 2008.
Habis jemput anak2 kakak di sekolahan mereka, saya diantar mereka ke City. Tepatnya di Brisbane Transit Centre, Coach Terminal, Roma St. Perpisahan, masih sempat menjelaskan bedanya good bye dan see you kepada 2 keponakan, sesudah itu seperti biasa peluk2an, berharap akan ketemu lagi dan perjalanan harus segera dimulai. Waktu cek handphone, Simpatiku habis pulsa. Jadi kalau ada apa2 ga bisa nelpon. Uang ada beberapa ribu dollar Australia, terlalu banyak untuk dibawa traveling. Tapi, tidak ada pilihan harus dibawa.
Busnya berangkat jam 16:30 (Brisbane tidak berlaku Daylight Saving), sementara saya sudah ada di situ jam 3-an. Jalan2 dulu lihat situasi sambil cari counter greyhound. Ketemu counternya, ada di Level 3. Di dekatnya ada internet kiosk yang bisa bayar pake coin $1-$2. Kalau tidak salah, $2 cuma 10 atau 20 menit. Mahal banget dibandingkan warnet di Indonesia, 4 ribu/jam (50 cents/hour).
Lumayan banyak kota-kota yang akan dilewati dan akan berhenti. Saya tertarik untuk melihat Gold Coast saat Sunset (pernah dua kali ke Gold Coast waktu pagi dan siang, sekarang ada kesempatan lihat sunset), terus pengen lihat Byron Bay, Coffs Harbour dan Newcastle.

Queensland
Berangkat dari Brisbane on time. Dalam bus ada pengatur suhu, dan biasanya dijaga antara 22-25 derajat Celcius. Jadinya tidak terlalu dingin dan terlalu panas juga. Sangat cocok buat orang Indonesia. Busnya biasa saja, mungkin beberapa bus executive baru antar provinsi di Jawa lebih bagus:) Kapasitas penumpangnya 52 orang, tapi hanya keisi 29 orang. Asyik, jadinya bisa duduk sendirian dan punya dua kursi utk tempat tidur.
Pemberhentian pertama adalah Southport di Gold Coast. Karena jam pulang kerja, maka Gold Coast agak tersendat khususnya di dekat lampu lalu lintas. Bagus dong, jadi banyak kesempatan melihat-lihat pemandangan di waktu senja. Sesudah itu berhenti lagi di Surfers Paradise.
Perjalanan di sepanjang pantai berlanjut sampai ke Coolangatta. Semua kota-kota ini mengandalkan keindahan pantainya, sekaligus tempat untuk surfing. Sayang sekali impian untuk bisa melihat sunset di Gold Coast tidak terkabul. Gold Coast adalah tempat untuk main2, tapi tetap lebih mengasyikkan menikmati gratis semua ciptaan Tuhan dibandingkan dengan membayar dan masuk ke tempat2 bermain buatan manusia. Dari Coolangatta melewati Twee Heads, tidak ada kenangan2 yang tertinggal dalam otak saya, kecuali nama kotanya.

New South Wales
Tiba di Byron Bay jam 8-an. Lebih rame dibandingkan kota-kota yang lain. Banyak turis dan banyak orang baru pulang dari pesta pantai (dugaan saya) karena hampir semuanya jalan ga pake sepatu, remaja2 Austalia lagi menikmati hidup. Pemberhentian selanjutnya di Ballina, setengah jam lebih untuk makan. Sudah jam 10 malam, tapi hampir semua penumpang tetap makan, beberapa memilih tidur. Sesudah makan dan karena pemandangan jadi membosankan, banyak yang tidur.
Ketika melewati Freeway (istilah di Queensland: Motorway), dengan pemandangan semak-semak, maka otomatis mata saya melihat ke langit. Sepertinya semua rasi bintang kelihatan. Mencoba mengingat semua rasi bintang yang dipelajari, tapi yang teringat justru ayat Alkitab:)

Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang2 yang Kau tempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
Mazmur 8:4-5

Jadi merenung dan memikirkan keagungan dan keajaiban Tuhan, sambil memikirkan kehinaan manusia yang tidak ada apa-apanya di dalam alam semesta ini, tapi seringkali terlalu sombong dengan semua anugerah Tuhan. Perjalanan ini membuat saya merenungkan segala anugerah Tuhan dan kesombongan pribadi. Lumayan juga untuk retreat pribadi. Hampir semua penumpang bus sudah ketiduran. This is my quiet time. Sesudah itu karena capek ikut ketiduran. Sayang sekali, kelewatan tiga kota: Grafton South, Woolgoolga dan Coffs Harbour. Bangunnya di Urunga karena berhenti agak lama, melanjutkan perenungan lagi sampai tertidur lagi. Bangun lagi di Taree, jam 4-an. Lama berhenti karena bus isi bahan bakarnya. Yang bisa diingat selanjutnya hanya dua kota: Karuah dan Newcastle. Busnya masuk dan berputar di dalam city dan berhenti di bus terminal. Bangunan dan pantai di Newcastle bagus juga. Lumayan, bangun pagi-pagi sudah melihat pemandangan indah dan menarik. Selanjutnya berusaha untuk membuka mata terus untuk melihat pemandangan di perjalanan sampai ke Sydney dengan ucapan syukur.
Puas banget, sekalipun harus membayar $129. Karena bukan hanya bisa melihat pemandangan yang baru dan berbeda, tapi juga ada pengalaman bergantung kepada Tuhan di dalam ketidakberdayaan dan menyadari kekurangan dan keterbatasan diri serta keagungan dari Tuhan yang mencipta segala sesuatu dan terus memelihara keindahan ciptaanNya sampai saat ini, sekalipun manusia sudah berdosa. Thank You LORD.


Lihat juga:
Backpacker: BNE-SYD-MEL (1)

Sunday, April 6, 2008

Memuliakan dan Menikmati Allah melalui ciptaanNya

Dari pertengahan Maret 2008 sampai awal April 2008, sekali lagi dapat kesempatan untuk pelayanan ke Australia, sekaligus jalan2. Ada banyak pengalaman baru dan insights yang menarik yang dialami, tapi tentu saja tidak bisa dibagikan semuanya di sini.

5(65-6) Dengan perbuatan-perbuatan yang dahsyat dan dengan keadilan Engkau menjawab kami, ya Allah yang menyelamatkan kami, Engkau, yang menjadi kepercayaan segala ujung bumi dan pulau-pulau yang jauh-jauh; 6 (65-7) Engkau, yang menegakkan gunung-gunung dengan kekuatan-Mu, sedang pinggang-Mu berikatkan keperkasaan;
Mazmur 65:6-7

Daud ketika berbicara tentang perbuatan-perbuatan Allah yang dahsyat, salah satunya dihubungkan dengan penciptaan gunung2 dan tempat2 yang tinggi. Ketika melihat gunung2 dan tempat yang tinggi, ia mengingat kedahsyatan dan kekuatan Allah. Yang menjadi pertanyaan buat saya, apa/siapa yang saya pikirkan ketika melihat gunung2/tempat2 yang tinggi dan segala keindahannya?

Lagi di Mt. Cootha, Brisbane, April 2008

Bagi banyak orang, melihat gunung hanya menikmati keindahannya dan sebagian lagi memiliki keinginan untuk menaklukannya. Bahkan ada yang menyembah kekuatan (yang dianggap dimiliki oleh gunung itu) ataupun menyembah keindahan yang ditawarkan dari gunung itu. Mengapa manusia tidak memuliakan, menyembah dan menikmati sang Pencipta yang mencipta dan terus memelihara semuanya?

Selama tiga minggu di Australia, ada beberapa kesempatan melihat dan berada di gunung2/tempat2 yang tinggi. Dimulai dengan kesempatan berada di Mt. Dandenong yang bisa melihat Melbourne CBD and Suburbs. Kemudian ke Arthurs Seat di Mornington Peninsula yang jaraknya 75 km dari Melbourne dan bisa melihat keindahan laut di Mornington Peninsula, Port Philip Bay dan Melbourne CBD.
Selanjutnya di Brisbane, bisa berada di Mt. Gravath dan Mt. Cootha, yang keduanya bisa melihat Brisbane CBD and Suburbs.
Terakhir di Rose Bay Convent dan The Gap, Sydney. Tidak terlalu tinggi, tapi perasaan yang sama dengan berada di tempat2 tinggi lain, yang memberikan keindahan alam.

Perasaan yang ada selalu menimbulkan pertanyaan. Buat apa semua kesempatan melihat keindahan ciptaan Tuhan? Hanya untuk dinikmati, membuat foto dengan background pemandangan yang indah dan menyatakan kepada dunia, bahwa saya sudah pernah ke situ? Ataukah ada hal yang lebih berharga yang sudah Tuhan sediakan untuk memuliakan dan menikmatiNya!?
Saya percaya, dengan melihat semuanya, orang percaya seharusnya melihat perbuatan2 Allah yang dahsyat, serta memuliakan dan menikmatiNya yang lebih indah dari semua ciptaanNya.

Selain itu, saat menikmati keindahan ciptaan Tuhan mengingatkan saya kepada our eternal home, yang tentunya lebih indah, lebih baik dan sempurna. Jadi merindukan kekekalan...

For the beauty of the earth
For the glory of the skies,
For the love which from our birth
Over and around us lies.

Lord of all, to Thee we raise,
This our hymn of grateful praise.

Fol­li­ot Pier­point

Friday, March 28, 2008

HAPPIER

Dari tanggal 21 Maret-23 Maret 2008, dapat kesempatan menjadi salah satu pembicara di ICC Easter Camp di Ballarat, dekat Melbourne, VIC. Temanya, HAPPIER. Membahas Teologi Kenikmatan dalam 6 session. Baru kali ini dalam satu camp bisa membahas keseluruhan teologi Kenikmatan dalam tiga hari. Biasanya hanya mendapatkan satu atau dua session untuk membahas Teologi Kenikmatan.

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
Mazmur 16:11

Saya setuju dengan pemazmur bahwa dihadapan Tuhan ada sukacita berlimpah-limpah dan ada kenikmatan senantiasa. Selain belajar menikmati Tuhan di dalam keadaan yang menderita, maka perlu juga belajar menikmati Tuhan di dalam segala keadaan yang baik dan berkelebihan. Saya mendapatkan anugerah untuk mengajarkan teorinya sekaligus mempraktekkannya selama Easter Camp tahun ini.

Hari Pertama
Datang hari Jumat tanggal 21 Maret, ke Ballarat yang lebih dingin dari Melbourne. Dari Endeavour Hills ke City lalu ke Ballarat. Pelajaran pertama dari teologi kenikmatan di dalam waktu dua jam perjalanan ke Ballarat, belajar menikmati Tuhan melalui ciptaanNya di sepanjang perjalanan.
Sampai di tempat tujuan, kesan pertama, Mid City Hotel yang akan dipakai sangat lumayan dibandingkan dengan uang yang dibayar. Anugerah yang Tuhan beri harus dipakai sebaik mungkin untuk memuliakan dan menikmatiNya.
Acara dimulai dengan Kebaktian Jumat Agung yang dipimpin Sen Sendjaya Ph.D, Lay Pastor ICC. Pembahasannya dari Yes 53:10, Bapa menikmati ketika menghukum AnakNya. Salib yang harus ditempuh, dinikmati oleh Allah. Tidak biasa kedengarannya, tapi benar.
Dilanjutkan dengan session pertama (What is Enjoyment?) sesudah lunch. Karena koki hotel dari Malaysia, maka masakannya sangat cocok dengan lidah Indonesia. Pembelajaran tentang Kenikmatan langsung dipraktekkan di Hotel yang enak dengan makanannya yang juga enak.
Session keduanya (Where is God when I enjoy?) di malam hari sesudah dinner berbentuk diskusi. Pak Sen dan saya membawakan bahan kita selama waktu yang ditentukan lalu dilanjutkan dengan diskusi.
Sesudah break setengah jam dengan snack dan ayam Nandos, dilanjutkan dengan Talk Show. Akhirnya bicara tentang panggilan dan kesaksian.

Hari Kedua
Hari ini acaranya lebih padat. Sesudah breakfast langsung masuk session ketiga (Where am I when God enjoy?). Break setengah jam, masuk session empat (How to Enjoy God). Session keempat ini bagi saya sangat menarik, karena bisa belajar cara pembelajaran yang baru. Pak Sen memberikan beberapa pertanyaan refleksi dengan melengkapi kalimat, sesudah masing2 menjawab dan menuliskan secara pribadi, diminta beberapa orang untuk mensharingkan apa yang ditulisnya. Terakhir, saya memberikan tanggapan sekaligus membagikan pergumulan tentang how to enjoy God.
Selesai session ini dilanjutkan dengan BBQ lunch di dekat kolam renang.

Sesudah itu ada Outdoor Games, pergi ke Lake Wendouree yang biasanya jadi tempat wisata di Ballarat. Sayang danaunya lagi kering. Tiga jam pada main2 dengan berbagai macam games dari panitia.
Sempat pulang dan istirahat dua jam, lalu dinner dan masuk session kelima (Forever Enjoy). Acaranya rededication, ditutup dengan calling.
Break sebentar, lalu dibagi menjadi dua kelompok yang sudah menikah dan yang belum menikah. Pak Sen memimpin 6 pasangan yang ikut, sementara sisanya saya yang pimpin dengan topik pernikahan. Wah, acaranya jadi seru banget dan kayanya waktunya kurang. Tapi, harus berhenti..

Hari Ketiga
Session terakhir adalah How to Enjoy His Blessings. Sesudah itu harus buru2 packing, foto2 dan lunch.
Peserta yang masih tersisa di hari ketiga, pada foto2..

Selesai foto2 Pak Sen memimpin acara penutup berupa sharing, evaluasi dan doa ucapan syukur. Sesudah itu lunch.
Selesai lunch, rencananya langsung ke Gereja di Melbourne. Tapi, terlalu cepat kalau langsung pulang, kecuali mereka yang mau latihan Choir. Akhirnya, sebagian pada cobain kopi di Ballarat sama makan pie. Enak juga pienya. Dari awal sampai akhir, from enjoyment to enjoyment.
Semoga kenikmatan yang berlimpah ini telah membuat kami belajar menikmati kelimpahan yang paling berlimpah, yaitu Tuhan sendiri yang adalah sumber kenikmatan.

Wednesday, November 14, 2007

Congkak dan Sombong

"Bukan yang congkak, bukan yang sombong,
yang disayangi, handai dan taulan..."

Kalimat di atas ini adalah sepotong lagu di masa kecil yang masih terus terngiang-ngiang. Kenyataannya, dosa membuat kecongkakkan dan kesombongan masih terus mengganggu di dalam hati ini. Semua orang pada dasarnya sombong. Bahkan orang yang kelihatan rendah hatipun sering menyombongkan kerendahan hatinya, meskipun itu dilakukan di dalam hatinya.

Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.
Amsal 21:4

Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
1 Petrus 5:5

Dalam Amsal 21:4, kecongkakkan dan kesomobongan ditunjukkan melalui mata dan hati. Mata seseorang ternyata bisa menunjukkan betapa berdosanya orang itu. Dari cara memandang, entah memandang terlalu tinggi kepada orang-orang tertentu, ataupun merendahkan orang-orang tertentu. Mata kita berbicara, betapa sombong dan congkaknya diri kita. Mata kita mewakili hati kita yang sombong. Itu sebabnya sangat gampang untuk mengenali orang sombong. Seseorang tidak perlu berbicara untuk memperlihatkan kesombongannya. Cara melihat kepada seseorang bisa menunjukkannya. Mata seseorang kadang-kadang bisa kelihatan menipu, tapi kalau diperhatikan lebih jelas dan teliti, maka hati seseorang bisa terlihat, karena mata adalah jendela hati. Itu sebabnya penulis Amsal mengaitkan antara mata dan hati yang sombong.

Yang lebih menarik, waktu penulis Amsal mengaitkan mata yang congkak dengan dosa. Bagi zaman ini, kesomobongan sudah dianggap lumrah. Memang ada yang kurang enak kalau melihat orang yang terlalu sombong. Tapi, kalau kesombongan yang wajar (emang ada?), yang tidak terlalu berlebihan akan kita anggap wajar-wajar saja. Apalagi kalau orang yang menunjukkan kesombongannya dan menunjukkan betapa hebatnya dirinya adalah orang yang memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Bagi kita, mungkin tidak apa-apa kalau orang itu kemudian menceritakan kehebatan dan kemampuannya, dan bahkan mempertontonkan semuanya yang akan membuat kita kagum.
Haruskah seseorang yang mempunyai banyak kelebihan dan kemampuan menunjukkan semua kemampuan dan kelebihannya? Motivasinya apa? Untuk menunjukkan betapa hebatnya dirinya? Ataukah ingin menunjukkan anugerah Tuhan yang harus dipakai memuliakanNya (yang ini jarang ada orang melakukannya)?

Ada perbedaan yang besar yang bisa dilihat dari cerita seseorang tentang kemampuan2 di dalam dirinya. Yang berpusat pada diri, akan menunjukkan semuanya dengan kebanggaan dan banyak menggunakan kata 'saya', bahkan penekanannya kepada usaha dan perjuangannya sendiri. Akibatnya, menjadi kurang menghargai orang-orang yang memiliki kemampuan yang hanya sedikit dan bahkan bisa menghina orang-orang seperti itu.
Sedangkan yang berpusat kepada Tuhan, tidak merasa terlalu perlu untuk menunjukkan kemampuan-kemampuannya yang hebat, kecuali pada saat dibutuhkan. Pada saat menunjukkannya, maka orang itu akan menunjukkan bahwa semuanya berasal dari Tuhan dan dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Ia tidak akan kurang menghargai orang-orang yang kemampuannya kurang, apalagi menghinanya. Ia juga tidak akan iri dengan orang-orang yang melebihi dirinya. Bahkan, kemampuan dan kelebihannya akan dipakai untuk menolong orang yang kurang dan orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih darinya tapi belum menyadari potensi kemampuan dan kelebihannya itu. Hal ini seringkali hanya menjadi mimpi di dunia yang berdosa ini. Karena semua manusia congkak dan sombong.

Penulis-penulis Alkitab bukan hanya mengatakan bahwa kecongkakkan adalah dosa, ternyata Allah sendiri menentang orang-orang congkak. Orang yang congkak dan sombong harus berhadapan dengan Allah. Mengapa? Kenapa dosa yang satu ini menjadi begitu serius? Sebagian besar orang mencoba menghubungkan dengan awal dari dosa yang disebabkan oleh Iblis. Kalau kita memperhatikan pelayanan Tuhan Yesus, maka Ia menerima dan melayani pemungut cukai, orang-orang berdosa dan bahkan para pezinah. Tetapi, ketika berhadapan dengan imam-imam, ahli Taurat dan orang Farisi yang sombong dan congkak, maka perkataan Tuhan Yesus, "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu" (Yoh 8:44).
Begitu juga dengan kesombongan Hawa yang tidak mengikuti perintah Allah dan memakan buah yang dilarang, karena ingin menjadi seperti Allah. Kesombongan yang membuat dosa hadir dan juga masuk ke dunia ini.

Selain itu, kesombongan ada kemiripan dengan penyembahan berhala. Kesombongan manusia menyebabkan manusia menyembah dirinya dan segala kemampuannya, yang sebenarnya adalah anugerah Allah. Pemberian Allah yang seharusnya dipakai untuk memuliakan dan menikmatiNya, ternyata diklaim sebagai milik pribadi, pencarian pribadi, usaha pribadi dan perjuangan pribadi, untuk menyembah diri sendiri dan mencari pujian dan penyembahan dari orang-orang disekelilingnya. Sama persis dengan penyembahan berhala.

Mengapa kita menjadi sombong? Jika yang kita miliki semuanya adalah anugerah Allah, apa yang bisa kita sombongkan? Waktu kita lahir, kita miskin dan belum bisa melihat semua yang sudah Tuhan anugerahkan dan siapkan bagi kita. Waktu kita mati, kita akan kehilangan semua yang sudah kita miliki dan menjadi miskin kembali. Lahir dalam keadaan telanjang, bodoh, miskin dan tidak bisa apa-apa. Matipun membuat kita miskin dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi di dunia. Adakah yang bisa dibanggakan manusia selama hidup di dunia? Ada! Tuhan satu-satunya yang harus dibanggakan, dipuji dan dimuliakan. Karena Ia adalah sumber segala sesuatu.
Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.
Mazmur 20:8

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Rom 11:36

Wednesday, July 4, 2007

Allah adalah Pribadi yang paling Menikmati

Dikutip dari buku Mari Menikmati!

Dalam hidup ini manusia biasanya hanya ingin melihat segala hal yang baik terjadi dalam hidupnya.Manusia biasanya menganggap dirinya tidak layak mengalami segala kesulitan, masalah, penyakit, bahaya, bencana alam dan segala hal yang negatif. Manusia menganggap dirinya bisa mendapatkan segala yang baik dalam hidupnya. Manusia jarang memikirkan bagaimana keinginan dan perasaan Allah dalam segala hal yang terjadi dalam hidup ini. Apakah Allah menikmati di dalam segala hal yang terjadi? Apakah Allah tidak berhak melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginanNya dan kenikmatanNya? Bukankah Ia yang merencanakan, mencipta, memelihara dan menyempurnakan semuanya untuk diriNya sendiri?!

Berbagai pandangan terhadap Allah bisa kita lihat di dalam berbagai macam agama dan kepercayaan. Allah bisa digambarkan dengan berbagai macam karakter yang menonjolkan kepada satu sisi. Kalau bukan Allah yang pengasih dan pemurah, maka Allah adalah Allah yang kejam, pemarah, gampang tersinggung, sering menyatakan murkaNya dan akan tenang kalau manusia memberikan persembahan atau korban. Hampir tidak ada yang menggambarkan Allah sebagai Allah yang menikmati, kecuali di dalam karakter dewa-dewi Yunani yang dianggap bersenang-senang dengan kenikmatan (sementara).

Kalau menyelidiki Alkitab, kita akan menemukan bahwa dalam beberapa bagian menggambarkan bahwa Allah adalah Allah yang menikmati.

Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dinikmati-Nya.
Maz 115:3 ROT (Ronald Oroh Translation)

Jarang ada orang yang memperhatikan kenikmatan Allah, karena manusia biasanya hanya memperhatikan kenikmatan dirinya sendiri dan hanya mempergunakan Allah untuk kenikmatan sendiri. Seharusnya kita melihat terlebih dahulu tentang kenikmatan Allah, baru bertanya tentang kenikmatan kita sebagai ciptaan.

Jika Allah bukan pribadi yang paling menikmati, maka hidup ini akan betul-betul terasa hambar dan tanpa kenikmatan sama sekali. Hidup menjadi seperti robot yang tanpa perasaan dan tidak mengerti apa itu kepuasan. Semuanya biasa dan tidak berarti. Tetapi, justru karena Allah adalah pribadi yang paling menikmati, maka hidup ini menjadi hidup yang penuh kenikmatan. Allah menyatakan kemuliaanNya, menikmatiNya dan bahkan membuat dunia ini penuh dengan kelimpahan kenikmatan, karena Allah adalah pribadi yang paling menikmati.

Sebelum dunia diciptakan Allah begitu menikmati keberadaanNya. Karena Allah memiliki tiga pribadi yang berada di dalam satu kesatuan keberadaan. Kalau Allah hanya satu pribadi, maka tidak ada persekutuan dan tidak ada kenikmatan. Ia baru bisa menikmati kalau ada ciptaan. Tapi, kalau banyak pribadi dan banyak keberadaan Allah akan membuat peperangan, kekacauan dan kebencian. Karena Allah adalah Tritunggal maka Allah menikmati tanpa membutuhkan ciptaan, dan kenikmatanNya adalah kenikmatan sempurna di dalam satu kesatuan.

John Piper di dalam bukunya Desiring God, mengubah pertanyaan pertama dan jawaban dari Katekismus Singkat Westminster. Apa yang menjadi tujuan paling akhir dari Allah (seharusnya manusia)? Jawabannya, tujuan paling akhir dari Allah adalah memuliakan diriNya dan menikmati kemuliaanNya.
Allah merencanakan, mencipta, memelihara dan tidak pernah meninggalkan ciptaanNya, serta menyempurnakan ciptaanNya bagi kemuliaan dan kenikmatanNya. Hal ini yang sulit dimengerti dan jarang ada orang yang mau mengerti. Tanpa menciptakan segala sesuatu (termasuk manusia), kemuliaan Allah sempurna dan Allah menikmati semuanya. Penciptaan sampai Penyempurnaan tidak membuat kemuliaan dan kenikmatan Allah berubah atau bertambah. Artinya, kalau Allah tetap menciptakan dunia dan segala isinya, menebusnya setelah jatuh dalam dosa, kemudian menguduskan, memelihara dan menyempurnakannya sampai pada akhirnya, untuk menunjukkan kepada ciptaanNya (khususnya manusia), betapa besar kemuliaan Allah dan bagaimana Allah menikmati semuanya. Tentu saja untuk mengajar manusia belajar menikmatinya juga.

Jadi kenikmatan Allah tidak bergantung dan berdasarkan kepada ciptaanNya begitu juga dengan manusia. Kenikmatan Allah tidak bergantung kepada seberapa besar manusia berespon. Allah bebas memuliakan diriNya dan menikmati semua kemuliaanNya. Termasuk dalam berbagai-bagai bencana alam dan musibah, Allah-pun bisa memuliakan diriNya dan Ia menikmatiNya. Mungkin sebagian orang bertanya, “Mengapa Allah menikmati di tengah penderitaan manusia?” Allah bukan menikmati penderitaan manusia, tetapi Ia menikmati ketika rencana-rencanaNya dilaksanakan, meskipun terlihat di mata manusia yang tidak bisa melihat big picture-nya sebagai musibah. Sebenarnya Allah mengijinkan/membiarkan semua bencana itu terjadi karena bisa menggenapi dan melaksanakan rencanaNya sampai pada akhirnya.
Banyak orang yang hanya bisa mengeluh, marah dan kecewa kepada Allah di dalam segala penderitaan, kesulitan dan bencana. Tetapi ketika melihat dalam jangka waktu berikutnya hal-hal yang terjadi akan membuat orang-orang yang percaya kepada Allah akan bersykur kepadaNya atas semua bencana dan kesulitan yang pernah dialami dan dilaluinya. Manusia marah dan kecewa karena hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak bisa melihat segala sesuatu sampai pada akhirnya.
Padahal sebenarnya segala bencana dan permasalahan yang terjadi dalam hidup manusia masih terlalu sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang sudah kita perbuat. Kalau dilihat sebagai penghukuman atas dosa-dosa kita, harusnya lebih banyak lagi musibah, bencana dan permasalahan yang harus dialami oleh manusia.

Ketika Allah menikmati semua yang dilakukan untuk kemuliaanNya, manusia tidak berhak untuk mengganggu dan memprotesnya. Karena semuanya adalah hak Allah untuk melakukan sebagai Pencipta. Sekalipun manusia menjadi korban, manusia tetap tidak berhak untuk memprotes Allah. Manusia biasanya tidak fair. Ketika manusia mengejar kenikmatan sementara dan tidak menghiraukan Allah dan bahkan melawan Allah, seringkali Allah membiarkannya dan tidak mengganggu, bahkan menyediakan segala kenikmatan yang dibutuhkan! Tetapi, mengapa kita memprotes kehendak Allah yang menikmati semua perbuatanNya sekalipun bertentangan dengan kehendak manusia?! Bukankah Allah berhak melakukan semuanya tanpa gangguan sedikitpun dari manusia yang merasa terganggu?!
Sebagian orang mengatakan, karena apa yang dilakukan Allah merugikan diri mereka. Bukankah yang kita lakukan sangat-sangat merugikan Allah dan sesama manusia? Kenapa kita bisa melakukan apa yang merugikan Allah dan sesama manusia, tetapi Allah tidak bisa melakukan apa yang dinikmatiNya, yang kelihatan sepertinya merugikan, tetapi sebenarnya untuk menggenapkan rencanaNya yang baik dan sempurna?

Meskipun kenikmatan Allah tidak bergantung sedikitpun kepada ciptaanNya, tetapi ketika ciptaanNya memuliakan dan menikmatiNya, maka Allah menikmatinya. Apakah hal ini akan menambah kemuliaan dan kenikmatan Allah? Jawabannya, tidak. Kalau begitu, untuk apa semuanya ini? Untuk manusia belajar tentang kemuliaan dan kenikmatan Allah serta bagaimana memuliakan dan menikmati Allah. Manusia mempunyai tanggung jawab sebagai ciptaan untuk semakin membesarkan Allah dan kemuliaanNya, melihat bagaimana Allah menikmati di dalam menyatakan kemuliaanNya dan manusia belajar menikmati seperti Allah menikmati dan tentu saja menikmati Allah yang merupakan sumber segala sesuatu. Tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab yang besar yang seharusnya dipelajari manusia seumur hidupnya.

Tuesday, May 8, 2007

From Glory to Glory

Richard L. Pratt dalam bab pertama bukunya Designed for Dignity menceritakan suatu artikel di suratkabar, "The Irony of Being Human"
Artikel ini menceritakan dua kejadian di hotel yang sama. Cerita pertama, seorang wanita bunuh diri. Sesudah meninggalkan suami dan kedua anaknya untuk pergi dengan kekasih barunya, sekarang ia ditinggalkan kekasihnya. Itu sebabnya ia bunuh diri. Polisi menemukan catatan, "Jangan tangisi aku. Aku tidak layak disebut manusia"
Peristiwa yang kedua, para penganut New Age Movement bersama-sama sedang meneriakkan, "Aku adalah allah, aku adalah allah"
Ironisnya menjadi manusia. Yang seorang merasa bukan manusia lagi, sementara yang sebagian merasa dirinya adalah allah. What about you?

JUDUL: 1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud.


A 2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. (Kemuliaan Tuhan)

........B 3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu
telah Kuletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu,
untuk membungkamkan musuh dan pendendam.
(Kemuliaan Manusia)


................C 4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu,
bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:
5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
(Kehinaan Manusia)

........B' 6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah,
dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu;
segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
8 kambing domba dan lembu sapi sekalian,
juga binatang-binatang di padang;
9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut,
dan apa yang melintasi arus lautan.
(Kemuliaan Manusia)

A' 10 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Kemuliaan Tuhan)

Mazmur 8 menggambarkan dengan jelas posisi manusia di hadapan Allah. Pusat dari mazmur ini, ada di ayat 2 dan ayat 10. Keduanya sama-sama berbicara tentang betapa mulianya nama Tuhan di seluruh bumi, bahkan mengatasi langit. Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk kemuliaanNya. Melihat bumi dan segala isinya membuat manusia seharusnya memuliakan Tuhan.

Bahkan manusia diberikan kemuliaan oleh Tuhan. Dari bayipun Tuhan sudah memberikan manusia kekuatan dan anugerah yang bisa dipakai untuk melawan musuh dan pendendam (ay.3). Kemuliaan dan keagungan manusia bukan didapat dari lingkungan dan pengakuan dari luar, melainkan pemberian Allah yang memahkotai dengan kemuliaan dan hormat (ay.6). Bahkan manusia diberi kekuasaan untuk mewakili Tuhan di bumi ini (7-9). Bukankah hal-hal ini merupakan anugerah yang luar biasa?! Manusia tidak perlu mencari uang, gelar dan jabatan untuk menunjukkan bahwa manusia berharga. Melainkan semuanya diberikan secara cuma-cuma, bahkan dimahkotai oleh Tuhan dengan kemuliaan dan hormat. Wow!

Sayangnya manusia jatuh dalam dosa. Akibatnya, muncul dua respon. Respon yang pertama, dinyatakan di dalam ay. 4-5. Melihat ciptaan Tuhan yang lain, manusia merasa tidak berharga dan tidak penting. Bahkan membandingkan dengan langit dan bintang2 (yg seharusnya kemuliaannya tidak lebih besar dari manusia), ternyata manusia tidak seberapa penting dan bersinar. Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Keberdosaan manusia membuat manusia tidak berharga sama sekali. Bahkan yang masih memiliki banyak halpun sering merasa tidak berharga dan tidak terlalu penting dibandingkan orang lain yang memiliki banyak kemampuan. Yang paling parah adalah mereka yang bunuh diri karena merasa tidak berharga lagi, tidak memiliki apa2 lagi, tidak memiliki siapa2 lagi dan bahkan ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Apa betul mereka yang butuh tidak ada apa-apa lagi, tidak ada harapan sama sekali?

Respon yang kedua, adalah orang-orang yang sombong. Karena mereka bisa melihat kemuliaan yang Tuhan sudah berikan dan membanggakan semuanya itu seolah-olah semuanya adalah pencapaian mereka secara pribadi dan bahkan menjadikan diri mereka adalah Allah. Mereka merasa lebih baik dari banyak orang yang lain dan merasa bisa melakukan apa yang mereka inginkan. Ah sombongnya... Betulkah mereka sehebat yang mereka pikirkan dan bayangkan?

Kedua respon ini bukanlah yang diinginkan oleh Tuhan. Perasaan yang tidak berharga seharusnya memang dimiliki oleh manusia, tetapi bukan dalam pengertian perasaan yg tdk berharga yang membuat dirinya tanpa harapan. Perasaan yg tidak berharga yang sejati adalah kesadaran bahwa kita berdosa, seluruh aspek hidup kita sudah dicemari oleh dosa, sehingga kita tidak bisa memberikan keselamatan bagi hidup kita melalui seluruh usaha kita. Hati kita hancur memikirkan dan mengingat semuanya, tanpa Tuhan kita tidak berarti sama sekali. Tetapi pada saat yang bersamaan di sisi yang lain, karena anugerah Tuhan yang menyelamatkan kita membuat kita melihat ada kemuliaan yang Tuhan sebenarnya sudah berikan kepada manusia. Bukan untuk dibanggakan dan mencari pujian manusia, melainkan untuk memuliakan nama Tuhan yang layak menerima segala pujian dan hormat.

Perasaan hina dan perasaan berharga seharusnya dimiliki dalam suatu paradoks untuk memuliakan Tuhan. Mazmur 8 memulai dengan kemuliaan Tuhan dan diakhiri dengan kemuliaan Tuhan. From glory to glory. Di dalam Chiasm mazmur ini, manusia diberikan kemuliaan, ketika jatuh dalam dosa hanya terlihat kehinaannya, tetapi kemudiaan dikembalikan kepada kemuliaan untuk memuliakan Tuhan.
Biarlah kita menjadi manusia yang mengerti seberapa hinanya diri kita di dalam dosa, tetapi juga begitu berharganya kemuliaan yang Tuhan sudah anugerahkan kepada kita, untuk memuliakan Tuhan.

Monday, May 7, 2007

Desiring God!?

Apa yang paling Anda inginkan di dalam hidup ini? Apa yang paling Anda impikan di dalam hidup ini? Kalau diberikan kesempatan untuk meminta tiga hal (kaya' lampu Aladin), apa yang menjadi permintaan pertama dan yang paling Anda inginkan?
Banyak orang meminta kenikmatan tetapi tidak tahu kenikmatan yang tertinggi, sehingga tidak memiliki keinginan yang tertinggi dan termurni. Sejak manusia jatuh dalam dosa, maka manusia berada di dalam ketidakpuasan kekal, tetapi tidak bisa mengerti bagaimana memuaskan dirinya. Semua keinginan dan permintaan manusia biasanya hanya berpuncak pada kenikmatan sementara, keinginan untuk menikmati sesama manusia (dengan pacaran, menikah dan keluarga), keinginan untuk menikmati dunia dan segala isinya (gelar, jabatan, materi, uang, rumah, mobil, dll) dan umur yang lebih panjang untuk menikmati semuanya. Tetapi, orang-orang yang sudah mendapatkan semuanya, ternyata masih merasa kosong di dalam hidup ini..Something is still missing.. But what is it?
Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mendapatkan semuanya? Sekosong apa hatinya?

25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. 26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. 27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. 28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.
Mazmur 73:25-28

Mazmur 73 ditulis oleh Asaf pada saat melihat sombongnya orang-orang fasik yang mendapatkan kelimapahan di dalam hidup ini. Mereka tidak sakit, malahan sehat dan gemuk tubuh mereka. Sepertinya mereka tidak mengalami kesussahan dan tidak ada musibah/bencana seperti yang dialami orang lain. itu sebabnya mereka begitu congkak dengan semua 'berkat' yang Tuhan berikan. Mulut congkak mereka bisa membual dan membuat banyak orang yang kagum dengan segala yang mereka miliki akan mengikuti mereka.

Sampai Asaf masuk ke dalam kekudusan Allah dan melihat kesudahan dari orang-orang yang sangat congkak itu. Kehancuran dan kedahsyatan penghukuman yang akan mereka dapatkan. Tuhan menuntun dan membawa Asaf melihat kemuliaan, sehingga ia memiliki penilaian yang berbeda tentang Allah dan dunia ini.

Dunia dan segala isinya ini ternyata tidak sebanding dengan Pencipta yang menyertai umatNya. Dunia dan segala isinya ini tidak akan berarti sama sekali tanpa pimpinan dan penyertaan Tuhan dalam menikmatinya. Maka, bagi Asaf di surga dan di bumi hanya satu yang paling diingininya, yaitu Allah. Desiring God. Keinginan ini membuat ia rela sekalipun seluruh hidupnya dan keinginannya terlihat gagal, tapi keinginan dan bagiannya hanyalah Allah.
Berapa banyak orang yang ingin mengikuti kehendak Allah, tapi tidak rela meninggalkan segala keinginan dan kenikmatan yang mungkin menggangu panggilan dan kehendak Allah? Berapa banyak orang yang kelihatannya ingin melakukan kehendak Allah sebenarnya hanya menunjukkan betapa besarnya keinginan terhadap dunia ini dibandingkan dengan Allah yang mencipta semuanya dan yang memberikan semua yang diinginkan hati manusia!?
Adakah keinginan terhadap Allah? Ya, ada tapi hanya untuk sekedar kebutuhan dirinya sendiri. Bukankah kita perlu memikirkan masa depan, bagaimana dengan keluarga, bagaimana dengan.... (masih ada seribu satu alasan yang lain).

Orang-orang yang mengenal Allah, bisa dengan jelas melihat kenikmatan yang tertinggi, yaitu sumber kenikmatan itu sendiri, Allah. Berkat-berkat yang ada di bumi ini tidak bisa menghalangi untuk menikmati Allah. Sedikit, berlimpah atau tidak ada sama-sekali, semuanya bisa dipakai untuk memuliakan dan menikmati Allah.

Asaf suka dekat dengan Allah, karena akibatnya ia bisa menceritakan segala pekerjaan Allah. Betapa hebatnya Allah, melebihi segala tokoh2 hebat yang pernah ada di dalam sejarah dunia ini (termasuk yang ada di dalam Alkitab). Semuanya hanya ciptaan dan Allah yang memberikan kehebatan yang mereka tunjukkan kepada dunia. Pekerjaan Allah bukan pekerjaan sementara (yang biasanya bisa menipu manusia yang suka melihat sesuatu yg begitu populer dan menarik perhatian), tetapi pekerjaan yang kekal. Allah bekerja bukan menggunakan orang-orang yang merasa hebat dan punya kemampuan besar (meskipun itupun pemberian Tuhan), tapi Ia bekerja memakai orang-orang yang merasa hancur hatinya dan merasa tidak berdaya jikalau tanpa Tuhan yang memimpin dan menyertainya. Keinginan dekat akan akan Allah ternyata membuat hidup kita yang lemah dan tak berguna ini bisa dipakai Tuhan untuk menceritakan perbuatan2 Allah yang besar dan dahsyat..

Banyak orang yang ingin bersaksi, tetapi tidak bisa bersaksi. Kesaksiannya akhirnya hanya menceritakan kehebatan manusia yang sementara dan tidak sempurna. Hanya dekat dan mengingini Allah, maka kita bisa mengenal kemudian bersaksi dan menceritakan perbuatan2 Allah yang ajaib dan dahsyat. Ia adalah Allah yang kekal dan perbuatan2Nya kekal. Bukankah hal ini yang seharusnya diingini dan dibutuhkan manusia!?

Thou madest us for Thyself, and our heart is restless, until it rest in Thee.
St. Augustine, Confessions.

Wednesday, March 28, 2007

Pengalaman Neraka

Pengalaman berada di dalama neraka pastilah tidak enak. Banyak orang yang tidak percaya kepada Allah justru menyukai neraka, karena berpikir bahwa mereka bebas melakukan dosa-dosa yang mereka sukai. Mereka tidak bisa melihat penderitaan dan kesulitan yang akan dialami di dalam api neraka. Konsep tentang dosa dan murka Allah tidak ada di dalam pikiran orang-orang seperti itu. Kalau di dalam dunia ini, perbuatan yang salah dihukum dan bahkan di penjara dengan segala keterbatasan, mungkinkah di dalam neraka orang-orang berdosa akan mendapatkan segala keinginannya? Apakah mereka bisa bebas berbuat dosa? Apakah mereka menganggap sepi murka Allah dan api neraka yang harus ditanggung? Seharusnya pengalaman neraka di atas kayu salib bisa dimengerti oleh mereka.

Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci :"Aku haus!"
Yoh 19:28

Membaca dan membayangkan kalimat Tuhan Yesus yang berkata tentang rasa hausNya, sebagian berpikir bahwa Tuhan Yesus kekurangan cairan. Berjam-jam di salib, sesudah dianiaya selama berjam-jam, memang seharusnya terjadi dehidrasi. Tetapi rasa haus ini seharusnya adalah rasa haus yang berbeda. Tuhan Yesus tidak secengeng itu, setelah melewati penderitaan dan penganiayaan yang tiada taranya, apakah mungkin Ia berubah menjadi cengeng dan minta minum?

Selain itu sebagian juga melihat bahwa kalimatNya hanya untuk menggenapkan nubuat yang ada di dalam Perjanjian Lama. Memang benar kalimat itu adalah penggenapan dari Mazmur 69:22 (ay.21 dlm versi bhs Inggris). Pertanyaannya, apa hubungannya dengan penyaliban Kristus? Hanya sekedar penggenapan dan tidak ada arti sama sekali dengan rencana penebusan?

Saya mencoba menafsirkan dengan cara berbeda, selain berbicara tentang penggenapan nubuat PL (meskipun mungkin bisa jatuh ke dalam alegoris).

Hausnya Tuhan Yesus adalah haus yang berbeda dengan haus yang biasa dialami oleh orang-orang yang disalib. HausNya disebabkan karena meminum cawan murka Allah. Lho? Minum , ko haus? Karena cawan murka Allah yang diminum adalah sebagian dari neraka. Saya membayangkan bahwa bagian orang-orang pilihan yang harus ditanggung di dalam neraka, itulah yang ditanggung dan diminum oleh Tuhan Yesus. bayangkan api neraka yang harus diminum dan ditanggungNya. Ini merupakan pengalaman neraka yang tiada taranya, membuat Tuhan Yesus seharusnya mengalami kehausan yang tiada taranya juga. Kita bisa membandingkannya dengan pengalaman orang kaya di dalam cerita orang kaya dan Lazarus (Luk 16:24). Orang kaya yang berada di dalam neraka meminta kepada Abraham agar menyuruh Lazarus mencelupkan jarinya ke dalam air dan memberikan kepadanya. Kehausan seperti apa yang dialami orang kaya itu di dalam nyala api itu? Kristus mengalaminya berkali-kali lipat.

Kalimat "Aku Haus" juga mengingatkan kita apa yang akan terjadi terhadap orang-orang yang melawan Allah. Kalimat itu akan menjadi teriakan mereka selama-lamanya. saat mereka harus menanggung dosa-dosa mereka sendiri di dalam api neraka.
Mengingatkan kita juga, bahwa ada banyak orang pilihan yang masih hidup dalam dosa, sedang berada dalam kehausan. Kita sekarang tidak berada di dalam kehausan itu lagi. Kristus sudah menanggungnya untuk kita, seharusnya kita juga membawa sang Air Hidup yang bukan hanya menanggung kehausan kita, tetapi juga memberikan jaminan Air Hidup yang kekal yang memuaskan hidup kita sampai selama-lamanya.

Apakah Anda termasuk orang yang berada di dalam kehausan? Belajarlah dari perempuan Samaria yang merasa mempunyai air, tetapi sesungguhnya kehausan. Sampai bertemu dengan Tuhan Yesus yang adalah Air Hidup, maka ia bisa dipuaskan.

Monday, March 26, 2007

Anda adalah Pengkotbah!?

Tulisan ini sebenarnya dipengaruhi oleh tulisan dari bukunya Martyn Lloyd-Jones, Spiritual Depression (dalam terjemahan Indonesia, Buluh yang Terkulai) dan kotbahnya John Piper, I Will Go to God, My Exceeding Joy. Sebenarnya secara pribadi sudah dipraktekkan dari dulu, tapi kaget ketika melihat ada yang membahas dan menjelaskan dasar Alkitabnya.
Apa gunanya kotbah kepada diri sendiri? Seberapa penting di dalam hidup orang percaya? Mengapa seharusnya kita melakukan hal ini? Mari kita lihat contohnya dari Pemazmur.

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Maz 43:5


Pemazmur di dalam keadaan yang begitu sulit. Ia dicurangi dan ditipu dan pemazmur merasa bahwa Tuhan telah membuangnya. Tetapi, ia bisa melihat bahwa altar Allah dan Allah sendiri adalah sukacita dan kenikmatannya. Itu sebabnya ia bertanya kepada jiwanya, mengapa jiwanya tertekan? bukankah ada sukacita di dalam kesulitan yang sedang dialaminya? Bukankah Allah adalah sumber sukacita dan Sang Sumber Sukacita tidak pernah meninggalkannya? Maka, menurut Martyn Lloyd-Jones, Pemazmur berkotbah kepada dirinya sendiri. Dan kotbah kepada diri sendiri merupakan salah satu aspek yang penting di dalam hidup orang percaya. Mengapa?
Sadar tidak sadar, setiap hari kita mendengarkan kotbah (firman). Masalahnya, firman seperti apa yang masuk dalam pemikiran kita, kemuadian membentuk sistem nilai dan ola pikir kita? Apakah firman yang disajikan oleh koran setiap hari? Firman yang disuguhkan televisi setiap hari? Tulisan-tulisan yang kita baca di dalam inbox dari e-mail kita? Perkataan dari rekan-rekan di kantor? Perkataan orang-orang yang kita dengar di dalam perjalanan? Perkataan dari orang-orang disekeliling kita waktu lagi makan? Perkataan orang tua atau saudara? Ataukah perkataan firman? Yang bisa menegur, mengoreksi, menguatkan dan mengubah hidup kita? Bukan berarti kita tidak boleh nonton tv, baca koran dan mendengarkan kalimat orang-orang. Tetapi, manakah yang paling dominan membentuk dan mempengaruhi hidup kita?
Ketika bergumul dan akan mengambil keputusan, suara-suara seperti apa yang berbicara di dalam hati kita? Sebagian orang membayangkan bahwa di dalam hatinya ada peperangan antara Iblis dan Malaikat. Dan ia sering menjadi korban karena mengikuti perkataan Iblis yang sepertinya lebih kuat dibandingkan dengan perkataan malaikat yang baik. Sebenarnya, diri kita yang sedang berperang dengan Iblis. Sama seperti Hawa yang dicobai oleh Iblis, kitapun tetap diijinkan oleh Tuhan berhadapan dengan pencobaan itu. Masalahnya, apakah kita mempunyai senjata firman yang bisa melawan firman Iblis? Apakah kita bisa mengkhotbahi diri kita pada saat tertekan dengan firman yang hidup dan berkuasa? Ataukah sama seperti sebagian orang yang tidak berdaya mengikuti rasionalisasi dan penjelasan Iblis, membuat cerita kejatuhan manusia di Taman Eden kembali terulang.
Bukankah seharusnya kita bisa melihat kuasa Kristus di dalam firmanNya yang sudah mengalahkan Iblis? Mengapa kita tidak pernah mempergunakannya? Mengapa bukan firman yang hidup dan memberikan sukacita sejati yang kita dengar pada saat kita dicobai, tertekan dan tidak berdaya? Jawabannya, karena kita tidak terbiasa dan berlatih mengkotbahkan firman kepada diri kita. Banyak yang hanya pasrah mendengarkan semuanya, sampai kemudian sadar kalau dirinya sudah terlalu jauh tersesat.Tetapi orang-orang yang mendengarkan firman Allah, bukan hanya bisa mengalahkan firman Iblis dengan kuasa Kristus melalui firmanNya, melainkan juga bisa membedakan di dalam setiap firman yang didengar, adakah yang sungguh amat baik yang merupakan anugerah Tuhan dan yang sudah dicemari oleh dosa. Setiap perkataan dan firman dari orang-orang dan media yang didengar mampu dibedakan dengan jelas dan bahkan ada anugerah Tuhan untuk memikirkan bagaimana transformasi yang sudah dicemari oleh dosa kepada apa yang berkenan dihadapan Allah. Saat-saat tertekan dan di dalam pergumulan, maka orang-orang ini tetap ada anugerah dan kekuatan untuk berkotbah kepada dirinya sendiri sesuai dengan firman yang biasa didengar. Bukan suara Iblis yang menjadi pegangan, tetapi suara Roh Kudus yang berbicara melalui firmanNya.
Banyak orang percaya yang ingin memiliki iman yang teguh dan tetap kuat di dalam segala keadaan, tetapi tidak diperlengkapi dengan firman. Akibatnya, komitmen yang kuat untuk beriman seringkali justru melihat kegagalan di dalam hidupnya. Sebagian lagi melihat mujizat bisa menjadi jalan keluar untuk perubahan hidupnya. Sedikit yang tetap melihat firman Allah yang memimpin hidupnya hari demi hari, dan berlatih untuk mengkotbahkan firman itu kepada dirinya sendiri.
Apakah Anda termasuk orang yang sedikit itu? Yang percaya kepada firman yang hidup? Dan terus mengkotbahkan firman yang hidup kepada diri sendiri? Selamat! Anda sudah menjadi pengkotbah..

Why are you cast down, O my soul, and why are you in turmoil within me? Hope in God; for I shall again praise him, my salvation and my God.
Psalm 42:11 ESV

Thursday, March 22, 2007

My Delight in Your Commandments

Zaman sekarang ini banyak orang sangat tidak menyukai hukum dan aturan. Kita sedang masuk dalam zaman yang menekankan kebebasan, yang kalau bisa tidak ada lagi aturan, larangan dan perintah. Anak-anak muda melihat orang-orang tua penuh dengan aturan dan perintah yang mengikat dan menyulitkan hidup yang seharusnya dinikmati. Begitu juga banyak orang melihat agama-agama. Bahkan Kekristenan juga menjadi agama yang penuh dengan aturan dan ikatan yang tidak memberikan kebebasan. Orang-orang yang kelihatan sebagai orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh adalah orang-orang yang bisa menahan diri sedemikian rupa sehingga menjadi orang-orang yang bisa menolak segala kesenangan dan kenikmatan (sama dengan konsep dari agama-agama dan kepercayaan yang sangat mengagumi para pertapa). Alkitabpun dilihat sebagai kumpulan peraturan dan hukum yang tidak ada habis-habisnya (sama seperti kitab hukum perdata dan pidana!?). Hanya orang-orang yang senang mempelajari hukum dan orang-orang yang lemah yang akan menyukainya. Tetapi tidak untuk pencinta dan kebebasan dan para pelanggar hukum (pendosa). Mengapa bisa seperti ini?

Untuk mengerti semua ini kita harus kembali ke dalam kitab Kejadian. Melihat kembali dan membandingkan Firman Allah yang disampaikan kepada Adam (Kej 2:16-17) dan firman Iblis yang disampaikan kepada Hawa (Kej 3:1).

16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej 2:16-17)

1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? (Kej 3:1)

Kalimat dari Tuhan Allah di dalam Kej 2:16-17, berisi dua hal:
- kebebasan kepada manusia untuk bisa menikmati semua pemberian Tuhan di dunia
- larangan yang kalau dilanggar akan membuat manusia mati dan tidak bisa menikmati lagi semua pemberian Tuhan

Sementara kalimat dari Ular (Iblis) dalam Kej 3:1, yang mengutip Kej 2:16-17, hanya berisi satu hal:
- semua tidak boleh dinikmati!!!

Mana yang benar? Mana yang cocok dengan hidup sekarang ini? Kelihatannya kalimat dari Iblis sangat cocok untuk hidup manusia sekarang ini. Tuhan seolah-olah mencipta dan mengijinkan manusia hidup di dunia ini tetapi melarang manusia menikmati segala sesuatu. Orang yang beriman adalah orang yang bisa menolak segala kenikmatan dan hidup menderita!? Iblis sepertinya benar!? Tetapi tunggu dulu.
Mari kita bedakan antara yang dulu, sekarang dan nanti. Mari kita lihat dengan lebih jelas perbedaan antara sebelum manusia jatuh dalam dosa (dulu), sesudah di dalam dosa (dulu dan sekarang dan bagi sebagian besar orang sampai selama-lamanya), sesudah diselamatkan oleh Kristus (sekarang dan nanti), dan di dalam kekekalan (nanti).
Sebelum manusia jatuh dalam dosa, Firman Tuhan membawa manusia kepada kebebasan untuk menikmati dunia dan segala pemberian Tuhan. Tuhan memimpin hidup manusia lewat FirmanNya, membuat manusia dengan bebasnya dan bahagianya menikmati semuanya. Semua boleh, kecuali hanya satu yang dilarang. Ini adalah kebebasan yang sangat diidam-idamkan manusia di zaman ini, tetapi tidak didapatkan lagi oleh manusia meskipun berbagai cara sudah dilakukan dan diusahakan.
Tetapi, karena tipuan Iblis membuat manusia menginginkan lebih dari segala kenikmatan dan kebebasan yang sudah diberikan. Manusia ingin menjadi seperti Allah dan menikmati apa yang dilarang. Masih kurangkah kenikmatan Hawa dan Adam?
- Relasi dengan Allah. Bisa menikmati Allah dan FirmanNya (langsung tanpa perantara Imam, Pendeta atau apapun yang merasa jadi hamba Tuhan). Tidak perlu bertapa, tidak perlu berdebat dengan sesama manusia untuk menafsirkan Allah.
- Relasi dengan manusia. Bisa saling menikmati sesama manusia dengan sebebas-bebasnya (bahkan tanpa baju, ini yang diinginkan secara sembunyi-sembunyi oleh manusia). Tidak ada problem rumah tangga (bahkan adanya puisi dan lagu romantis dari Adam utk Hawa!?-ini yang diinginkan para wanita dari kekasihnya). Tidak ada yang harus dicemburui dan selingkuh (ga ada orang lain soalnya). Bebas bicara dan bercengkerama berdua. Dunia hanya milik berdua (ini yang diinginkan orang-orang yang lagi kasmaran dan lagi bulan madu).
- Relasi dengan dunia. Bisa menikmati dan bermain dengan semua binatang (melebihi kemampuan Tarzan) dan tentu saja menikmati pekerjaan, pemandangan yang terindah (Adam dan Hawa sering tur dan kagum dengan segala keindahan dunia yang betul-betul natural dan untouchable, lebih indah dari Swiss, New Zealand, apalagi Bali) dan tentu saja bisa menikmati makanan yang bergizi, bebas sampai kenyang (Adam paling suka buah apa ya? Duren!?).
Kurang apa lagi??!
Yang kurang adalah kesadaran melihat bahwa semua anugerah Allah yang memberikan kebebasan adalah gratis dan manusia hanyalah ciptaan. Akibatnya, manusia ingin memiliki lebih dari apa yang namanya anugerah dan ingin menguasai segala sesuatu, menjadi seperti Allah, yang kelihatan bebas sebebas-bebasnya. Maka masuklah manusia dalam perangkap Iblis dan memulai tahap baru dalam sejarah manusia. Bagaimana manusia melihat Tuhan dan FirmanNya? Tepat seperti kalimat Iblis dalam Kej 3:1. Semua tidak boleh. Tuhan berubah menjadi Tuhan yang jahat dan melarang semuanya. FirmanNya menjadi kumpulan dari perintah-perintah yang berisi semuanya larangan. Bagi manusia, Tuhan dan FirmanNya menjadi sangat menakutkan (Kej 3:8-10). Selama manusia hidup dalam dosa, maka manusia berada di dalam ketidakbebasan, diikat dalam dosa. Semakin melihat kepada Firman, maka semakin melihat bahwa dirinya terikat dan tidak bebas. Maka Tuhan menjadi Tuhan yang menakutkan. FirmanNya hanyalah perintah-perintah dan larangan yang mengikat dan membuat hidup menderita. Bahkan sebagian orang Kristen masih melihat Tuhan dan Alkitab dengan cara seperti ini. Betulkah Tuhan dan FirmanNya itu menakutkan dan tidak membebaskan, serta membuat hidup hanya terus-menerus dalam penderitaan?
Ketika seseorang diselamatkan oleh Allah dan hidup dalam relasi dengan Kristus, maka ada perubahan yang terjadi. Di satu sisi, karena perubahan kita masih dalam proses dan masih melakukan perbuatan dosa, maka bayang-bayang ketidakbebasan dan keterikatan masih sering muncul dan mengganggu. Itu sebabnya, banyak yang bereaksi dengan melarang segala sesuatu dengan tujuan agar terhindar dari keterikatan dengan dosa, tetapi kalau berlebihan maka membuat terikat kepada hukum (legalisme) dan menderita yang tidak perlu. Di sisi yang lain, kita sudah dibebaskan dari dosa. Dan bebas berhadapan dengan Allah dan menikmati segala kelimpahan anugerahNya. Firman Tuhan bukan dilihat hanya sekedar larangan. Tetapi bisa melihat cinta kasih Tuhan dibalik semua larangan. Hidup bersama Tuhan bukan dilihat sebagai keterikatan, tetapi kebebasan!, yang tidak bisa diberikan oleh dunia hanya berusaha mengikat, menjerat dan tidak pernah mau melepaskan sampai mati. Penderitaan tetap ada karena ingin untuk hidup dalam keterikatan yang lama yang diajarkan oleh Iblis dan dunia. Dunia berusaha membuat kita melihat bahwa kenikmatan yang sebenarnya hanyalah sebuah penderitaan (hati-hati dengan fenomena).
Firman Tuhan menjadi sesuatu yang hidup. Bahkan perintah-perintah dan larangan bisa menjadi kesukaan yang bisa dinikmati dan dicintai, karena perintah dan larangan bukanlah suatu keterikatan. Tuhan bukan hanya menjadi Pribadi yang menakutkan, tetapi juga adalah Pribadi yang begitu mengasihi, memberikan harapan, tempat perlindungan dan tentu saja adalah Tuan. Sang Tuan tidak mengikat budakNya. Relasi Kasih antara sang budak dengan Sang Tuan tidak akan pernah putus dan terpisahkan (Rom 8:31-39). Tetapi sang Tuan tidak pernah memaksa budakNya untuk melayaniNya, melainkan membebaskan sang budak dengan melihat prinsip-prinsip dalam FirmanNya untuk berinovasi dengan kebebasan untuk melayani sesama budak.
Firman Tuhan membukakan mata yang biasanya hanya melihat fenomena untuk bisa melihat fakta yang sesungguhnya, dan bahkan sanggup membedakannya dengan firman Iblis yang terus-menerus menipu. Firman Tuhan betul-betul mengubah, membebaskan, mengoreksi, menegur, mendidik dan melatih hidup orang percaya untuk sampai kepada keadaan yang betul-betul bebas menikmati segala sesuatu di dalam kekekalan.
Di dalam bumi yang baru dan langit yang baru, ada kebebasan spiritual, memuliakan, memuji dan menyembah serta menikmati Allah; kebebasan berelasi dengan sesama manusia (bukan dgn hubungan seks, karena tujuan hubungan seks sudah mencapai puncaknya: bertambah banyak penuhi bumi-orang pilihan sudah lengkap; serta relasi manusia yg paling intim untuk saling memahami dan menikmati sudah dimengerti manusia tanpa harus berhubungan seks); kebebasan menikmati bumi dan langit yang baru. Tuhan memberikan Alkitab kepada manusia, agar manusia dibebaskan. Maka, marilah kita di dalam anugerah kebebasan itu, mencintai dan menikmati FirmanNya.

For I find my delight in your commandments, which I love.
I will lift up my hands toward your commandments, which I love, and I will meditate on your statutes.

Psa 119:47-48 ESV



Monday, March 19, 2007

Nyepi, Sepi, Kesepian: Silence is Golden?

Hari ini adalah hari Nyepi. Satu hari penuh umat Hindu, khususnya di Bali, kita bisa melihat tidak ada kegiatan sama sekali. Ada 4 larangan yang tidak boleh dilakukan oleh umat Hindu pada hari ini. Amati geni atau tidak ada api, amati karya atau tidak bekerja, amati lelanguan atau tidak ada hiburan dan kenikmatan, serta amati lelungan atau tidak boleh melakukan perjalanan. Saya tidak ingin membahas tentang hari Nyepi. Kalau ada yang tertarik, silahkan lihat di Hari Raya Nyepi.
Di tempat-tempat lain, banyak orang yang mencari tempat-tempat sepi sesudah hidup dalam kebisingan selama hari-hari kerja. Vila-vila di Puncak, Bogor, atau di Lembang, atau dimanapun tempat yang dianggap sepi dan memberikan privacy terlihat penuh. Masihkah itu sepi?
Ada banyak orang yang hidup di dalam tempat-tempat yang sepi, merasa sepi dan malahan merindukan ada keramaian. Ingin bertemu dan berkenalan dengan lebih banyak orang lagi. Ingin melihat apa itu kKeramaian bagi mereka sepertinya melambangkan kegembiraan dan sukacita. Sementara di hari-hari libur, tempat-tempat hiburan kelihatan ramai dan jalan ke tempat-tempat seperti itu menjadi macet. Ada banyak orang yang dalam keramaian, berbicara, bercanda tetawa, tetapi sebenarnya kesepian di dalam hatinya.
Tulisan ini adalah pergumulan pribadi tentang sepi dan kesepian di hari Nyepi!?

Saat menulis semua ini saya sedang menonton Larry King Live di CNN, kadang2 pindah channel ke ESPN untuk lihat ulangan FINAL SCORE dan ke Metro News utk lihat berita di Indonesia. Di luar bunyi bor, karena di sebelah kamar saya sedang pasang kabel untuk internet. Dan suara hi-finya juga tidak ketinggalan. Akhirnya suara hi-fi dikecilin karena ada yang teriak untuk dikecilin suaranya. Dan tentu saja perut saya agak menggangu, lapar. Keadaan waktu merenungkan firman dan menulis renungan ini sepi? Ga! Ribut luar biasa. Padahal ini hari Nyepi!? Ya, ini Jakarta bukan Bali.

1 TO THE CHOIRMASTER: ACCORDING TO JEDUTHUN. A PSALM OF DAVID. For God alone my soul waits in silence; from him comes my salvation. 2 He only is my rock and my salvation, my fortress; I shall not be greatly shaken. 3 How long will all of you attack a man to batter him, like a leaning wall, a tottering fence? 4 They only plan to thrust him down from his high position. They take pleasure in falsehood. They bless with their mouths, but inwardly they curse. Selah 5 For God alone, O my soul, wait in silence, for my hope is from him.
ESV Psalm 62:1-5

Banyak orang Kristen setiap hari mencari waktu untuk diam dan bersaat teduh. Sebagian karena diajarkan bahwa orang Kristen yang baik harus bersaat teduh. Sebagian lagi karena ingin mencari keteduhan. Ada lagi yang memang ingin dipimpin dan diubahkan oleh kebenaran. Di saat-saat tertentu, ada acara-acara camp/retreat untuk menghindar dari kebisingan dan kesibukan, dan tentu saja ingin berdiam dan dekat lagi dengan Tuhan. Apakah keberadaan dan kedekatan dengan Tuhan hanya berhubungan dengan sepi, diam, tenang? So, silence is golden.
Kalau dipikirkan lebih lanjut, sebenarnya yang lebih penting apakah keadaan yang tenang dan diam ataukah ketenangan di dalam hati kita? Apakah ketenangan hanya ada di dalam keadaan yang tenang dan sepi? Mengapa banyak orang yang berada di dalam keadaan yang sepi dan tenang, tetapi ternyata hidupnya tidak ada ketenangan? Dan mengapa orang-orang yang hidup dalam keramaian banyak orang yang merasa kesepian?
Mari kita melihat ke dalam Maz 62:1-5. Saya sengaja mengambil dalam veris ESV, karena terjemahannya lebih jelas dibandingkan dengan beberapa versi lain dan tentu saja dibandingkan dengan LAI. Dalam ay 1 dan 5 (LAI ay 2 dan 6), Daud mengatakan bahwa yang silence itu jiwanya. Dia dengan tenang dan diam menunggu Tuhan yang adalah keselamatan. Maka yang lebih penting sebenarnya nyepi di dalam jiwa kita. Tujuannya menunggu Tuhan. Karena banyak orang yang terbiasa untuk mengajar dan mendidik dan bahkan memperbudak Tuhan dengan doa dan keinginan2nya. Sedikit yang ingin diam, menunggu dan berharap didikan dan tuntunan Tuhan dalam hidup ini.
Bagaimana dengan keadaan? Banyak orang beralasan bahwa mereka bisa berkonsentrasi berdoa, membaca firman dan merenungkan firman kalau keadaannya betul-betul tenang. Sambil mengutip bagaimana Tuhan Yesus pada pagi hari mencari tempat yang tenang dan sepi untuk berdoa. Saya tidak menolak bahwa keadaan yang sepi bisa membawa kita lebih konsentrasi kepada Tuhan. Tetapi, menjadi satu pertanyaan. Apakah kita hanya bisa mendengar dan berkomunikasi di dalam keadaan seperti itu? Artinya, bagi orang-oran gyang hidup di tengah kota besar dengan segala kesibukan dan kebisingan, maka Tuhanpun tidak hadir dan tidak bisa dengar. Apakah Tuhan hanya berbicara atau bisa di dengar oleh orang-orang yang berada di dalam biara yang tenang, atau tempat-tempat retreat yang sepi. Itu sebabnya, semakin banyak atheist praktis di dalam kekristenan!?
Kalau kita bandingkan dengan pergumulan Daud di dalam Mazmur 62, dari ayat 3-4, keadaannya bukan dalam keadaan tenang. Tetapi dalam keadaan yang sedang diburu dan tentu saja Daud dibuat sibuk. Tetapi kesibukan dan keadaan yang menggangu, tidak membuat Daud tidak berdiam dan jiwanya tenang di dalam Tuhan. Ini bukan masalah latihan meditasi di dalam kesibukan dan memproyeksikan diri kepada Tuhan. Tetapi, ini berbicara tentang relasi erat yang terus-menerus dengan Allah. Keadaan tenang atau keadaan yang bisaing, menggangu, menakutkan, tetap bisa membuat Daud semakin mengenal Allah. Maka Daud mengatakan di dalam pengenalannya kepada Allah, "Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah." Bukan keadaan yang tenang yang membuat Daud tenang, tetapi relasi dan pengenalan dengan Tuhan yang membuat Daud Nyepi dan tenang. dan bahkan dalam kebisingan, kesulitan dan kesibukannyapun Daud makin bisa mengenal Allah.
Seandainya kita mengerti hal ini, maka setiap waktu dan segala keadaan (Nyepi atau sibuk), sesungguhnya ada terlalu banyak berkat yang Tuhan anugerahkan kepada kita untuk mengenal Allah dan mengenal diri kita.
Relasi dengan Allah akan membuat kita tidak akan pernah kesepian dan mencari waktu khusus untuk alone with God. Karena seluruh waktu kita, kita terus alone with God, berdiam dan menunggu dia. Waktu-waktu Sabat kita akan berdiam dan menungguNya, waktu-waktu bekerja adalah waktu-waktu kita bekerja dalam kebisingan dan kesibukan sedangkan jiwa kita sering berdiam dan menungguNya. Waktu libur adalah waktu untuk jiwa kita mengenal Dia. Ah, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dan Ia mengijinkan banyak hal di dalam segala keadaan untuk berbicara kepada kita. Selama kita berada di dalam relasi yang erat dengan Allah, maka jiwa kita akan diam dengan tenang, terus-menerus menunggu dan peka dengan keinginan dan kehendak Allah. Kita tidak akan pernah kesepian di dalam Nyepi Jiwa. Selamat ber-Nyepi.. May God speaks in silence.

For God alone my soul waits in silence; from him comes my salvation. He only is my rock and my salvation, my fortress; I shall not be greatly shaken.